alexametrics
23 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Tuai Pro Kontra

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gerakan Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) KONI Jember tetap menuai pro kontra dari pengurus cabang olahraga (cabor). Ada yang setuju dengan landasan pemikiran yang matang, begitu pula sebaliknya. Lalu, bagaimana tanggapan pengurus cabor-cabor tersebut?

Plt Ketua Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Jember Salim Puji Mulyono menjelaskan, Jember itu butuh perubahan supaya bisa menjadikan para atletnya lebih baik. Sebab, hingga kini, olahraga di Jember masih amburadul. Dia mencontohkan di Percasi. “Kepengurusan KONI berani menghadiri kegiatan Percasi tapi nggak ada legalitas Percasi,” ucapnya.

Padahal, pihaknya yang secara resmi merupakan pengurus Percasi dan memiliki SK. Belum lagi, kontribusi terhadap para atlet dinilai sangat minim. Karena itu, pihaknya berharap musorkablub dapat digelar. Dengan begitu, muncul ketua baru yang diharapkan bisa memajukan olahraga Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menilai, seharusnya memang begitu. Pengurus harus peduli terhadap anggotanya. Betapa sangat memprihatinkan, lanjutnya, banyak atlet Jember yang sampai keluar daerah. Sebab, mereka tidak mendapatkan perhatian sehingga memilih berkembang di daerah lain. “Harus ada perombakan KONI baru. Tujuannya, biar bisa lebih mengutamakan semua atlet tanpa membeda-bedakan,” ujarnya.

Selain itu, Ketua KONI sekarang dinilainya pernah melakukan hal yang kurang etis. “Yaitu, penggandaan stempel dan memberikan piagam kepada atlet dengan memakai kop Percasi,” ulasnya. Padahal, dirinya merupakan Plt ketua yang resmi menjabat. “Dan, kop itu ada di tangan saya,” jelasnya.

Meski begitu, dia menyatakan, hingga kini pihaknya masih menindaklanjuti kejadian yang berlangsung di salah satu pusat rekreasi keluarga di Ambulu sekitar sebulan lalu itu. “Masih praduga dan masih mendalami kebenarannya,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) Soetriono menegaskan, muskorkablub harus diadakan. Mengapa demikian? Sebelumnya, dia adalah salah seorang sosok yang mengusung Abdul Haris Avianto alias Alvin sebagai ketua. Sebab, Alvin dulu ingin mendobrak KONI karena cabor tidak diperhatikan.

Dia juga mengaku telah membahas banyak hal untuk kemajuan cabor Jember. Di antaranya, perencanaan mulai jangka pendek, menengah, hingga panjang. Selain itu, juga bagaimana agar ada koordinasi antara cabor unggulan dan supporting. “Sangat komplet pokoknya,” ujarnya.

Namun dalam perjalanan, dia mengungkapkan, hal itu tidak sesuai dengan kenyataan. Sempat ada agenda yang krusial terkait dengan persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), tapi target peringkat yang dicanangkan hanya satu digit. “Saya sudah katakan, tolong direvisi karena tidak rasional. Namun, tidak digubris,” terangnya.

Mulai perencanaan hingga aksi, KONI Jember dinilainya tak pernah ada perencanaan dan dukungan kepada para cabor. “Bayangkan, Pelti pulang bawa tiga medali dengan biaya mandiri sebanyak Rp 60 juta, ndak ada support,” ucapnya.

Jika demikian, bagaimana Jember mau maju. Kabupaten lain sudah lari, lanjutnya, Jember masih tidur. Belum lagi, kepengurusan sekarang dinilai tak becus dalam merealisasikan AD/ART. “Mereka enggan diberi saran dan lebih memilih diam,” katanya.

Selain itu, terkait dengan amanah AD/ART, juga disebutnya tidak pernah dilakukan. Seharusnya, ada rapat anggota setahun sekali. Bukan hanya rapat kepengurusan. Muaranya membahas tentang perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Namun, mulai kepengurusan 2018 hingga 2021, hal tersebut tak pernah terjadi.

Oleh karena itu, dia menambahkan, muskorkablub patut dilaksanakan. Sebab, Jember bakal menjadi tuan rumah Porprov. Maka dari itu, harus benar-benar matang menjadi tuan rumah dengan menyiapkan training center (TC) para atlet, panitia, hingga mengoptimalkan supaya mendapatkan prestasi yang baik. Namun kelihatannya, lanjut Soetriono, Alfin memang tidak mau ada musyawarah anggota. “Dan, seharusnya dia dapat surat teguran dari provinsi,” tegasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gerakan Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) KONI Jember tetap menuai pro kontra dari pengurus cabang olahraga (cabor). Ada yang setuju dengan landasan pemikiran yang matang, begitu pula sebaliknya. Lalu, bagaimana tanggapan pengurus cabor-cabor tersebut?

