alexametrics
23.8 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Abaikan Polemik di Tubuh Percasi Jember, Pelajar ini Bikin Kejutan

Anak Pesantren Bikin Kejutan di Catur Miliki Bakat Alami, Perlu Dilatih Teori

Mobile_AP_Rectangle 1

SLAWU, RADARJEMBER.ID – Polemik di tubuh organisasi pecatur, Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Jember, ternyata tidak menyurutkan semangat pecatur ikut dalam seleksi atlet menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim. Bahkan, dalam seleksi tersebut juga muncul pecatur dengan bakat alami.

Seleksi sesi pertama, 25–26 September, di GOR SMPN 7 Jember tersebut didominasi para pelajar. Bahkan, tidak sedikit pecatur yang tak mengetahui teori justru unggul. Salah satunya yang jadi kejutan adalah Shela Syahda Zakia yang mendapatkan poin dua atau dua kemenangan dalam seleksi sesi pertama tersebut.

Pelajar 16 tahun yang sehari-hari tinggal di sebuah pondok pesantren (ponpes) di Desa Kesilir, Kecamatan Wuluhan itu, juga menjadi perhatian panitia dalam event yang dilaksanakan oleh tim peralihan Percasi dari KONI Jember tersebut. Bukan karena dia mampu mengalahkan lawannya yang ikut klub catur. Tapi, dia juga dinasihati untuk belajar mencatat notasi permainan caturnya. “Semisal nanti lolos dan masuk TC (training center atau pemusatan latihan, Red), wajib belajar menghitung notasi dan wajib dicatat,” ucap Husen, salah satu wasit saat berbicara kepada Shela.

Mobile_AP_Rectangle 2

Husen, yang juga wasit nasional pratama dalam percaturan ini, menjelaskan, dalam pertandingan Porprov Jatim nanti setiap langkah wajib dicatat notasinya. “Mencatat notasi catur ini penting, karena terjadi hal tidak diinginkan seperti guncangan dan membuat semua buah catur terjatuh. Maka, dari catatan notasi tersebut bisa dimulai kembali, dan notasi bisa jadi bahan evaluasi,” terangnya.

Sementara itu, Sheila mengaku, dia belajar catur dari temannya di ponpes. Dia juga tidak tahu cara mencatat langkah. “Kalau lolos seleksi, rencananya ikut privat,” ucap perempuan yang pernah merasakan juara 3 catur dalam Aksioma 2016 itu.

Di lokasi yang sama, Ketua Panitia Seleksi Catur Ujang Setioko mengatakan, dalam seleksi sesi pertama tersebut bakat alami masih ada. Artinya, mereka bermain catur tanpa teori. Namun, kata dia, hanya mengandalkan bakat alami saja tidak akan cukup untuk kompetisi di Porprov Jatim. Karena itu, bakat alami tetap harus dipoles dengan teori-teori catur.

- Advertisement -

SLAWU, RADARJEMBER.ID – Polemik di tubuh organisasi pecatur, Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Jember, ternyata tidak menyurutkan semangat pecatur ikut dalam seleksi atlet menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim. Bahkan, dalam seleksi tersebut juga muncul pecatur dengan bakat alami.

Seleksi sesi pertama, 25–26 September, di GOR SMPN 7 Jember tersebut didominasi para pelajar. Bahkan, tidak sedikit pecatur yang tak mengetahui teori justru unggul. Salah satunya yang jadi kejutan adalah Shela Syahda Zakia yang mendapatkan poin dua atau dua kemenangan dalam seleksi sesi pertama tersebut.

Pelajar 16 tahun yang sehari-hari tinggal di sebuah pondok pesantren (ponpes) di Desa Kesilir, Kecamatan Wuluhan itu, juga menjadi perhatian panitia dalam event yang dilaksanakan oleh tim peralihan Percasi dari KONI Jember tersebut. Bukan karena dia mampu mengalahkan lawannya yang ikut klub catur. Tapi, dia juga dinasihati untuk belajar mencatat notasi permainan caturnya. “Semisal nanti lolos dan masuk TC (training center atau pemusatan latihan, Red), wajib belajar menghitung notasi dan wajib dicatat,” ucap Husen, salah satu wasit saat berbicara kepada Shela.

