Lembaga Pemasyarakatan Semakin Sesak; Apa Akibatnya? Jaga dan Kuatkan Spiritualitas

ANTISIPASI: Petugas kepolisian saat melakukan razia kepada para penghuni Lapas kelas II A Jember.

RADARJEMBER.ID –Menjadi warga binaan di lembaga pemasyarakatan tentu menjadi beban mental tersendiri bagi para pelakunya. Bahkan, akan sangat rentan jika tidak dibarengi dengan peningkatan sisi spiritualitas serta pembinaan kesehatan mental bagi warga binaan. Hal ini perlu dilakukan selain untuk menguatkan mental juga agar mereka bisa menyesali perbuatan yang dilakukan sebelumnya.

IKLAN

Seperti disampaikan M. Muslim, mantan penyuluh di Lapas Kelas II A Jember tahun 2016-2017. “Sisi spiritualitas warga binaan memang harus terjaga dan dirawat dengan baik,” tutur Muslim kemarin. Dijelaskan jika hal ini perlu dilakukan untuk mengimbangi tekanan berat selama berada di dalam Lapas Jember.

Di mana selain tekanan karena kebebasan terkekang dan tidak bisa keluar dari lapas, juga tekanan di dalam lapas sendiri. Kerasnya kehidupan lapas pun tak jauh berbeda dengan di luar. Oleh karena itu, pada 2016 lalu, Muslim yang menjadi Kasi Penyuluh di Kemenag Jember ini membuat program untuk bekerja sama dengan Lapas Kelas II A Jember. “Akhirnya kami membuat Pondok Pesantren Daarut Taubat,” jelas Muslim.

Pondok pesantren ini juga sama dengan layaknya pondok pesantren yang ada di luar. Di mana ada kegiatan mengaji, selawat, hafalan Alquran dan sebagainya. “Dalam seminggu ada 20 kali kegiatan yang dilakukan di lapas,” jelasnya. Dan kegiatan yang digagas bersama lapas ini diikuti hampir seluruh penghuni lapas yang beragama Islam. Mereka pun sangat giat untuk belajar agama bersama.

Sisi spiritualitas ini akhirnya bukan hanya untuk mengaji atau kegiatan rutin belaka. Namun ini juga menjadi ajang refreshing bersama di dalam lapas. Selain itu, menjadi cara bagi mereka meminta ampun tobat dari Yang Maha Pencipta. “Saat dilakukan sesi curhat, pasti kebanyakan menyesal sudah melakukan perbuatan kejahatan di masa lalu,” terangnya. Pihaknya tentu bukan sebagai pihak yang menghakimi.

Namun, yang dilakukan pihaknya lebih menekankan bagaimana mereka bangkit dan menjadi pribadi yang lebih baik di hari mendatang. Salah satunya bagaimana agar mereka diterima di masyarakat dengan pribadi yang lebih baik. Diakui Muslim, program yang dilakukannya ternyata cukup berhasil. “Banyak dari ‘alumni’ Napi ini yang malah setelah keluar jauh lebih religius dibandingkan sebelumnya,” ujar Muslim.

Dirinya pun merasa terharu bahwa beberapa kali dihubungi mantan warga binaan yang sudah berasimilasi ke masyarakat dengan sukses. “Ada yang terakhir mengabari sudah jadi hafiz. Ada juga yang keluar membuka TPQ (Taman Pendidikan Quran) di rumahnya,” ungkap Muslim. Ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi pihaknya agar ke depannya bisa lebih baik lagi.

Oleh karena itu, dijelaskan Muslim, pihaknya meskipun kini sudah tidak di penyuluh, masih bersedia jika diminta membantu. “Saat ini bagian penyuluhnya ada baru. Dan program yang di lapas masih dilanjutkan kok dan rutin ada,” terang Muslim. Pasalnya memang untuk spiritual ini dibutuhkan oleh pihak lapas dan para penghuninya. Makanya, Muslim menambahkan, program itu harus dijalankan.

Apalagi, ditambah untuk Lapas Kelas II A Jember diakui juga memiliki tingkat tekanan stress yang tinggi. “Karena memang over kapasitas kan,” terangnya. Dari kapasitas 380 orang, kini penghuninya ada sekitar 800 orang. Dan kondisi ini terjadi hampir di semua lapas di Indonesia. Oleh karena itu, spiritualitas di semua lapas harus dijaga dengan baik agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Reporter : Rangga Mahardika
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji
Fotografer: Jumai

Reporter :

Fotografer :

Editor :