Plt Ketua Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Jember Salim Puji Mulyono menjelaskan, Jember itu butuh perubahan supaya bisa menjadikan para atletnya lebih baik. Sebab, hingga kini, olahraga di Jember masih amburadul. Dia mencontohkan di Percasi. “Kepengurusan KONI berani menghadiri kegiatan Percasi tapi nggak ada legalitas Percasi,” ucapnya.

Padahal, pihaknya yang secara resmi merupakan pengurus Percasi dan memiliki SK. Belum lagi, kontribusi terhadap para atlet dinilai sangat minim. Karena itu, pihaknya berharap musorkablub dapat digelar. Dengan begitu, muncul ketua baru yang diharapkan bisa memajukan olahraga Jember.

Dia menilai, seharusnya memang begitu. Pengurus harus peduli terhadap anggotanya. Betapa sangat memprihatinkan, lanjutnya, banyak atlet Jember yang sampai keluar daerah. Sebab, mereka tidak mendapatkan perhatian sehingga memilih berkembang di daerah lain. “Harus ada perombakan KONI baru. Tujuannya, biar bisa lebih mengutamakan semua atlet tanpa membeda-bedakan,” ujarnya.

Selain itu, Ketua KONI sekarang dinilainya pernah melakukan hal yang kurang etis. “Yaitu, penggandaan stempel dan memberikan piagam kepada atlet dengan memakai kop Percasi,” ulasnya. Padahal, dirinya merupakan Plt ketua yang resmi menjabat. “Dan, kop itu ada di tangan saya,” jelasnya.

Meski begitu, dia menyatakan, hingga kini pihaknya masih menindaklanjuti kejadian yang berlangsung di salah satu pusat rekreasi keluarga di Ambulu sekitar sebulan lalu itu. “Masih praduga dan masih mendalami kebenarannya,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) Soetriono menegaskan, muskorkablub harus diadakan. Mengapa demikian? Sebelumnya, dia adalah salah seorang sosok yang mengusung Abdul Haris Avianto alias Alvin sebagai ketua. Sebab, Alvin dulu ingin mendobrak KONI karena cabor tidak diperhatikan.

Dia juga mengaku telah membahas banyak hal untuk kemajuan cabor Jember. Di antaranya, perencanaan mulai jangka pendek, menengah, hingga panjang. Selain itu, juga bagaimana agar ada koordinasi antara cabor unggulan dan supporting. “Sangat komplet pokoknya,” ujarnya.

Namun dalam perjalanan, dia mengungkapkan, hal itu tidak sesuai dengan kenyataan. Sempat ada agenda yang krusial terkait dengan persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), tapi target peringkat yang dicanangkan hanya satu digit. “Saya sudah katakan, tolong direvisi karena tidak rasional. Namun, tidak digubris,” terangnya.

Mulai perencanaan hingga aksi, KONI Jember dinilainya tak pernah ada perencanaan dan dukungan kepada para cabor. “Bayangkan, Pelti pulang bawa tiga medali dengan biaya mandiri sebanyak Rp 60 juta, ndak ada support,” ucapnya.

Jika demikian, bagaimana Jember mau maju. Kabupaten lain sudah lari, lanjutnya, Jember masih tidur. Belum lagi, kepengurusan sekarang dinilai tak becus dalam merealisasikan AD/ART. “Mereka enggan diberi saran dan lebih memilih diam,” katanya.

Selain itu, terkait dengan amanah AD/ART, juga disebutnya tidak pernah dilakukan. Seharusnya, ada rapat anggota setahun sekali. Bukan hanya rapat kepengurusan. Muaranya membahas tentang perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Namun, mulai kepengurusan 2018 hingga 2021, hal tersebut tak pernah terjadi.

Oleh karena itu, dia menambahkan, muskorkablub patut dilaksanakan. Sebab, Jember bakal menjadi tuan rumah Porprov. Maka dari itu, harus benar-benar matang menjadi tuan rumah dengan menyiapkan training center (TC) para atlet, panitia, hingga mengoptimalkan supaya mendapatkan prestasi yang baik. Namun kelihatannya, lanjut Soetriono, Alfin memang tidak mau ada musyawarah anggota. “Dan, seharusnya dia dapat surat teguran dari provinsi,” tegasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gerakan Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) KONI Jember tetap menuai pro kontra dari pengurus cabang olahraga (cabor). Ada yang setuju dengan landasan pemikiran yang matang, begitu pula sebaliknya. Lalu, bagaimana tanggapan pengurus cabor-cabor tersebut?

