Mat Nasek ini seorang penakut. Saking takutnya, kalau ke kamar kecil pun dia minta diantar Lik Jum, rekannya satu kos di sebuah perumahan,di kawasan dekat IAIN Mangli.
Akibat polahnya, kadang-kadang Lik Jum dibikin geregetan. Gimana nggak geregetan? Pas enak-enaknya tidur, dibangunkan oleh Mat Nasek, minta ditemani kalau akan ke belakang.
Namun karena kasihan, dia mau-mau saja. Lagi pula, Mat Nasek ini sering mentraktirnya makan. Dia emang anak horang kayah. ”Yo wes, tak lihat dari kejauhan. Sanaaa… budal-o,” kata Lik Jum, kalau menemani Mat Nasek. Dia pun ndipis dari kejauhan, menunggu Mat Nasek ke kamar kecil.

IKLAN

Suatu ketika, Mat Nasek di kamar kos sendirian (mateh, koen). Dan ndilalah-nya, malam-malam Mat Nasek kebelet kepengin ke belakang. Namun dia takut jalan. Tengah malam itu dia nggak bisa tidur gara-gara takut mau ke ruang belakang. Padahal, tembok kos itu sudah tertutup semua. Hanya saja, ruang belakang ini nggak ada atapnya, karena biasa untuk jemuran anak kos.

Diintipnya jendela kamar. Loh! Dalam remang-remang kelihatan barang putih-putih seperti melambai-lambaikan tangan! Tentu saja Mat Nasek girap-girap gelagapan.
Mak Blek! Tirai jendela kembali di tutup. Dan dia segera kirim WA ke Lik Jum. ”Jum… ndang mbalik-o. Omahe dalam bahayaaa… ,” ujarnya, dengan diselipi emoticon ketakutan. Dia pun krubutan selimut, berusaha tidur sambil menunggu temannya se kamar (sambil ngempet kebelet, tentunya).

Beberapa jam kemudian, Lik Jum yang sudah pulang langsung nggedor pintu kamar. ”Ono opo, Mat,” tanyanya. Mat Nasek yang ketakutan menunjuk-nunjuk jendela kamar. “Bukanen, Jum… bukaennn.. Demit-e uakehhh,” ujarnya.

Byak, jendela dibuka. Oalah, ternyata baju putih yang tadi sore dijemur Lik Jum dikira pocongan. ”Kui, Mat.. liaten. Pocongan-e lagi senam! Melok-o senam konoh! Lha wong pakaian dijemur wae, kok dikiro pocongan. Kebacut awakmu,” Lik Jum nggerundel.
Sementara Mat Nasek hanya plonga-plongo dengan kelongorannya sendiri.