Pascaerupsi Gunung Agung Tanaman Tembakau Terancam Rusak

Jumai/Radar Jember BERSIHKAN ABU: Hasan, 45, petani di Dusun Durenan, Desa/Kecamatan Pakusari, yang juga pemilik tanaman tembakau jenis kasturi saat membersihkan abu vulkanik Gunung Agung Bali.

PAKUSARI – Pascaerupsi Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, sangat memberikan dampak pada petani tembakau yang ada di Jember. Tembakau mereka tertutupi abu tebal. Mereka khawatir jika terus menerus, bisa mengancam tembakau mereka. Seperti yang terjadi akibat debu abu Gunung Raung tiga tahun silam.

IKLAN

Salah satu lahan petani tembakau yang terdampak yakni milik Hasan, 45, petani tembakau Dusun Durenan, Desa/Kecamatan Pakusari. Dirinya mengaku khawatir abu bisa mengancam dan membuat tembakau rusak.

Dirinya mengaku, saat ini memiliki sekitar 2 hektare tanaman tembakau jenis kasturi. Semuanya tertutup abu vulkanik Gunung Agung, Bali. “Saya terpaksa menyemprot abu yang mulai nempel di daun tembakau,” ujar Hasan.

Ini terpaksa dilakukan karena kalau dibiarkan, daun yang sudah tertutup dengan abu vulkanik terancam rusak. Minimal akan mengurangi kualitas dari tembakau miliknya yang sudah berusia lebih dari dua bulan ini.

Untuk pembersihan dengan penyemprotan di daun tembakau ini dilakukannya dua kali, yakni pagi dan sore. “Eman kalau rusak, apalagi masa panennya masih sekitar 2 minggu lagi. Umur tanaman tembakau seluas 2 Ha ini masih berumur 50 hari,” jelas Hasan.

Dia mengaku khawatir jika abu vulkanik dari Gunung Agung ini terus menuju ke arah Jember, maka banyak petani tembakau yang terancam merugi. “Semoga besok sudah tidak hujan abu lagi,” ucapnya penuh harap. Jika memang sudah tidak ada abu lagi, maka kemungkinan kualitas tembakau akan tetap baik.

Ancaman hujan abu vulkanik bukan hanya di Kecamatan Pakusari, namun juga terjadi di Sumbersari. “Ini abu yang nempel di daun cukup jelas, warnanya sudah beda dengan daun warna aslinya,” ujar Yono, petani di Sumbersari saat menunjukkan daun tembakau Na Oogst miliknya. Hal ini dialami petani tembakau yang sudah mulai memiliki daun 5-6 lembar itu.

Dirinya pun mengaku khawatir jika terus seperti ini, seperti Gunung Raung yang lalu sehingga membuat daun tembakau tertutup abu. “Mudah-mudahan Gunung Agung yang meletus, abunya tidak lagi ke arah jember. Karena kalau abu yang dibawa angin ke arah Jember, banyak petani tang rugi alias bangkrut,” ujar Yono khawatir.

Sementara itu, Masykur, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Pemkab Jember mengakui, kemungkinan abu dari Gunung Agung, Bali mengarah ke Jember dan berpengaruh kepada petani tembakau di Jember. “Tetapi sejauh ini kami masih belum mendapatkan laporan di dinas terkait berapa luasan yang terdampak,” jelas Masykur.

Namun, diakui Masykur, abu vulkanik ini memang cukup membuat trauma petani tembakau di Jember. Dirinya menceritakan, saat tahun 2015 lalu, ada abu Gunung Raung, hampir seluruh tembakau Jember rusak dan harganya jatuh ke titik nadir. “Jadi, wajar kalau petani khawatir terkait abu ini,” jelasnya.

Kalau melihat kondisi kasat mata, memang diakuinya saat ini tembakau petani di Jember masih bisa diselamatkan. “Ya petani harus bekerja lebih keras. Harus disemprot daun tembakaunya setiap hari,” jelasnya. Apalagi, untuk daun tembakau yang sudah bersiap-siap panen, maka harus sering disambangi, sehingga debu yang menempel di daun tembakau tidak sampai tebal.

Masykur pun berharap bencana ini tidak lama dan segera bisa berlalu, dengan harapan tembakau petani di Jember tetap bagus dan bisa diterima pasar  dengan harga yang tinggi. “Semoga saja harga tembakau petani tahun ini tetap tinggi seperti tahun lalu,” pungkasnya. (jum/ram/mgc/hdi)

Reporter :

Fotografer :

Editor :