Plt Ketua Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Jember Salim Puji Mulyono menjelaskan, Jember itu butuh perubahan supaya bisa menjadikan para atletnya lebih baik. Sebab, hingga kini, olahraga di Jember masih amburadul. Dia mencontohkan di Percasi. “Kepengurusan KONI berani menghadiri kegiatan Percasi tapi nggak ada legalitas Percasi,” ucapnya.

Padahal, pihaknya yang secara resmi merupakan pengurus Percasi dan memiliki SK. Belum lagi, kontribusi terhadap para atlet dinilai sangat minim. Karena itu, pihaknya berharap musorkablub dapat digelar. Dengan begitu, muncul ketua baru yang diharapkan bisa memajukan olahraga Jember.

Dia menilai, seharusnya memang begitu. Pengurus harus peduli terhadap anggotanya. Betapa sangat memprihatinkan, lanjutnya, banyak atlet Jember yang sampai keluar daerah. Sebab, mereka tidak mendapatkan perhatian sehingga memilih berkembang di daerah lain. “Harus ada perombakan KONI baru. Tujuannya, biar bisa lebih mengutamakan semua atlet tanpa membeda-bedakan,” ujarnya.

Selain itu, Ketua KONI sekarang dinilainya pernah melakukan hal yang kurang etis. “Yaitu, penggandaan stempel dan memberikan piagam kepada atlet dengan memakai kop Percasi,” ulasnya. Padahal, dirinya merupakan Plt ketua yang resmi menjabat. “Dan, kop itu ada di tangan saya,” jelasnya.

Meski begitu, dia menyatakan, hingga kini pihaknya masih menindaklanjuti kejadian yang berlangsung di salah satu pusat rekreasi keluarga di Ambulu sekitar sebulan lalu itu. “Masih praduga dan masih mendalami kebenarannya,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) Soetriono menegaskan, muskorkablub harus diadakan. Mengapa demikian? Sebelumnya, dia adalah salah seorang sosok yang mengusung Abdul Haris Avianto alias Alvin sebagai ketua. Sebab, Alvin dulu ingin mendobrak KONI karena cabor tidak diperhatikan.

Dia juga mengaku telah membahas banyak hal untuk kemajuan cabor Jember. Di antaranya, perencanaan mulai jangka pendek, menengah, hingga panjang. Selain itu, juga bagaimana agar ada koordinasi antara cabor unggulan dan supporting. “Sangat komplet pokoknya,” ujarnya.

Namun dalam perjalanan, dia mengungkapkan, hal itu tidak sesuai dengan kenyataan. Sempat ada agenda yang krusial terkait dengan persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), tapi target peringkat yang dicanangkan hanya satu digit. “Saya sudah katakan, tolong direvisi karena tidak rasional. Namun, tidak digubris,” terangnya.

Mulai perencanaan hingga aksi, KONI Jember dinilainya tak pernah ada perencanaan dan dukungan kepada para cabor. “Bayangkan, Pelti pulang bawa tiga medali dengan biaya mandiri sebanyak Rp 60 juta, ndak ada support,” ucapnya.

Jika demikian, bagaimana Jember mau maju. Kabupaten lain sudah lari, lanjutnya, Jember masih tidur. Belum lagi, kepengurusan sekarang dinilai tak becus dalam merealisasikan AD/ART. “Mereka enggan diberi saran dan lebih memilih diam,” katanya.

Selain itu, terkait dengan amanah AD/ART, juga disebutnya tidak pernah dilakukan. Seharusnya, ada rapat anggota setahun sekali. Bukan hanya rapat kepengurusan. Muaranya membahas tentang perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Namun, mulai kepengurusan 2018 hingga 2021, hal tersebut tak pernah terjadi.

Oleh karena itu, dia menambahkan, muskorkablub patut dilaksanakan. Sebab, Jember bakal menjadi tuan rumah Porprov. Maka dari itu, harus benar-benar matang menjadi tuan rumah dengan menyiapkan training center (TC) para atlet, panitia, hingga mengoptimalkan supaya mendapatkan prestasi yang baik. Namun kelihatannya, lanjut Soetriono, Alfin memang tidak mau ada musyawarah anggota. “Dan, seharusnya dia dapat surat teguran dari provinsi,” tegasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/