Menengok Pelayanan terhadap Warga Binaan Lapas Kelas II A Jember, Didampingi Mahasiswa, Mampu Produktif untuk Masyarakat Luar

Lintang Anis Bena Kinanti/Radar Jember BIAR TIDAK JENUH: Salah satu kegiatan warga binaan Lapas Kelas II A Jember. Sebelum menentukan bidang kegiatan kreatif, warga binaan menjalani serangkaian penilaian dan wajib kerja selama dua pekan.

RADARJEMBER.ID –Di balik pengapnya jeruji besi yang menjadi tempat tinggal warga binaan saat ini, mereka masih punya kesempatan untuk mengasah kreativitasnya. Mereka yang mempunyai kemampuan lebih di satu bidang, diajak untuk menularkannya kepada warga binaan lain.

IKLAN

Beragam kegiatan tambahan bisa terlihat di bagian belakang lapas. Di sana terdapat berbagai aktivitas yang bisa dilakoni para warga binaan, mulai dari kerajinan tangan, menjahit, tata boga, laundry, mebelair, pembuatan paving block, hingga pengelasan serta ternak ikan dan burung love bird.

Ada macam-macam produk yang sudah dihasilkan. Seperti suvenir pernikahan, pipa rokok, lemari kayu, beragam jenis makanan, hingga ayunan dan perosotan untuk anak-anak. Selain itu juga terdapat aksesoris yang terbuat dari kertas koran dan plastik yang dirangkai hingga membentuk detail yang hampir sempurna.

Bahkan belum lama ini warga binaan Lapas Kelas II A Jember juga mendapat kesempatan untuk merancang kostum dan menjadi volunteer dalam even Jember Fashion Carnaval. Menurut Kalapas Kelas II A Jember Sarju Wibowo, pihaknya mengakui sangat selektif untuk memilih peserta untuk ikut kegiatan tersebut.

Salah satu kriterianya adalah merupakan narapidana kasus kriminalitas dan sudah menjalani minimal setengah dari masa hukumannya. “Kita harus amati benar bagaimana perilaku dia sehari-hari, bagaimana assessment dia, dan juga pendapat petugas dan teman-temannya. Kemudian kita kirimkan permohonan izin ke kanwil terkait syarat administratif dan substantifnya,” paparnya.

Dari tiga peserta tersebut, satu di antaranya sudah memperoleh pembebasan bersyarat, sedangkan dua lainnya masih belum. Selama latihan dan even pun mereka tetap didampingi oleh petugas, setelah mendapat izin dari panitia acara. “Satu warga binaan didampingi dua petugas di sampingnya dan dua petugas yang bergerak,” lanjut Sarju.

Sementara itu, warga binaan yang terlibat dalam kegiatan kreatif di dalam lapas merupakan narapidana yang sudah mendapat vonis hukum. Pada saat awal setelah mendapat putusan pengadilan, warga binaan harus menjalani wajib kerja selama dua pekan untuk penyesuaian. “Sebelum mereka ditempatkan di pos kegiatan, kita tanyakan dulu mereka mau diarahkan ke mana,” imbuhnya.

Selain itu, warga binaan juga menjalani proses assessment dari petugas dan relawan selama menjalani wajib kerja. Dari assessment dan wajib kerja ini petugas bisa tahu warga binaan bisa diberdayakan di unit mana untuk bisa mengembangkan potensi mereka. “Jadi mereka bisa punya pandangan mereka mau di bagian sini,” lanjut Sarju.

Proses ini didampingi oleh relawan yang tergabung dalam Yayasan Garwita Institute, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang psikologi dan hukum.

Lembaga tersebut beranggotakan sekitar 20 relawan mahasiswa yang sengaja dibentuk semenjak 2011 silam untuk mendampingi masyarakat, termasuk warga binaan lapas, sekaligus memberi kesempatan pada relawan yang mayoritas merupakan mahasiswa untuk melihat langsung kehidupan di lapas. “Kita mengajar teman-teman untuk bisa berkegiatan bersama,” ujar founder Yayasan Garwita Institute, Dhoho A Sastro.

Tidak ada rekrutmen khusus untuk menjadi relawan Garwita. Namun Dhoho secara berkala menggelar pelatihan relawan. Hal ini dilakukan untuk mencegah defisit relawan. “Relawan itu pasti suka datang dan pergi sesuka hati, jarang bertahan sampai tiga bulan. Sebelum saya kehabisan orang, saya bikin pelatihan lagi, nanti ada lagi angkatan baru yang terekrut,” paparnya.

Dirinya menampik jika relawan Garwita menjadi tutor dari para warga binaan. Sebaliknya, relawan justru memfasilitasi warga binaan untuk bisa mengembangkan kemampuan yang bisa dipakai ketika masa hukuman mereka sudah usai.

“Salah satu contohnya, di antara relawan Garwita nggak ada yang bisa mengelas. Tapi di sini kita ketemu sama napi yang bisa ngelas, maka kita tawari untuk ngajari napi lainnya. Jadilah kita bikin pelatihan pengelasan. Begitu pula dengan tata boga, tadinya ketika ada pelatihan las ada anggaran untuk konsumsi. Itu nggak kita pakai ke luar, kita belikan bahan untuk jadi kegiatan tata boga di sini sampai akhirnya pelatihan tata boga terus berlanjut,” papar Dhoho.

Menurutnya, para warga binaan ini sudah punya banyak ilmu, dan bisa saling mengajari satu sama lain. “Kami, relawan, memfasilitasi proses tersebut,” imbuh pria yang juga berprofesi sebagai pengacara bantuan hukum tersebut.

Bagi Dhoho, dirinya berharap kepada warga binaan untuk tetap bisa berkreasi meski harus terisolasi dari dunia luar. Bukan hanya meratapi keadaan, namun berani untuk bermimpi dan berkreasi. “Jangan pernah berpikir ini adalah akhir dari segalanya, tetapi beranilah bermimpi dan ayo wujudkan mimpi itu,” tegasnya.

Reporter & Fotografer: Lintang Anis Bena Kinanti
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji

Reporter :

Fotografer :

Editor :