Keseruan bela diri dengan pedang ala Zorro tersebut juga ada di kehidupan nyata. Bahkan juga dipertandingkan resmi di ajang kejuaraan dunia, yaitu cabang olahraga anggar. “Iya benar, memang mirip dengan Zorro kalau kita melihat permainan anggar,” ucap Wahyu Tobacco, pelatih anggar dari Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (Ikasi) Jember.
Bila Zorro memakai kostum serba hitam, lain halnya dengan anggar. Olahraga bela diri sekaligus seni berpedang tersebut mengenakan kostum pelindung serba putih dengan pelindung kepala bertopeng hitam.
Dahulu, anggar merupakan ilmu bela diri menggunakan senjata. Kemudian, berkembang lebih luas, jadi seni budaya olahraga ketangkasan dengan senjata. Hal itu juga diakui oleh Wahyu, bahwa bermain anggar ada seni yang menarik dalam mengolah senjata pedang.
Olahraga anggar menekankan pada kelincahan tangan seperti menangkis senjata lawan, termasuk melakukan serangan untuk mendapatkan poin. “Ya dalam olahraga anggar akan mendapatkan poin bila senjatanya mampu mengenai bagian tubuh lawan,” ujarnya.
Setiap pemain anggar yang hendak bermain, di bagian belakang pemain terdapat seutas kabel yang terhubung ke sebuah alat. Begitu pula dengan pedang yang dipakai. Bila pedang berhasil menusuk bagian tubuh lawan yang telah ditentukan, maka layar digital pun berubah angkanya yang menandakan ada poin masuk.
Wahyu menjelaskan, dalam anggar ada tiga jenis yang dipertandingkan. Yaitu floret atau foil, degen atau epee, dan sabel atau sabre. Perbedaan paling mencolok adalah cara mendapatkan poin. “Kalau floret yang jadi sasaran adalah bagian dada dan punggung saja. Kalau senjata terkena tangan, kaki, ataupun kepala tidak dapat poin. Jadi, fokusnya floret adalah dada,” ucapnya. Sedangkan sabel hanya menyerang bagian pinggang ke atas. Termasuk tangan, dada, punggung, hingga kepala. Sementara, untuk degen menyerang semua bagian tubuh.
Namun, untuk cara permainan, floret merupakan permainan dengan cara menusuk, begitu pula dengan degen. “Kalau sabel itu pedangnya bisa dipecutkan atau dicambukan,” pungkasnya.
Alfiani Putri Fitria, atlet anggar yang masih berstatus pelajar di SMAN 1 Jember, mengaku telah lama ikut anggar dan sekarang kembali lagi rutin berlatih, sejak pandemi mulai mereda. Alasan bermain anggar bagi Alfiani beragam. Mulai dari punya kesempatan lebih terbuka dalam meraih prestasi olahraga hingga mewujudkan suatu hal yang mustahil.
“Saingannya sedikit, jadi enak. Biasanya bermain pedang seperti anggar itu ada di kartun-kartun dan film. Tapi, sekarang bisa dilakukan sendiri,” ucapnya. (dwi/c2/lin) Editor : Ivona