radar jember - Sebuah ide gila datang dari pelatih kepala AS Roma Gasperini.
Salah satunya soal Pellegrini akan bermain di posisi terdepan. Hal itu tertuang dalam wacana, eksperimen, dan malam-malam refleksi.
Gian Piero Gasperini tahu betul derbi Roma melawan Lazio pertamanya tidak seperti pertandingan lain.
Dalam keheningan Trigoria, ia menguji berbagai solusi, tetapi justru satu keraguan terbesar yang menghantuinya berkaitan dengan nama yang tak pernah bisa dianggap sekadar pemain: Lorenzo Pellegrini.
Keraguan tentang tiga perempat
Absennya banyak pilar membuat situasi semakin genting: Dybala dan Bailey masih menepi, Wesley belum pulih dari virus perut, sementara Hermoso absen akibat cedera betis.
Dalam kondisi darurat ini, Gasperini mulai menimbang langkah berani sekaligus penuh risiko: mengembalikan Pellegrini ke dalam sebelas inti.
Sang kapten, meski belum berada di kondisi fisik terbaik setelah lama menepi, masih membawa aura kepemimpinan yang tak tergantikan.
Ia bisa mengawal lini tengah, meski hanya untuk satu jam permainan. Sebuah pilihan yang bukan sekadar teknis, tetapi simbolis: kehadiran seorang kapten di derby adalah pesan sekaligus taruhan.
Alternatif yang lebih ringan
Jika Gasperini memilih jalan yang lebih hati-hati, maka ruang akan diberikan kepada Niccolò Pisilli — lebih segar, lebih bebas dari beban, tetapi jelas tak memiliki kharisma dan pengalaman nomor 7. Di sektor tengah, duet Cristante–Koné tetap solid, dengan Soulé dan Ferguson mengamankan posisi di depan.
Sayap kiri kemungkinan masih ditempati Angeliño, kanan diisi Rensch, sementara Tsimikas disiapkan untuk panggung Eropa.
Pellegrini sudah gelisah
Di luar analisis dan strategi, ada bahasa yang lebih kuat: bahasa emosi. Pellegrini sendiri telah mengirimkan isyarat lewat unggahan yang ditujukan pada Curva Sud, seakan berkata bahwa dirinya ingin hadir dalam pertempuran yang paling penting bagi seorang anak Roma.
Gasperini memahami betul makna ini, dan justru karena itulah ia belum mengetukkan palu keputusan.
Editor : M. Ainul Budi