RADAR JEMBER - Dalam siaran Viva El Futbol, Lele Adani kembali menyeret perhatian publik sepak bola Eropa pada satu hal yang, menurutnya, membuat Inter berdiri berbeda di antara raksasa-raksasa benua Eropa
“Saat menonton Inter Milan,” ujar Adani, “ada sesuatu yang selalu kembali terngiang di kepala saya. Inter itu unik, teman-teman. Mereka bergerak dengan ritme yang tidak ditiru siapa pun. Cara mereka mengalirkan bola, membuka ruang, dan memutar permainan… di Eropa tak ada tim lain yang berani melakukannya seperti itu.”
Baca Juga: Chivu Komentari Hasil Kalah Inter Milan dari Liverpool: Harusnya Kami Dapat Imbang
Sang analis menghubungkan harmoni permainan Inter dengan memori akan Manchester City di masa pertama Pep Guardiola — masa ketika inovasi tak hanya terlihat, tetapi terasa.
Para pelatih top, lanjut Adani, mengagumi keistimewaan itu.
Baca Juga: Peresmian Stadion Baru AS Roma Ditunda? Kenapa?
“Fabregas pun mengaku mempelajari Inter. Mereka melihat sesuatu yang lain. Saat menghadapi para raksasa, keunikan Anda diakui — kadang tidak ditakuti, tapi dihormati. Lawan bisa saja menyoroti kelemahan, namun mereka tidak bisa mengabaikan identitas Anda.”
Adani kemudian menyebut para pemain yang baginya menjadi sampul harmoni tersebut.
“Akanji berada di liga tersendiri — di sini ia menemukan bentuk terbaiknya. Dumfries pun menyatu dengan keunikan ini: Inter membangun pertahanan yang dalam, menyedot energi lawan, dan tak gentar menghadapi tekanan. Mereka berputar dan bergeser seperti City-nya Pep. Dumfries bukan penakluk tim bertahan, tapi dalam ruang terbuka, dia menebas garis lawan dengan kecerdasan yang jarang.”
Baca Juga: Pulisic Bongkar Rasanya Ia Cetak Dua Gol Bantu AC Milan Comeback, Ada Luka?
Dengan gaya permainan berani, rotasi yang hidup, dan identitas yang tak mudah ditiru, Inter — dalam pandangan Adani — berdiri sebagai sebuah orkestra tunggal di Eropa, memainkan melodi yang tak dapat disalin siapa pun.
Editor : M. Ainul Budi