alexametrics
26.2 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Tantangan Kader Posyandu Mendampingi Bumil hingga Lahiran

Sering Dibangunkan Tengah Malam, Kadang Ditutupi Pintu oleh Warga

Mobile_AP_Rectangle 1

JUBUNG, RADARJEMBER.ID – PONSEL Yeni siang itu tak henti-hentinya berdering. Ada banyak pesan masuk ke gawainya itu. Sesekali dia mengangkat telepon dan merespons suara dari seberang. “Iya, nanti segera,” ucap Yeni menjawab panggilan telepon, lalu seketika menutupnya.

Siang itu, matahari memang cukup terik. Yeni sepertinya ingin mengistirahatkan fisiknya sejenak di sebuah rumah makan, tak jauh dari Kantor Kecamatan Sukorambi. Di kantor kecamatan itu pula Yeni bekerja.

Perempuan bernama lengkap Yeni Widia Ningsih ini sepintas mirip ibu-ibu kebanyakan. Kalem dan murah senyum. Meski berperawakan kecil, tapi dedikasinya tak semungil tubuhnya. “Seperti biasa, ada ibu-ibu menghubungi. Konsultasi. Kadang saya yang turun ke rumah mereka,” kata Yeni, membuka pembicaraan saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Diketahui, Yeni adalah seorang kader posyandu di Dusun Jubung Lor, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi. Dia juga tinggal di dusun tersebut bersama suami dan anaknya. Dalam keseharian, waktu ibu dua anak ini banyak dihabiskan di luar rumah. Dia melakukan pendampingan ke masyarakat.

Dari masyarakat miskin yang butuh pengobatan, lalu ibu-ibu hamil sampai proses persalinan, hingga balita di kampungnya. Semua dilakukan, kadang sendiri, kadang bareng teman. “Sejak 2005 silam, saya sudah terjun ke dunia pendampingan masyarakat miskin, sekaligus jadi kader posyandu,” kata Yeni.

Masa 16 tahun tentu bukan waktu sebentar. Dia banyak mengunyah asam garam selama mendampingi bumil hingga proses persalinan. Dia pun mampu membuktikan bisa bertahan sampai sekarang. “Kejenuhan itu jelas ada. Karena ini pekerjaan yang tiada ukuran waktunya,” aku ibu 38 tahun ini.

Dia mencontohkan beberapa pengalamannya selama mendampingi bumil. Biasanya, bumil yang masuk risiko tinggi (risti), yang sudah terdeteksi di awal, menjadi sasaran paling intens yang dia dampingi. Bumil risti seperti kehamilan muda, hamil tua, tensi tinggi, berat badan kurang, penyakit bawaan, semuanya itu berisiko munculnya kematian.

Dalam pendampingan yang dilakukannya, dirinya senantiasa berkonsultasi dengan bidan yang bertugas di desanya, Wilda Farika dan Reni Widyastuti, hingga kepala desa setempat. Dari memasakkan makanan bergizi, buah dan sayur, serta menyediakan vitamin. Bahkan, hingga datang ke rumah-rumah bumil untuk kontrol atau penyuluhan. “Posyandu dan kelas bumil terjadwal sebulan sekali. Kalau yang turun ke rumah memantau ini, setiap hari setiap saat. Dan itu sangat menguji kesabaran,” ucap Yeni, mengisahkan.

Saat dia turun ke rumah-rumah bumil, respons mereka bermacam-macam. Jika ibu hamil yang didatangi menerima dan kooperatif, Yeni mengaku senang. Tapi, tak jarang kedatangannya itu terkadang disambut sinis oleh bumil. “Saya datang berpakaian pekerja sosial sebagai kader posyandu. Begitu melihat saya, bumil ini seketika menutup pintu. Padahal saya belum masuk ke rumahnya,” kenangnya, sembari mengerutkan dahi.

Padahal, kedatangan Yeni untuk memastikan bahwa kondisi mereka baik-baik saja. Namun, itu belum seberapa. Di beberapa kesempatan, Yeni turun ke rumah bumil dengan menerabas waktu normal. “Saat kebanyakan orang istirahat, tengah malam itu biasa dipanggil tetangga ada bumil yang mau lahiran. Seketika saya bergegas menuju lokasi sekitar pukul 01.00 dini hari,” tuturnya.