Husen, yang juga wasit nasional pratama dalam percaturan ini, menjelaskan, dalam pertandingan Porprov Jatim nanti setiap langkah wajib dicatat notasinya. “Mencatat notasi catur ini penting, karena terjadi hal tidak diinginkan seperti guncangan dan membuat semua buah catur terjatuh. Maka, dari catatan notasi tersebut bisa dimulai kembali, dan notasi bisa jadi bahan evaluasi,” terangnya.

Sementara itu, Sheila mengaku, dia belajar catur dari temannya di ponpes. Dia juga tidak tahu cara mencatat langkah. “Kalau lolos seleksi, rencananya ikut privat,” ucap perempuan yang pernah merasakan juara 3 catur dalam Aksioma 2016 itu.

Di lokasi yang sama, Ketua Panitia Seleksi Catur Ujang Setioko mengatakan, dalam seleksi sesi pertama tersebut bakat alami masih ada. Artinya, mereka bermain catur tanpa teori. Namun, kata dia, hanya mengandalkan bakat alami saja tidak akan cukup untuk kompetisi di Porprov Jatim. Karena itu, bakat alami tetap harus dipoles dengan teori-teori catur.

SLAWU, RADARJEMBER.ID – Polemik di tubuh organisasi pecatur, Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Jember, ternyata tidak menyurutkan semangat pecatur ikut dalam seleksi atlet menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim. Bahkan, dalam seleksi tersebut juga muncul pecatur dengan bakat alami.

Seleksi sesi pertama, 25–26 September, di GOR SMPN 7 Jember tersebut didominasi para pelajar. Bahkan, tidak sedikit pecatur yang tak mengetahui teori justru unggul. Salah satunya yang jadi kejutan adalah Shela Syahda Zakia yang mendapatkan poin dua atau dua kemenangan dalam seleksi sesi pertama tersebut.

Pelajar 16 tahun yang sehari-hari tinggal di sebuah pondok pesantren (ponpes) di Desa Kesilir, Kecamatan Wuluhan itu, juga menjadi perhatian panitia dalam event yang dilaksanakan oleh tim peralihan Percasi dari KONI Jember tersebut. Bukan karena dia mampu mengalahkan lawannya yang ikut klub catur. Tapi, dia juga dinasihati untuk belajar mencatat notasi permainan caturnya. “Semisal nanti lolos dan masuk TC (training center atau pemusatan latihan, Red), wajib belajar menghitung notasi dan wajib dicatat,” ucap Husen, salah satu wasit saat berbicara kepada Shela.

Husen, yang juga wasit nasional pratama dalam percaturan ini, menjelaskan, dalam pertandingan Porprov Jatim nanti setiap langkah wajib dicatat notasinya. “Mencatat notasi catur ini penting, karena terjadi hal tidak diinginkan seperti guncangan dan membuat semua buah catur terjatuh. Maka, dari catatan notasi tersebut bisa dimulai kembali, dan notasi bisa jadi bahan evaluasi,” terangnya.

Sementara itu, Sheila mengaku, dia belajar catur dari temannya di ponpes. Dia juga tidak tahu cara mencatat langkah. “Kalau lolos seleksi, rencananya ikut privat,” ucap perempuan yang pernah merasakan juara 3 catur dalam Aksioma 2016 itu.

Di lokasi yang sama, Ketua Panitia Seleksi Catur Ujang Setioko mengatakan, dalam seleksi sesi pertama tersebut bakat alami masih ada. Artinya, mereka bermain catur tanpa teori. Namun, kata dia, hanya mengandalkan bakat alami saja tidak akan cukup untuk kompetisi di Porprov Jatim. Karena itu, bakat alami tetap harus dipoles dengan teori-teori catur.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/