alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Kegigihan yang Kuat Berujung Prestasi

Demi menjadi juara, dibutuhkan keuletan serta pengorbanan. Hal itu yang dirasakan Muhammad Dicqi Alfan Habibi, pesilat muda dengan segudang prestasi. Baginya, proses sangatlah penting untuk mencapai kesuksesan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pencak silat menjadi salah satu cabang olahraga bela diri asal Nusantara yang sudah tenar. Selain dapat melindungi diri, olahraga ini juga dapat melatih konsentrasi. Hal itulah yang melatarbelakangi Muhammad Dicqi Alfan Habibi untuk menekuni pencak silat.

BACA JUGA : 1000 Ekor Sapi Probolinggo Diduga Tertular PMK

Alfan mengaku mengenal pencak silat sejak masih duduk di bangku kelas enam SD. Hal itu berawal dari seringnya melihat teman sebayanya mengikuti latihan silat. “Sebelumnya saya tidak tertarik dengan silat. Namun, seiring berjalannya waktu ada timbul penasaran,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pria 22 tahun tersebut tak sepi dari gelar juara sejak berkecimpung di dunia pencak silat. Namun, untuk berada pada titik tersebut, Alfan yang asli Kecamatan Wuluhan, Jember, tersebut mengaku sempat mengalami masa bosan sebelum menekuni dunia silat.

Alfan menceritakan, awal mengikuti silat tak terlepas dari ajakan teman. Lebih lanjut, pada latihan pertama kali dia merasa penasaran. Pasalnya, latihan silat selalu diakhiri pada dini hari. Setelah menjadi anggota PSHT, dia memberanikan diri mengikuti kejuaraan UNEJ Cup se-Jawa-Bali. “Pertandingan awal tersebut, saya salah nomor. Seharusnya mengikuti nomor remaja, tetapi saya ikut yang dewasa,” paparnya.

Minim pengalaman, tentu tidak membuahkan hasil baginya. Kendati demikian, dirinya terus berlatih hingga pada masa Alfan mengaku sempat bosan. “Bosan, karena latihan sendiri, gerakan itu-itu saja,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pencak silat menjadi salah satu cabang olahraga bela diri asal Nusantara yang sudah tenar. Selain dapat melindungi diri, olahraga ini juga dapat melatih konsentrasi. Hal itulah yang melatarbelakangi Muhammad Dicqi Alfan Habibi untuk menekuni pencak silat.

BACA JUGA : 1000 Ekor Sapi Probolinggo Diduga Tertular PMK

Alfan mengaku mengenal pencak silat sejak masih duduk di bangku kelas enam SD. Hal itu berawal dari seringnya melihat teman sebayanya mengikuti latihan silat. “Sebelumnya saya tidak tertarik dengan silat. Namun, seiring berjalannya waktu ada timbul penasaran,” jelasnya.

Pria 22 tahun tersebut tak sepi dari gelar juara sejak berkecimpung di dunia pencak silat. Namun, untuk berada pada titik tersebut, Alfan yang asli Kecamatan Wuluhan, Jember, tersebut mengaku sempat mengalami masa bosan sebelum menekuni dunia silat.

Alfan menceritakan, awal mengikuti silat tak terlepas dari ajakan teman. Lebih lanjut, pada latihan pertama kali dia merasa penasaran. Pasalnya, latihan silat selalu diakhiri pada dini hari. Setelah menjadi anggota PSHT, dia memberanikan diri mengikuti kejuaraan UNEJ Cup se-Jawa-Bali. “Pertandingan awal tersebut, saya salah nomor. Seharusnya mengikuti nomor remaja, tetapi saya ikut yang dewasa,” paparnya.

Minim pengalaman, tentu tidak membuahkan hasil baginya. Kendati demikian, dirinya terus berlatih hingga pada masa Alfan mengaku sempat bosan. “Bosan, karena latihan sendiri, gerakan itu-itu saja,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pencak silat menjadi salah satu cabang olahraga bela diri asal Nusantara yang sudah tenar. Selain dapat melindungi diri, olahraga ini juga dapat melatih konsentrasi. Hal itulah yang melatarbelakangi Muhammad Dicqi Alfan Habibi untuk menekuni pencak silat.

BACA JUGA : 1000 Ekor Sapi Probolinggo Diduga Tertular PMK

Alfan mengaku mengenal pencak silat sejak masih duduk di bangku kelas enam SD. Hal itu berawal dari seringnya melihat teman sebayanya mengikuti latihan silat. “Sebelumnya saya tidak tertarik dengan silat. Namun, seiring berjalannya waktu ada timbul penasaran,” jelasnya.

Pria 22 tahun tersebut tak sepi dari gelar juara sejak berkecimpung di dunia pencak silat. Namun, untuk berada pada titik tersebut, Alfan yang asli Kecamatan Wuluhan, Jember, tersebut mengaku sempat mengalami masa bosan sebelum menekuni dunia silat.

Alfan menceritakan, awal mengikuti silat tak terlepas dari ajakan teman. Lebih lanjut, pada latihan pertama kali dia merasa penasaran. Pasalnya, latihan silat selalu diakhiri pada dini hari. Setelah menjadi anggota PSHT, dia memberanikan diri mengikuti kejuaraan UNEJ Cup se-Jawa-Bali. “Pertandingan awal tersebut, saya salah nomor. Seharusnya mengikuti nomor remaja, tetapi saya ikut yang dewasa,” paparnya.

Minim pengalaman, tentu tidak membuahkan hasil baginya. Kendati demikian, dirinya terus berlatih hingga pada masa Alfan mengaku sempat bosan. “Bosan, karena latihan sendiri, gerakan itu-itu saja,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/