alexametrics
30.1 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Tampik Semua Alasan Musorkablub

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu pukul 10.12, sebuah ruangan di gedung Serba Guna GOR Kaliwates, lokasi Kantor KONI, kondisinya cukup sepi. Ketua KONI Jember Abdul Haris Afianto belum datang. Tiga jam kemudian, ruangan yang sebelumnya lengang, mulai ramai. Pria yang karib disapa Alfin itu berkumpul bersama beberapa ketua cabor. Mereka menikmati makan siang. “Ya, beginilah suasana kami. Kumpul, makan bareng,” ujarnya, sembari melahap seporsi mi.

Alfin menepis gonjang-ganjing bahwa ada pihak yang menginginkan kepemimpinannya putus di tengah jalan. Dia menilai, alasan kudeta yang diinisiasi oleh beberapa pihak itu tidak cukup kuat. Sebab, kewenangan pemberhentian kepengurusan KONI kabupaten di bawah instruksi langsung dari KONI provinsi. Itu pun jika terdapat masalah di dalam tubuh KONI Jember. Misalnya, adanya kasus korupsi yang melibatkan ketua.

“KONI (kepengurusan KONI Jember, Red) hanya bisa diberhentikan oleh KONI Jatim. Siapa pun di luar itu, tidak bisa memutus kepemimpinan KONI di tengah jalan. Apa kepentingannya mau memutus di tengah jalan?” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, Selasa (23/3) lalu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pihak yang menghendaki adanya Musyawarah Olahraga Luar Biasa Kabupaten (Musorkablub) Jember menuding, selama kepemimpinan Alfin, KONI Jember stagnan bahkan mengalami penurunan prestasi di setiap cabang olahraga (cabor). Selain itu, juga tidak ada anggaran yang mengalir untuk pembinaan atlet di masing-masing cabor, serta rapat evaluasi yang dilakukan secara berkala.

Alfin menampik semua alasan yang menjadi dasar pengusungan musorkablub. Dia menuturkan, selama kepemimpinannya memang tidak ada anggaran atau pendanaan dari Pemkab Jember untuk cabor ataupun untuk melengkapi sarana prasarana. “Internal KONI tidak ada keuangan. Cabor tidak ada keuangan. Sarpras juga tidak ada keuangan. Aku membiayai sendiri,” klaimnya.

Alfin menyatakan, hingga saat ini dirinya konsisten melakukan rapat evaluasi dengan cabor. Dalam skala cabor, rapat dilakukan dalam dua pekan sekali. Selebihnya, koordinasi dilakukan oleh perwakilan cabor di kantor KONI dalam kepengurusan harian. Setidaknya, terdapat 10 pengurus yang bertugas setiap hari di kantor KONI. “Kami selalu rapat evaluasi cabor. Setiap bulan kami datangi. Tiap hari kami ada komunikasi dan koordinasi jadi satu. Karena di sini tidak ada orang politik. Semua orang olahraga,” elaknya.

Alfin juga percaya diri bahwa musorkablub itu tidak akan berhasil. Sebab, berdasarkan data cabor yang dihimpunnya, sebanyak 17 cabor mendukung kepemimpinannya. Hanya sembilan cabor yang menghendaki musorkablub. Sedangkan sisanya, abstain. Perinciannya, enam cabor tidak memiliki hak suara lantaran SK tidak diperbarui, dan tujuh cabor berada di pihak netral atau belum menentukan sikap.

Cabor yang mendukung kepengurusan Alfin ini mengirimkan surat berstempel serta bermeterai yang ditandatangani langsung oleh ketua masing-masing cabor. Surat tersebut berisi dukungan atas kepemimpinannya dan mencabut pernyataan mosi tidak percaya yang sebelumnya telah ditandatangani. “Data ini sudah dikirim ke KONI Jatim. Sehingga mereka tidak bisa mencabut lagi,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu pukul 10.12, sebuah ruangan di gedung Serba Guna GOR Kaliwates, lokasi Kantor KONI, kondisinya cukup sepi. Ketua KONI Jember Abdul Haris Afianto belum datang. Tiga jam kemudian, ruangan yang sebelumnya lengang, mulai ramai. Pria yang karib disapa Alfin itu berkumpul bersama beberapa ketua cabor. Mereka menikmati makan siang. “Ya, beginilah suasana kami. Kumpul, makan bareng,” ujarnya, sembari melahap seporsi mi.

Alfin menepis gonjang-ganjing bahwa ada pihak yang menginginkan kepemimpinannya putus di tengah jalan. Dia menilai, alasan kudeta yang diinisiasi oleh beberapa pihak itu tidak cukup kuat. Sebab, kewenangan pemberhentian kepengurusan KONI kabupaten di bawah instruksi langsung dari KONI provinsi. Itu pun jika terdapat masalah di dalam tubuh KONI Jember. Misalnya, adanya kasus korupsi yang melibatkan ketua.

“KONI (kepengurusan KONI Jember, Red) hanya bisa diberhentikan oleh KONI Jatim. Siapa pun di luar itu, tidak bisa memutus kepemimpinan KONI di tengah jalan. Apa kepentingannya mau memutus di tengah jalan?” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, Selasa (23/3) lalu.

Pihak yang menghendaki adanya Musyawarah Olahraga Luar Biasa Kabupaten (Musorkablub) Jember menuding, selama kepemimpinan Alfin, KONI Jember stagnan bahkan mengalami penurunan prestasi di setiap cabang olahraga (cabor). Selain itu, juga tidak ada anggaran yang mengalir untuk pembinaan atlet di masing-masing cabor, serta rapat evaluasi yang dilakukan secara berkala.

