Lembaga Pemasyarakatan Semakin Sesak; Apa Akibatnya? Terpaksa Tukar Tambah Napi

WAWAN DWI/RADAR JEMBER HASIL BINAAN: Ahmad Sudiyono mantan Kepala Dispendik Kabupaten Jember yang tengah menjalani sisa hukuman sedang menujukkan hasil kreativitas penghuni Lapas kepada bupati Faida saat berkunjung ke Lapas Kelas II A Jembeer.

RADARJEMBER.ID – DENGAN kondisi overcapacity yang dihadapi oleh Lapas Kelas II A Jember, tidak heran apabila penghuni atau warga binaan harus berdesakan dalam satu sel. Pemindahan lapas pun hanya menjadi angan-angan saja. Hingga saat ini masih belum ada wacana untuk melanjutkan pembangunan lapas yang berada di daerah Sumbersari.

“Yang masuk lebih banyak daripada yang keluar. Misalnya yang keluar 50, yang masuk 90.” Sarju Wibowo (Kepala Lapas Kelas II A Jember)
IKLAN

Sarju Wibowo menuturkan, pihaknya belum menyiapkan rencana pembangunan lanjutan di lahan seluas 4,8 hektare tersebut. “Kami belum bikin proposal untuk diajukan ke Kementerian Hukum dan HAM, namun baru tahap gagasan saja,” ujarnya.

Selama ini yang dilakukan baru ‘tukar tambah’ narapidana dengan lapas di daerah lain seperti Situbondo. Narapidana dengan sisa hukuman sedikit, dipindah ke Situbondo. Sedangkan narapidana di Situbondo yang masa tahanannya masih lama atau baru divonis, dikirim ke Jember. “Karena kapasitasnya di Situbondo lebih kecil. Ini memang tidak memberikan solusi signifikan, tapi masih belum ada langkah kongkret lain yang dinilai bisa maksimal mengurangi overcapacity,” lanjutnya.

Sementara dari pusat pun masih belum ada solusi yang memadai untuk memecahkan permasalahan overcapacity tersebut. Yang muncul adalah penanganan pengelolaan penghuni lapas high risk seperti terorisme dan narkotika, supaya disendirikan dengan pengawasan yang super ketat.

Sarju mengakui tingkat kriminalitas di Indonesia, khususnya di Jember, masih sangat tinggi. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan antara tahanan yang masuk dengan narapidana yang dibebaskan. “Yang masuk lebih banyak daripada yang keluar. Misalnya yang keluar 50, yang masuk 90,” lanjut dia.

Alternatif lain adalah menyediakan kesempatan cuti bersyarat (CB) atau pembebasan bersyarat, agar bisa mengurangi jumlah warga binaan lapas. Serangkaian proses tentu harus dijalani oleh warga binaan sebelum mereka diizinkan untuk mengajukan CB.

Selain syarat administratif, warga binaan juga harus memenuhi syarat tambahan yaitu harus menghafal surat Al Fatihah beserta artinya. Selain itu juga harus mampu menghafal lima surat-surat pendek Alquran, memiliki lafaz bacaan salat yang terang dan baik, serta wajib hafal kelima sila Pancasila. “Ini adalah penambahan supaya mereka mendapat arahan lebih baik, khususnya di bidang agama supaya jadi lebih tekun selepas keluar dari sini. Kalau belum hafal, ya harus belajar lagi,” kata Sarju.

Beberapa penghuni lapas juga dibina untuk mengembangkan kreativitas mereka pada berbagai bidang, agar lebih muda beradaptasi di lingkungan masyarakat nantinya. Misalnya diajarkan membuat kerajinan tangan, mebelair, pengelasan, hingga tata boga.

Reporter : Lintang Anis Bena Kinanti
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji
Fotografer: Dwi Siswanto

Reporter :

Fotografer :

Editor :