SURABAYA, Radar Jember - Lonceng kematian bagi ambisi PSBS Biak di kasta tertinggi sepak bola Indonesia akhirnya berbunyi nyaring di Stadion Gelora Bung Tomo.
Dalam sebuah pertunjukan dominasi yang brutal pada Sabtu (2/5/2026), Persebaya Surabaya tanpa ampun melumat tamunya empat gol tanpa balas, sekaligus memastikan surat "deportasi" bagi klub berjuluk Badai Pasifik tersebut kembali ke kasta kedua.
Kekalahan memalukan 0-4 ini bukan sekadar statistik di papan skor, melainkan nisan bagi perjalanan PSBS di Super League musim 2025/2026.
Baca Juga: Tembus Ratusan Miliar! Update Daftar Klub Termahal Liga Indonesia 2026: Siapa Skuad Paling Mewah?
Di hadapan ribuan Bonek yang merayakan pesta gol, PSBS tampak kehilangan arah, hancur lebur oleh intensitas permainan tuan rumah yang jauh melampaui kelas mereka. Hasil ini secara matematis mengunci posisi mereka di zona merah, tanpa ada lagi celah untuk melarikan diri dari jerat degradasi.
Namun, drama di papan bawah tidak berhenti di Biak. Perhatian kini tertuju pada Persis Solo yang berada di ambang jurang yang sama. Laskar Sambernyawa kini tengah menghitung hari menuju kiamat olahraga mereka sendiri.
Kegagalan PSBS menjadi sinyal peringatan keras bahwa Liga kasta tertinggi tidak memberikan tempat bagi tim yang tidak mampu menjaga konsistensi. Jika tidak ada keajaiban dalam sisa laga terakhir, publik Solo harus bersiap menghadapi kenyataan pahit menyusul PSBS Biak turun kasta.
Baca Juga: Pemain Lokal Rasa Eropa! Inilah Daftar Pemain dengan Harga Pasar Miliaran di Liga Indonesia
Pekan ke-31 ini menjadi saksi betapa kejamnya roda kompetisi: saat Persebaya berpesta merangkak ke papan atas, PSBS Biak harus tertunduk lesu memulai masa berkabung, sementara Persis Solo mulai merasakan dinginnya napas degradasi di tengkuk mereka.
Editor : Maulana RJ