Alfin menampik semua alasan yang menjadi dasar pengusungan musorkablub. Dia menuturkan, selama kepemimpinannya memang tidak ada anggaran atau pendanaan dari Pemkab Jember untuk cabor ataupun untuk melengkapi sarana prasarana. “Internal KONI tidak ada keuangan. Cabor tidak ada keuangan. Sarpras juga tidak ada keuangan. Aku membiayai sendiri,” klaimnya.

Alfin menyatakan, hingga saat ini dirinya konsisten melakukan rapat evaluasi dengan cabor. Dalam skala cabor, rapat dilakukan dalam dua pekan sekali. Selebihnya, koordinasi dilakukan oleh perwakilan cabor di kantor KONI dalam kepengurusan harian. Setidaknya, terdapat 10 pengurus yang bertugas setiap hari di kantor KONI. “Kami selalu rapat evaluasi cabor. Setiap bulan kami datangi. Tiap hari kami ada komunikasi dan koordinasi jadi satu. Karena di sini tidak ada orang politik. Semua orang olahraga,” elaknya.

Alfin juga percaya diri bahwa musorkablub itu tidak akan berhasil. Sebab, berdasarkan data cabor yang dihimpunnya, sebanyak 17 cabor mendukung kepemimpinannya. Hanya sembilan cabor yang menghendaki musorkablub. Sedangkan sisanya, abstain. Perinciannya, enam cabor tidak memiliki hak suara lantaran SK tidak diperbarui, dan tujuh cabor berada di pihak netral atau belum menentukan sikap.

Cabor yang mendukung kepengurusan Alfin ini mengirimkan surat berstempel serta bermeterai yang ditandatangani langsung oleh ketua masing-masing cabor. Surat tersebut berisi dukungan atas kepemimpinannya dan mencabut pernyataan mosi tidak percaya yang sebelumnya telah ditandatangani. “Data ini sudah dikirim ke KONI Jatim. Sehingga mereka tidak bisa mencabut lagi,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu pukul 10.12, sebuah ruangan di gedung Serba Guna GOR Kaliwates, lokasi Kantor KONI, kondisinya cukup sepi. Ketua KONI Jember Abdul Haris Afianto belum datang. Tiga jam kemudian, ruangan yang sebelumnya lengang, mulai ramai. Pria yang karib disapa Alfin itu berkumpul bersama beberapa ketua cabor. Mereka menikmati makan siang. “Ya, beginilah suasana kami. Kumpul, makan bareng,” ujarnya, sembari melahap seporsi mi.

Alfin menepis gonjang-ganjing bahwa ada pihak yang menginginkan kepemimpinannya putus di tengah jalan. Dia menilai, alasan kudeta yang diinisiasi oleh beberapa pihak itu tidak cukup kuat. Sebab, kewenangan pemberhentian kepengurusan KONI kabupaten di bawah instruksi langsung dari KONI provinsi. Itu pun jika terdapat masalah di dalam tubuh KONI Jember. Misalnya, adanya kasus korupsi yang melibatkan ketua.

“KONI (kepengurusan KONI Jember, Red) hanya bisa diberhentikan oleh KONI Jatim. Siapa pun di luar itu, tidak bisa memutus kepemimpinan KONI di tengah jalan. Apa kepentingannya mau memutus di tengah jalan?” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, Selasa (23/3) lalu.

Pihak yang menghendaki adanya Musyawarah Olahraga Luar Biasa Kabupaten (Musorkablub) Jember menuding, selama kepemimpinan Alfin, KONI Jember stagnan bahkan mengalami penurunan prestasi di setiap cabang olahraga (cabor). Selain itu, juga tidak ada anggaran yang mengalir untuk pembinaan atlet di masing-masing cabor, serta rapat evaluasi yang dilakukan secara berkala.

Alfin menampik semua alasan yang menjadi dasar pengusungan musorkablub. Dia menuturkan, selama kepemimpinannya memang tidak ada anggaran atau pendanaan dari Pemkab Jember untuk cabor ataupun untuk melengkapi sarana prasarana. “Internal KONI tidak ada keuangan. Cabor tidak ada keuangan. Sarpras juga tidak ada keuangan. Aku membiayai sendiri,” klaimnya.

Alfin menyatakan, hingga saat ini dirinya konsisten melakukan rapat evaluasi dengan cabor. Dalam skala cabor, rapat dilakukan dalam dua pekan sekali. Selebihnya, koordinasi dilakukan oleh perwakilan cabor di kantor KONI dalam kepengurusan harian. Setidaknya, terdapat 10 pengurus yang bertugas setiap hari di kantor KONI. “Kami selalu rapat evaluasi cabor. Setiap bulan kami datangi. Tiap hari kami ada komunikasi dan koordinasi jadi satu. Karena di sini tidak ada orang politik. Semua orang olahraga,” elaknya.

Alfin juga percaya diri bahwa musorkablub itu tidak akan berhasil. Sebab, berdasarkan data cabor yang dihimpunnya, sebanyak 17 cabor mendukung kepemimpinannya. Hanya sembilan cabor yang menghendaki musorkablub. Sedangkan sisanya, abstain. Perinciannya, enam cabor tidak memiliki hak suara lantaran SK tidak diperbarui, dan tujuh cabor berada di pihak netral atau belum menentukan sikap.

Cabor yang mendukung kepengurusan Alfin ini mengirimkan surat berstempel serta bermeterai yang ditandatangani langsung oleh ketua masing-masing cabor. Surat tersebut berisi dukungan atas kepemimpinannya dan mencabut pernyataan mosi tidak percaya yang sebelumnya telah ditandatangani. “Data ini sudah dikirim ke KONI Jatim. Sehingga mereka tidak bisa mencabut lagi,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/