Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jepelidi : Etika Berinternet Penting, Jejak Digital Cenderung Abadi

S
Penulis: Safitri❯
Ilustrasi media sosial di telepon pintar.
Ilustrasi media sosial di telepon pintar.
Jakarta, 29/10 (ANTARA) - Pentingnya mengedepankan etika berinternet untuk membangun jejak digital yang baik, pelu disadari pengguna internet. Hal ini karena setiap rekam jejak digital pengguna akan ditinggalkan setiap berselancar di dunia maya.

BACA JUGA :Hidup Sebatang Kara, Tewas Membusuk Setelah Lima Hari Tak Terlihat

Rekam jejak digital sebaiknya dibangun dengan selalu etis bermedia digital. "Pastikan selalu berpikir mendalam tentang apa dan bagaimana kita meninggalkan jejak digital yang cenderung abadi," kata Koordinator Nasional Jaringan Pegiat Literasi Digital (Jepelidi) Novi Kurnia.

Novi mengatakan dalam webinar Indonesia Makin Cakap Digital yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk komunitas digital wilayah Bali - Nusa Tenggara Barat, Jumat malam, bahwa jejak digital adalah jejak data yang kita buat dan tinggalkan saat menggunakan perangkat digital.

Ada dua jenis jejak digital, jelas Novi, yakni aktif dan pasif. Jejak digital aktif merupakan data atau informasi yang sengaja diunggah seseorang ke dunia maya. Sedangkan jejak digital pasif umumnya berupa data yang "ditinggalkan" tanpa sadar oleh pengguna ketika berselancar di dunia maya.

"Contoh jejak digital aktif, di antaranya kicauan di Twitter, status di Facebook, foto atau video postingan Instagram dan video YouTube. Sedangkan jejak digital pasif, misalnya server menyimpan alamat IP, lokasi, dan search history," jelasnya dalam webinar yang juga diikuti secara nobar oleh komunitas digital di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Dalam diskusi virtual bertajuk Hati-hati Rekam Jejak Digital, Novi yang juga dewan pengarah Siberkreasi itu menyebut jejak digital mempunyai banyak bentuk. Di antaranya mudah dibagikan dengan cepat, berisiko dimanfaatkan secara negatif, dan bersifat abadi.

"Artinya, cenderung tidak bisa dihilangkan karena bisa didokumentasikan dan dipanggil kembali. Selain itu, jejak digital dapat berubah dalam bentuk lain, misal dari foto menjadi video atau sebaliknya," tegas pengajar Departemen Ilmu Komunikasi UGM Yogyakarta itu.

Adapun cara menjaga jejak digital, lanjut Novi Kurnia, yakni dengan memproteksi data pribadi diri dan orang lain, pastikan hak cipta orang atau pihak lain, pahami fitur-fitur platform digital, regulasi terkait berbagi informasi dan ruang digital, pertimbangkan akurasi, dan manfaat sebelum posting.

Dari perspektif budaya digital (digital culture), pengajar SMKN 1 Nganjuk, Jawa Timur yang juga aktivis sosial, Winarsih, menyoroti hubungan antara data pribadi dengan rekam jejak digital.

Menurut Winarsih, data pribadi merupakan data tentang kehidupan seseorang. Baik itu yang teridentifikasi atau dapat diidentifikasi secara tersendiri maupun yang dikombinasi dengan informasi lainnya, secara langsung maupun tidak langsung melalui sistem elektronik dan non-elektronik.

Contoh data pribadi: convictions, credit history, catatan medis, employment history (CV), contact information, dan addresses. Adapun data pribadi yang harus dilindungi, yakni nomor KK, NIK, tanggal lahir, keterangan tentang kecacatan fisik atau mental, maupun catatan peristiwa penting. (*)

Foto : ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna/am.

Sumber : Antara

Advertisement
Advertisement
Editor : Safitri

Artikel Terkait

Bangun Citra dan Pelayanan Sekolah, 52 Humas SMA dan SMK Ikuti Pelatihan Media bersama Radar Jember

Bangun Citra dan Pelayanan Sekolah, 52 Humas SMA dan SMK Ikuti Pelatihan Media bersama Radar Jember

Jawa Pos Radar Jember menggelar pelatihan kehumasan bagi 52 SMA/SMK Negeri se-Kabupaten Jember guna mengoptimalkan komunikasi digital dan pelayanan publik sekolah.

Aplikasinya Memang Banyak, Tapi Warga Bondowoso Belum Banyak Tahu?

Aplikasinya Memang Banyak, Tapi Warga Bondowoso Belum Banyak Tahu?

INDEKS Demokrasi Digital Bondowoso (BDDI) berada di angka 3,26 atau masuk kategori cukup baik. Namun, hasil kajian Ijen Cendekia Nusantara (ICN) mencatat masih ada sejumlah pekerjaan rumah, terutama rendahnya literasi di

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer