Radar Jember - Pertandingan antara Timnas Indonesia dan Jepang dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026 yang digelar di Suita City Football Stadium menjadi mimpi buruk bagi Mees Hilgers.
Dalam laga penting tersebut, bek kelahiran Belanda itu tampil di bawah performa terbaiknya dan menjadi sorotan utama dalam kekalahan skuad Garuda.
Sejak menit awal, gestur Mees terlihat kaku.
Keputusan-keputusannya lambat, umpan-umpannya kerap meleset, dan pergerakannya tampak kehilangan orientasi.
Alih-alih menjadi tembok pertahanan, penampilannya justru menjadi celah yang dimanfaatkan lawan.
Satu kesalahan krusial yang dilakukannya bahkan berujung pada gol pembuka Jepang.
Di layar besar stadion, raut kecewa rekan-rekannya tak bisa disembunyikan.
Jay Idzes, sang kapten, hanya menatap tajam ke arah Mees, tanpa kata tapi sarat makna.
Ketika peluit babak pertama dibunyikan, Idzes berjalan menuju lorong stadion tanpa menoleh sedikit pun, membiarkan Hilgers tertinggal dalam tekanan atmosfer yang menyesakkan.
Suasana ruang ganti pun tak kalah menegangkan.
Keheningan menyelimuti, namun bukan hening yang menenangkan melainkan sunyi yang menyerupai badai yang menahan amarah.
Patrick Kluivert berdiri tegak, bersedekap dengan sorot mata tajam yang tak membutuhkan suara untuk menunjukkan ketegasannya.
Mees masuk paling akhir. Tatapan Kluivert menembus diamnya.
Tanpa satu pun kata, atmosfer saat itu cukup mengabarkan bahwa ini bukan sekadar laga, tapi soal tanggung jawab, soal lambang di dada yang tak bisa dikenakan sembarangan.
Pada babak kedua, Hilgers tetap dimainkan, berdiri sejajar dengan Idzes yang seolah menjadi benteng terakhir Timnas Indonesia.
Di sisi lapangan, Patrick Kluivert mematung, bukan sekadar sebagai pelatih, tapi sebagai pengawal harga diri timnya.
Malam itu, lebih dari sekadar permainan buruk, Mees Hilgers kehilangan kepercayaan dari tim, dan jalan untuk meraihnya kembali tampaknya akan panjang dan berat.
Meski menyelesaikan 90 menit penuh, justru itulah yang membuat gelombang kritik semakin besar.
Di media sosial, khususnya Twitter, nama Mees Hilgers langsung menjadi trending topic beberapa menit usai laga berakhir. Cuplikan kesalahannya tersebar cepat, menunjukkan kesalahan positioning dan clearance yang setengah matang.
Usai pertandingan, kamera menangkap Mees berdiri sendirian di tengah lapangan. Tatapannya kosong mengarah ke tribun yang mulai sepi.
Momen saat Jay Idzes menghampirinya tak menampilkan pelukan atau tepukan penyemangat, hanya gestur dingin yang seolah menyiratkan pesan tegas bahwa kesalahan seperti ini tidak bisa terulang lagi.
Sementara itu, Patrick Kluivert berdiri di tepi lapangan dengan tangan di saku.
Ia tampak menahan amarah, menyadari bahwa yang dibutuhkan saat ini bukan kemarahan, tapi evaluasi mendalam terhadap penampilan timnya terutama Mees Hilgers.
Tugas berat kini berada di pundak Patrick Kluivert.
Penampilan buruk Hilgers bukan semata soal teknis di lapangan, tapi tentang bagaimana ia belum sepenuhnya menyatu dalam sistem permainan Timnas Indonesia.
Dalam empat penampilannya sejak bergabung pada 2024, ia belum menunjukkan sinyal positif baik saat dilatih Shin Tae-yong maupun di era Kluivert.
Masalah cedera dan adaptasi tampaknya menjadi kendala utama.
Beberapa kali Mees terlihat meninggalkan posnya, memberi ruang luas bagi pemain Jepang.
Sorotan semakin tajam karena ia datang dengan reputasi tinggi dari Liga Belanda, bahkan menjadi pemain dengan nilai jual tertinggi di skuad Garuda saat ini.
Namun semua itu tidak berarti banyak jika tidak dibarengi dengan performa di lapangan.
Laga melawan Jepang menunjukkan bahwa ekspektasi besar bisa runtuh dalam satu malam buruk.
Dan bagi Mees Hilgers, malam itu bukan hanya kekalahan, tapi pengingat bahwa kepercayaan dan kebanggaan mengenakan seragam merah putih harus diperjuangkan, bukan hanya dijanjikan.
Penulis: Cintya Diyanti Utomo
Editor : M. Ainul Budi