alexametrics
27.9 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Faktor Yang Menyebabkan Keselamatan Ibu Hamil Terancam

Mobile_AP_Rectangle 1

Tingginya AKI/AKB, lanjut Fitri, juga disebabkan oleh pernikahan di bawah tangan alias nikah siri yang dilakukan anak-anak atau remaja di bawah umur. Masyarakat cenderung menyepelekan kesehatan reproduksi anak-anaknya. Mereka memilih anaknya nikah siri selama beberapa waktu sembari menunggu tibanya usia minimal pernikahan. Setelah batas usia memenuhi syarat, biasanya mereka melakukan isbat nikah.

Rizki Nurhaini, anggota Forasker yang lain, menjelaskan, selain pandemi, pengaruh sosial atau peran keluarga juga cukup dominan. Selain itu, ketersediaan infrastruktur kesehatan yang memadai juga menjadi salah satu penyumbang naiknya kasus AKI/AKB. Sebab, di masa pandemi ini, beberapa fasilitas layanan kesehatan tidak beroperasi atau tidak bisa digunakan oleh ibu hamil. Seperti puskesmas pembantu (pustu). Bahkan puskesmas sekalipun tidak terbuka lebar seperti sebelum pandemi.

“Ini karena mencegah penularan virus. Lantaran ditutup sementara, akhirnya ibu hamil dirujuk ke rumah sakit dan keluarga ibu hamil banyak yang tidak mau. Lagi-lagi karena biaya yang mahal,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, sosialisasi oleh pemerintah sejauh ini masih kurang menyeluruh, khususnya bagi masyarakat di wilayah terpencil. Karenanya, upaya yang telah dilakukan pemerintah tidak dapat diakses atau dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Dalam hal ini, Kiki berkata, kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari kader posyandu, tenaga kesehatan di setiap puskesmas, hingga pemerintah desa, harus berjalan dengan baik.

Kalau dulu, Kiki mengungkapkan, ada desa siaga. Jadi, pemerintah desa turut berpartisipasi ketika ada masyarakatnya yang membutuhkan. Bisa dengan membantu urusan surat-surat administrasinya. Kemudian, keberadaan ambulans desa itu dinilainya juga sangat bermanfaat. “Maka di sini, pemerintah desa harus bisa mengajak ibu hamil yang sudah mendekati kelahiran untuk mempersiapkan proses persalinannya. Apalagi bagi ibu hamil yang di desa terpencil,” pungkasnya.

Reporter : Delfi Nihayah

Fotografer : Ilustrasi Radar Jember

Editor : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Tingginya AKI/AKB, lanjut Fitri, juga disebabkan oleh pernikahan di bawah tangan alias nikah siri yang dilakukan anak-anak atau remaja di bawah umur. Masyarakat cenderung menyepelekan kesehatan reproduksi anak-anaknya. Mereka memilih anaknya nikah siri selama beberapa waktu sembari menunggu tibanya usia minimal pernikahan. Setelah batas usia memenuhi syarat, biasanya mereka melakukan isbat nikah.

Rizki Nurhaini, anggota Forasker yang lain, menjelaskan, selain pandemi, pengaruh sosial atau peran keluarga juga cukup dominan. Selain itu, ketersediaan infrastruktur kesehatan yang memadai juga menjadi salah satu penyumbang naiknya kasus AKI/AKB. Sebab, di masa pandemi ini, beberapa fasilitas layanan kesehatan tidak beroperasi atau tidak bisa digunakan oleh ibu hamil. Seperti puskesmas pembantu (pustu). Bahkan puskesmas sekalipun tidak terbuka lebar seperti sebelum pandemi.

“Ini karena mencegah penularan virus. Lantaran ditutup sementara, akhirnya ibu hamil dirujuk ke rumah sakit dan keluarga ibu hamil banyak yang tidak mau. Lagi-lagi karena biaya yang mahal,” ujarnya.

Menurut dia, sosialisasi oleh pemerintah sejauh ini masih kurang menyeluruh, khususnya bagi masyarakat di wilayah terpencil. Karenanya, upaya yang telah dilakukan pemerintah tidak dapat diakses atau dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Dalam hal ini, Kiki berkata, kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari kader posyandu, tenaga kesehatan di setiap puskesmas, hingga pemerintah desa, harus berjalan dengan baik.

Kalau dulu, Kiki mengungkapkan, ada desa siaga. Jadi, pemerintah desa turut berpartisipasi ketika ada masyarakatnya yang membutuhkan. Bisa dengan membantu urusan surat-surat administrasinya. Kemudian, keberadaan ambulans desa itu dinilainya juga sangat bermanfaat. “Maka di sini, pemerintah desa harus bisa mengajak ibu hamil yang sudah mendekati kelahiran untuk mempersiapkan proses persalinannya. Apalagi bagi ibu hamil yang di desa terpencil,” pungkasnya.

Reporter : Delfi Nihayah

Fotografer : Ilustrasi Radar Jember

Editor : Mahrus Sholih

Tingginya AKI/AKB, lanjut Fitri, juga disebabkan oleh pernikahan di bawah tangan alias nikah siri yang dilakukan anak-anak atau remaja di bawah umur. Masyarakat cenderung menyepelekan kesehatan reproduksi anak-anaknya. Mereka memilih anaknya nikah siri selama beberapa waktu sembari menunggu tibanya usia minimal pernikahan. Setelah batas usia memenuhi syarat, biasanya mereka melakukan isbat nikah.

Rizki Nurhaini, anggota Forasker yang lain, menjelaskan, selain pandemi, pengaruh sosial atau peran keluarga juga cukup dominan. Selain itu, ketersediaan infrastruktur kesehatan yang memadai juga menjadi salah satu penyumbang naiknya kasus AKI/AKB. Sebab, di masa pandemi ini, beberapa fasilitas layanan kesehatan tidak beroperasi atau tidak bisa digunakan oleh ibu hamil. Seperti puskesmas pembantu (pustu). Bahkan puskesmas sekalipun tidak terbuka lebar seperti sebelum pandemi.

“Ini karena mencegah penularan virus. Lantaran ditutup sementara, akhirnya ibu hamil dirujuk ke rumah sakit dan keluarga ibu hamil banyak yang tidak mau. Lagi-lagi karena biaya yang mahal,” ujarnya.

Menurut dia, sosialisasi oleh pemerintah sejauh ini masih kurang menyeluruh, khususnya bagi masyarakat di wilayah terpencil. Karenanya, upaya yang telah dilakukan pemerintah tidak dapat diakses atau dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Dalam hal ini, Kiki berkata, kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari kader posyandu, tenaga kesehatan di setiap puskesmas, hingga pemerintah desa, harus berjalan dengan baik.

Kalau dulu, Kiki mengungkapkan, ada desa siaga. Jadi, pemerintah desa turut berpartisipasi ketika ada masyarakatnya yang membutuhkan. Bisa dengan membantu urusan surat-surat administrasinya. Kemudian, keberadaan ambulans desa itu dinilainya juga sangat bermanfaat. “Maka di sini, pemerintah desa harus bisa mengajak ibu hamil yang sudah mendekati kelahiran untuk mempersiapkan proses persalinannya. Apalagi bagi ibu hamil yang di desa terpencil,” pungkasnya.

Reporter : Delfi Nihayah

Fotografer : Ilustrasi Radar Jember

Editor : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/