- Advertisement -

JUBUNG, RADARJEMBER.ID – PONSEL Yeni siang itu tak henti-hentinya berdering. Ada banyak pesan masuk ke gawainya itu. Sesekali dia mengangkat telepon dan merespons suara dari seberang. “Iya, nanti segera,” ucap Yeni menjawab panggilan telepon, lalu seketika menutupnya.

Siang itu, matahari memang cukup terik. Yeni sepertinya ingin mengistirahatkan fisiknya sejenak di sebuah rumah makan, tak jauh dari Kantor Kecamatan Sukorambi. Di kantor kecamatan itu pula Yeni bekerja.

Perempuan bernama lengkap Yeni Widia Ningsih ini sepintas mirip ibu-ibu kebanyakan. Kalem dan murah senyum. Meski berperawakan kecil, tapi dedikasinya tak semungil tubuhnya. “Seperti biasa, ada ibu-ibu menghubungi. Konsultasi. Kadang saya yang turun ke rumah mereka,” kata Yeni, membuka pembicaraan saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Diketahui, Yeni adalah seorang kader posyandu di Dusun Jubung Lor, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi. Dia juga tinggal di dusun tersebut bersama suami dan anaknya. Dalam keseharian, waktu ibu dua anak ini banyak dihabiskan di luar rumah. Dia melakukan pendampingan ke masyarakat.

Dari masyarakat miskin yang butuh pengobatan, lalu ibu-ibu hamil sampai proses persalinan, hingga balita di kampungnya. Semua dilakukan, kadang sendiri, kadang bareng teman. “Sejak 2005 silam, saya sudah terjun ke dunia pendampingan masyarakat miskin, sekaligus jadi kader posyandu,” kata Yeni.

Masa 16 tahun tentu bukan waktu sebentar. Dia banyak mengunyah asam garam selama mendampingi bumil hingga proses persalinan. Dia pun mampu membuktikan bisa bertahan sampai sekarang. “Kejenuhan itu jelas ada. Karena ini pekerjaan yang tiada ukuran waktunya,” aku ibu 38 tahun ini.

Dia mencontohkan beberapa pengalamannya selama mendampingi bumil. Biasanya, bumil yang masuk risiko tinggi (risti), yang sudah terdeteksi di awal, menjadi sasaran paling intens yang dia dampingi. Bumil risti seperti kehamilan muda, hamil tua, tensi tinggi, berat badan kurang, penyakit bawaan, semuanya itu berisiko munculnya kematian.

Dalam pendampingan yang dilakukannya, dirinya senantiasa berkonsultasi dengan bidan yang bertugas di desanya, Wilda Farika dan Reni Widyastuti, hingga kepala desa setempat. Dari memasakkan makanan bergizi, buah dan sayur, serta menyediakan vitamin. Bahkan, hingga datang ke rumah-rumah bumil untuk kontrol atau penyuluhan. “Posyandu dan kelas bumil terjadwal sebulan sekali. Kalau yang turun ke rumah memantau ini, setiap hari setiap saat. Dan itu sangat menguji kesabaran,” ucap Yeni, mengisahkan.

Saat dia turun ke rumah-rumah bumil, respons mereka bermacam-macam. Jika ibu hamil yang didatangi menerima dan kooperatif, Yeni mengaku senang. Tapi, tak jarang kedatangannya itu terkadang disambut sinis oleh bumil. “Saya datang berpakaian pekerja sosial sebagai kader posyandu. Begitu melihat saya, bumil ini seketika menutup pintu. Padahal saya belum masuk ke rumahnya,” kenangnya, sembari mengerutkan dahi.

Padahal, kedatangan Yeni untuk memastikan bahwa kondisi mereka baik-baik saja. Namun, itu belum seberapa. Di beberapa kesempatan, Yeni turun ke rumah bumil dengan menerabas waktu normal. “Saat kebanyakan orang istirahat, tengah malam itu biasa dipanggil tetangga ada bumil yang mau lahiran. Seketika saya bergegas menuju lokasi sekitar pukul 01.00 dini hari,” tuturnya.

