Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Penyakit Lama AC Milan Ini Kumat, Analisa Cetek Lini per Lini Hingga Kritikan Menohok untuk Allegri

M. Ainul Budi • Senin, 25 Agustus 2025 | 02:50 WIB
Santiago Gimenez
Santiago Gimenez

radar jember - Laga pembuka AC Milan di liga Serie A musim ini diwarnai kekalahan di kandang sendiri oleh tim promosi, Cremones.

Banyak yang menyebut, terutama dari kalangan Milanistis, bahwa Milan terjangkit penyakit lama.

Yakni, penyakit lama AC Milan selalu kesulitan menembus tim-tim yang bermain 'parkir bus'. Salah satunya permainan yang diterapkan Cremonese dengan kompak deffend.

Yakni bermain solid, kompak dan disiplin di lini belakang.

Berikut ini salah satu analisa pemain AC Milan di laga kemarin. 

Pemain baru Milan, Pervis Estupian tampil dari menit awal. Ia tampak masih demam panggung. 

Selanjutnya di babak kedua, Pervis diganti Alex Jimenez oleh Allegri.

Sementara itu di lini belakang, Tomori tampil lugas. Hanya saja, beberapa kesalahan positioning masih menjadi kelemahannya. Lemah dalam menjaga lawan.

Sama seperti Pavlovic. Terlepas dari golnya. Pavlovic bisa dianggap bermain flop di lini belakang. Dua gol lawan berawal dari umpan silang yang gagal diantisipasi bek Milan.

Luka Modric, Penampilannya secara individu sangat bagus. Dari umpan hingga jarak tempuhnya, semuanya baik.

Dia juga hampir cetak gol dengan tendangan kerasnya.

Baca Juga: Sosok Dua Batang Kayu di Lini Tengah AC Milan, Malah Luka Modric yang Diganti Allegri, Keputusan Tak Masuk Akal

Dari segi teknis, tidak ada masalah. Namun menempatkannya di depan pertahanan memang membuatnya kurang maksimal.

Di Madrid, ia tidak pernah bermain di posisi ini, melainkan beberapa meter lebih maju dimana kreativitasnya bisa lebih berguna.

Selain itu ada Alex Saelemaekers : Pemain Belgia ini merupakan salah satu dari sedikit pemain yang paling terlihat semalam.

Kerja kerasnya mendasari assist estupinan untuk gol Pavlovic, etos kerjanya juga sangat baik. Saele termauk pemain yang paling "mengerahkan segalanya".

Berbeda dengan dua pemain ini yang dianggap bermain Flop.

Ruben Loftus Cheek : Di babak pertama, hampir tidak melakukan apapun selama fase build-up. Sesekali masuk ke kotak penalti, tetapi hasilnya juga tidak memuaskan.

Ia juga tidak banyak membantu fase pertahanan. Sejujurnya, tidak jelas apa peran Ruben Loftus kali ini.

Selanjutnya ada Youssuf Fofana : Secara konsisten kita melihat banyak tembakan yang sangat buruk, memaksa dan kali ini itu tidak bisa diterima.

Fofana juga bersalah pada gol kedua ketika ia dengan malas membiarkan Bonazzoli bebas di kotak penalti, yang menciptakan situasi sulit 1 vs 2 untuk Alex Jimenez.

Kesimpulannya, Fofana dan Loftus adalah gelandang yang suka berlari, mereka bukan gelandang kreatif dan ketika menghadapi ruang sempit akan kesulitan.

Keduanya mungkin lebih cocok jika bermain counter attack melawan tim yang terbuka, tapi hampir pasti akan buntu jika melawan tim yang bermain dengan garis pertahanan rendah.

Pada akhirnya, kekalahan Milan memang diawali tidak solidnya lini tengah, Fofana dan Loftus terlalu banyak melakukan upaya sia sia, mereka juga terlalu jauh meninggalkan Modric sendirian.

Editor : M. Ainul Budi
#san siro #Fofana #Ruben Loftus Cheek #luka modric #ac milan #Pulisic #Rafael Leao #cremonese #seri a #emil audero