TERIMBAS AKTIVITAS VULKANIK: Anak tangga ke Bromo yang kini kondisinya kotor karena dipengaruhi aktivitas vulkanik. (Zainal Arifin/Radar Bromo)

SUKAPURA, Radar Bromo – Tangga menuju ke kawah Gunung Bromo di Lautan Pasir, Cemorolawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, dikeluhkan.

IKLAN

Sebabnya, pasir menumpuk di tangga. Sehingga, tangga menjadi licin saat diinjak.

Keluhan itu disampaikan seorang wisatawan yang datang ke Gunung Bromo, bahkan menjadi viral karena disampaikan di media sosial (medsos) facebook (FB). Wisatawan ini mengeluh melalui akun FB atas nama Vivi Ratna.

Akun FB ini menuliskan, ia adalah seorang wisatawan yang membawa rombongan wisata. Menurutnya, ia tidak keberatan menyewa mobil meskipun telah membawa kendaraan 4 X 4. Juga tidak keberatan untuk membayar biaya masuk atau tiket.

“Kami wisatawan dan jg bawa rombongan wisatawan tdk keberatan akan sewa mbl walaupun kami bawa 4×4. Jg tdk keberatan byr bea masuk. Krn kami menghargai dan mematuhi peraturan lokal kawasan wisata gn bromo,” tulis akun itu.

Yang jadi masalah, lanjut akun tersebut, adalah kotornya tangga untuk naik ke kawah Gunung Bromo. Sebab, tangga dipenuhi pasir dan menjadi licin saat diinjak. Karena tumpukan pasir itu, anak tangga yang bisa dilewati hanya sisa sejengkal kaki. Selain itu, pegangan tangga banyak yang rusak. Karena kondisi itu, banyak wisatawan yang takut naik.

“Dan mrk rata2 kecewa uda byr mhl, tp kok tdk ada pemeliharaan fasilitas. Tlg pak di lapor spy ada perbaikan di pegangan tangga dan jg di bersihkan anak tangganya. Akhirny km pun bertaya2 utk apa dan kemana bea masuk itu?,” lanjut akun itu.

Koirul, salah seorang penyedia jasa transportasi wisata Bromo mengatakan, kondisi anak tangga Bromo memang banyak pasirnya. Sehingga, membuat licin saat dilewati. Kondisi itu menurutnya, membahayakan wisatawan yang hendak naik.

“Memang kondisi tangga licin karena banyak pasirnya. Kalau bisa ya dibersihkan,” katanya.

Ia menjelaskan, biasanya yang ingin ke kawah Bromo adalah wisatawan yang baru pertama kali ke Bromo. Mereka ini biasanya memiliki ekspektasi tinggi untuk melihat kawah Bromo.

Mereka akhirnya kecewa saat di lokasi ternyata harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya, tidak bisa melihat kawah karena takut melewati tangga.

“Itu yang terjadi. Kalau rusak sih tidak. Tapi memang beberapa ada yang rusak, tapi tidak parah,” ungkapnya.

Sementara, Humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Syarif mengatakan, anak tangga ke kawah Bromo memang berdebu. Penyebabnya, karena aktivitas fluktuatif Bromo selama beberapa bulan terakhir.

Untuk wisatawan menurutnya, pihaknya mengacu pada arahan PVMBG. Bahwa, jarak aman kunjungan wisata adalah 1 kilometer dari kawah. Sebab, status Gunung Bromo masih berada di level II.

“Anak tangga Bromo berdebu tersebut disebabkan karena aktivitas fluktuatif Bromo selama kurun beberapa bulan terakhir. Anak tangga Bromo masuk dalam radius aman 1 kilometer sebagaimana rekomendasi PVMBG tersebut,” ungkapnya.

Karena itu menurutnya, wisatawan memang seharusnya tidak naik ke tangga. Sebab, memang kondisinya belum aman.

Untuk kerusakan yang dikeluhkan, pihaknya tidak bisa langsung melakukan perbaikan. Sebab, tiket masuk TNBTS adalah PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) yang disetor langsung kepada negara. Pengembalian tiket ini belum tentu berbentuk anggaran pengelolaan TNBTS.

“Selanjutnya, kami juga terus berupaya agar wisata TNBTS tidak hanya menjadi wisata yang nyaman dan menyenangkan, tetapi juga wisata yang aman dan berdampak pada peningkatan pemahaman pengunjung tentang konservasi,” tandasnya. (sid/hn)