JUBUNG, RADARJEMBER.ID – PONSEL Yeni siang itu tak henti-hentinya berdering. Ada banyak pesan masuk ke gawainya itu. Sesekali dia mengangkat telepon dan merespons suara dari seberang. “Iya, nanti segera,” ucap Yeni menjawab panggilan telepon, lalu seketika menutupnya.

Siang itu, matahari memang cukup terik. Yeni sepertinya ingin mengistirahatkan fisiknya sejenak di sebuah rumah makan, tak jauh dari Kantor Kecamatan Sukorambi. Di kantor kecamatan itu pula Yeni bekerja.

Perempuan bernama lengkap Yeni Widia Ningsih ini sepintas mirip ibu-ibu kebanyakan. Kalem dan murah senyum. Meski berperawakan kecil, tapi dedikasinya tak semungil tubuhnya. “Seperti biasa, ada ibu-ibu menghubungi. Konsultasi. Kadang saya yang turun ke rumah mereka,” kata Yeni, membuka pembicaraan saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Diketahui, Yeni adalah seorang kader posyandu di Dusun Jubung Lor, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi. Dia juga tinggal di dusun tersebut bersama suami dan anaknya. Dalam keseharian, waktu ibu dua anak ini banyak dihabiskan di luar rumah. Dia melakukan pendampingan ke masyarakat.

Dari masyarakat miskin yang butuh pengobatan, lalu ibu-ibu hamil sampai proses persalinan, hingga balita di kampungnya. Semua dilakukan, kadang sendiri, kadang bareng teman. “Sejak 2005 silam, saya sudah terjun ke dunia pendampingan masyarakat miskin, sekaligus jadi kader posyandu,” kata Yeni.

Masa 16 tahun tentu bukan waktu sebentar. Dia banyak mengunyah asam garam selama mendampingi bumil hingga proses persalinan. Dia pun mampu membuktikan bisa bertahan sampai sekarang. “Kejenuhan itu jelas ada. Karena ini pekerjaan yang tiada ukuran waktunya,” aku ibu 38 tahun ini.

Dia mencontohkan beberapa pengalamannya selama mendampingi bumil. Biasanya, bumil yang masuk risiko tinggi (risti), yang sudah terdeteksi di awal, menjadi sasaran paling intens yang dia dampingi. Bumil risti seperti kehamilan muda, hamil tua, tensi tinggi, berat badan kurang, penyakit bawaan, semuanya itu berisiko munculnya kematian.

Dalam pendampingan yang dilakukannya, dirinya senantiasa berkonsultasi dengan bidan yang bertugas di desanya, Wilda Farika dan Reni Widyastuti, hingga kepala desa setempat. Dari memasakkan makanan bergizi, buah dan sayur, serta menyediakan vitamin. Bahkan, hingga datang ke rumah-rumah bumil untuk kontrol atau penyuluhan. “Posyandu dan kelas bumil terjadwal sebulan sekali. Kalau yang turun ke rumah memantau ini, setiap hari setiap saat. Dan itu sangat menguji kesabaran,” ucap Yeni, mengisahkan.

Saat dia turun ke rumah-rumah bumil, respons mereka bermacam-macam. Jika ibu hamil yang didatangi menerima dan kooperatif, Yeni mengaku senang. Tapi, tak jarang kedatangannya itu terkadang disambut sinis oleh bumil. “Saya datang berpakaian pekerja sosial sebagai kader posyandu. Begitu melihat saya, bumil ini seketika menutup pintu. Padahal saya belum masuk ke rumahnya,” kenangnya, sembari mengerutkan dahi.

Padahal, kedatangan Yeni untuk memastikan bahwa kondisi mereka baik-baik saja. Namun, itu belum seberapa. Di beberapa kesempatan, Yeni turun ke rumah bumil dengan menerabas waktu normal. “Saat kebanyakan orang istirahat, tengah malam itu biasa dipanggil tetangga ada bumil yang mau lahiran. Seketika saya bergegas menuju lokasi sekitar pukul 01.00 dini hari,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/