#PSSIHarusBaik2

Mau Timnas Indonesia Bagus? Tolong, PSSI Benahi Kompetisi Dulu

Dari kiri, Mohammad Ilham, Sarman El Hakim, Vijaya Fitriyasa, dan Arief Wicaksono, dalan diskusi PSSI Harus Baik 2 (23/10). (Allex Qomarulla/Jawa Pos

JawaPos.com – Prestasi timnas senior tengah disorot. Bukannya semakin baik setiap tahun, yang terjadi malah sebaliknya. Kian jeblok. Padahal, di level usia muda, torehan Garuda Muda cukup menjanjikan.

IKLAN

Berbagai catatan membanggakan ditorehkan timnas kelompok umur (KU) Indonesia. Di antaranya, pada 2018, trofi juara diberikan timnas U-16 pada ajang AFF Cup U-16. Bahkan, tim asuhan Fakhri Husaini tersebut hampir saja melangkah ke Piala Dunia U-17 di Peru. Kemudian, pada awal tahun ini, giliran timnas U-22 yang memberikan gelar AFF Cup.

Lalu, kapan timnas senior akan membanggakan? Dalam satu dekade ini, Indonesia mentok finis sebagai runner-up. Kali terakhir Indonesia menyabet trofi pada 2008. Itu pun cuma trofi di ajang bertajuk Piala Kemerdekaan. Padahal, prestasi timnas senior menjadi tolok ukur posisi Indonesia di ranking FIFA.

Lantas, apa yang membuat prestasi timnas senior merosot? Dalam diskusi PSSI Harus Baik Vol 2, Berubah atau Bubrah! Rabu lalu (23/10), tiga calon ketua umum PSSI, yakni Vijaya Fitriyasa, Arif Putra Wicaksono, dan Sarman El Hakim, mencoba membedah masalah tersebut.

Kompetisi menjadi salah satu faktor penting. Jadwal kompetisi pasti menjadi sorotan. Namun, itu hanya muaranya. Masalah utama terletak pada pengelolaan. Saat ini, Liga 3 Nasional hingga Liga 1 dipegang PT LIB. Imbasnya, seperti ada kesenjangan dan terkesan mengistimewakan Liga 1.

Namun, pengelolaan Liga 1 pun jauh dari kata sempurna. Vijaya Fitriyasa mengungkapkan gagasannya untuk pembenahan pengelolaan kompetisi di Indonesia. ”Menurut saya, pengelolaan kompetisi harus dipisah ya. Antara Liga 1, 2, dan 3 Nasional. Sehingga tidak ada yang dianaktirikan. Bisa fokus semua,” kata pria yang juga owner Persis Solo tersebut.

Gagasan lain dikemukakan calon ketua PSSI lainnya, Arif Putra Wicaksono. Menurut dia, selain pengelola kompetisi, klub pun harus berbenah. ”Di Indonesia ini masih banyak tim yang belum sesuai dengan standar FIFA. Memang untuk negara di golongan ketiga ada kelonggaran. Namun, bukan berarti harus selalu seperti itu,” jelas Arif.

”Jika secara finansial dan empat elemen lain yang sesuai dengan standar FIFA bisa dipenuhi, pasti untuk menjalankan kompetisi pun akan lebih baik,” imbuh CEO Nine Sport tersebut.

Selain itu, kualitas pelatih di Indonesia cukup berpengaruh. Saat ini, di Indonesia, pelatih yang berlisensi A Pro baru 20-an. Itu pun baru ada tahun ini. Jauh berbeda dengan di Spanyol yang mencapai 3.000 pelatih.

”Seharusnya PSSI bisa bekerja sama dengan pemerintah untuk mendapatkan beasiswa sertifikasi bagi pelatih. Karena biaya kursus kepelatihan kan nggak murah. Sebenarnya pemerintah punya program LPDP, itu bisa digunakan,” beber Vijaya. ”Nantinya, mantan pemain timnas akan diseleksi. Yang layak akan mendapat beasiswa itu. Setelah lulus, bisa disebar ke Liga 1, 2, bahkan 3. Kalau nggak bisa di ketiganya, ditaruh di akademi. Jadi, kualitasnya merata,” imbuhnya.

Di sisi lain, soal kualitas pelatih, Arif punya pandangan lain. Arif lebih percaya sister club menjadi salah satu cara jitu untuk meningkatkan kualitas pelatih di Indonesia. ”Ini berlaku untuk semua klub. Jadi, setiap klub mengirimkan tactical director untuk mendampingi tim. Ini berlaku levelnya harus dari tim muda sampai tim senior,” tegas Arif.

Editor : Mohammad Ilham

Reporter : nia/ali

Reporter :

Fotografer :

Editor :