RADAR JEMBER - Awal musim yang buruk kerap meninggalkan bekas mendalam, baik di klasemen maupun dalam persepsi publik.
Hal itu pula yang dialami Lazio asuhan Maurizio Sarri. Tiga kekalahan dalam empat laga awal Serie A melawan Como, Sassuolo, dan rival sekota AS Roma langsung membentuk narasi negatif: kecurigaan, kritik, dan urgensi. Situasi ini diperparah oleh ketegangan antara manajemen klub dan tifosi, serta blokir pasar transfer yang tak terduga.
Start mengejutkan tersebut membuat Lazio langsung berada di bawah tekanan.
Baca Juga: Striker Muda Inter Milan Ini Harganya Tiba-tiba Melesat, Kenapa?
Sarri dipaksa bekerja dalam kondisi serba darurat, dengan skuad yang tak pernah benar-benar lengkap.
Cedera, skorsing, dan rotasi paksa menjadi menu harian, sehingga banyak keputusan teknis lebih didorong oleh keterbatasan pemain ketimbang keyakinan taktis.
Namun, seiring berjalannya waktu, arah permainan Lazio perlahan berubah. Sejak pekan kelima, Biancocelesti mulai menemukan keseimbangan.
Bukan lewat permainan indah, melainkan melalui pendekatan yang lebih pragmatis dan solid. Jika hanya menghitung poin sejak periode tersebut, Lazio sejatinya berada di posisi keempat dengan 20 poin, di bawah Inter (27), Milan (23), dan AS Roma (21), serta unggul tipis atas Napoli dan Bologna (19).
Data ini perlu dibaca secara proporsional.
Baca Juga: FIX kah? Enzo Maresca Musim Depan Out dari Chelsea, Ada Kode ke City?Sebagian besar tim papan atas, kecuali Roma, masih memiliki satu laga tunda karena tampil di Piala Super Italia di Arab Saudi.
Meski belum sepenuhnya mencerminkan laju menuju Liga Champions, performa Lazio sudah cukup kredibel untuk persaingan zona Eropa dan, yang terpenting, menjadi jawaban nyata setelah awal musim yang nyaris merusak segalanya.
Sarri memang harus membayar mahal akibat start lambat dan proses membangun ulang. Namun di tengah kesulitan, ia mampu menggali potensi tim.
Baca Juga: Lini Depan Liverpool Makin Buram, Isak Cedera Parah, Arne Slot Dibikin Pusing
Lazio belajar bertahan lebih rendah saat dibutuhkan, menang tanpa harus mendominasi, serta menghidupkan kembali pemain-pemain yang sebelumnya dianggap tak lagi relevan.
Fondasi utama kebangkitan ini adalah pertahanan. Hingga 16 pertandingan liga, Lazio mencatat sembilan clean sheet dan menjadi tim dengan pertahanan terbaik kedua setelah Roma.
Mereka hanya kalah dari Inter Milan dan AC Milan di San Siro, serta mampu bertahan dalam laga-laga sulit, meski kerap diwarnai keputusan wasit kontroversial yang memengaruhi hasil pertandingan.
Kini, setelah fondasi itu terbentuk, Lazio memasuki fase baru.
Dibukanya kembali bursa transfer memberi kesempatan bagi manajemen untuk mendukung Sarri secara konkret dan memaksimalkan kerja keras yang telah dilakukan. Target berikutnya adalah mengubah sekadar bertahan hidup menjadi proses pertumbuhan yang nyata.
Start buruk musim ini tetap menjadi beban yang memperlambat laju.
Namun perjalanan setelahnya menunjukkan bahwa Sarri mampu mengembalikan Lazio ke jalur yang masuk akal. Kini, giliran klub untuk memastikan upaya tersebut tidak sia-sia dan membuat sisi lain dari cerita ini semakin terlihat jelas.
Editor : M. Ainul Budi