alexametrics
23.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Kisah Shiddiq Bahiri, Pemain Timnas Sepak Bola Amputasi Asli Jember

Di balik kekurangan, pasti ada kelebihan. Hal itu ditunjukkan Shiddiq Bahiri, pemuda asli Jember. Dia menjadi salah satu orang yang gigih memperjuangkan timnas sepak bola amputasi.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tim nasional sepak bola amputasi Indonesia sukses mengharumkan tanah air. Itu setelah memastikan satu tiket untuk tampil di Piala Dunia Amputasi tahun ini. Hasil tersebut mengantarkan timnas sepak bola amputasi Indonesia melaju ke putaran final Amputee Football World Cup 2022 yang akan berlangsung di Turki pada Oktober mendatang.

Baca Juga : Hore! Lebaran Bisa Mudik, Syaratnya Harus Vaksin Saja

Dari kesuksesan tersebut, ada cerita menarik dari salah seorang penggawa timnas amputasi Indonesia, yakni Muhammad Shiddiq Bahiri. Memiliki satu kaki saja tak lantas membuatnya kehilangan semangat bermain sepak bola.

Mobile_AP_Rectangle 2

Setelah timnas amputasi Indonesia memastikan tiket menuju Turki dan kepastian lolos itu diperoleh setelah menduduki posisi runner-up, karena kalah 0-2 dari Jepang, Senin (14/3), sosok Shiddiq menjadi sorotan, khususnya di kalangan warga Jember. Setelah kita mengenal nama Bayu Gatra yang sudah menjadi penggawa di timnas sepak bola Indonesia, kini muncul Shiddiq yang menjadi sorotan publik. Sebab, berhasil mengantarkan timnas amputasi Indonesia melaju ke putaran piala dunia di Turki nanti.

Shiddiq merupakan seorang santri dan tercatat sebagai mahasiswa di Kampus Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyah (Inaifas), Kecamatan Kencong, Jember. Sebelum masuk skuad tim Persaid Jember, pria berambut gondrong tersebut dulunya bukan siapa-siapa.
Shiddiq, panggilan akrabnya, merupakan pria asal Desa Kasiyan, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember. Dia mulai bermain sepak bola sejak kanak-kanak. Bermain bersama anak-anak normal tak lantas membuatnya kecil hati.

Bermula dari bermain di depan rumah tetangga seperti permainan anak pada umumnya, hingga berlatih d isalah satu klub yang bermarkas di lapangan Darungan, Kecamatan Puger. Dia pun berpindah lapangan di Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi.

Sekitar tahun 2019 dia masuk Persaid Jember. Bersama squad Persaid, dia menjadi penggawa penting dalam tim bola amputasi Jember. Pria ini juga pernah menjadi top scorer dalam turnamen yang digelar Persaid. “Pada ajang Troveo, yang diikuti oleh tiga tim, kebetulan saya menjadi top scorer dengan sembilan goal,” kata Shiddiq.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tim nasional sepak bola amputasi Indonesia sukses mengharumkan tanah air. Itu setelah memastikan satu tiket untuk tampil di Piala Dunia Amputasi tahun ini. Hasil tersebut mengantarkan timnas sepak bola amputasi Indonesia melaju ke putaran final Amputee Football World Cup 2022 yang akan berlangsung di Turki pada Oktober mendatang.

Baca Juga : Hore! Lebaran Bisa Mudik, Syaratnya Harus Vaksin Saja

Dari kesuksesan tersebut, ada cerita menarik dari salah seorang penggawa timnas amputasi Indonesia, yakni Muhammad Shiddiq Bahiri. Memiliki satu kaki saja tak lantas membuatnya kehilangan semangat bermain sepak bola.

Setelah timnas amputasi Indonesia memastikan tiket menuju Turki dan kepastian lolos itu diperoleh setelah menduduki posisi runner-up, karena kalah 0-2 dari Jepang, Senin (14/3), sosok Shiddiq menjadi sorotan, khususnya di kalangan warga Jember. Setelah kita mengenal nama Bayu Gatra yang sudah menjadi penggawa di timnas sepak bola Indonesia, kini muncul Shiddiq yang menjadi sorotan publik. Sebab, berhasil mengantarkan timnas amputasi Indonesia melaju ke putaran piala dunia di Turki nanti.

Shiddiq merupakan seorang santri dan tercatat sebagai mahasiswa di Kampus Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyah (Inaifas), Kecamatan Kencong, Jember. Sebelum masuk skuad tim Persaid Jember, pria berambut gondrong tersebut dulunya bukan siapa-siapa.
Shiddiq, panggilan akrabnya, merupakan pria asal Desa Kasiyan, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember. Dia mulai bermain sepak bola sejak kanak-kanak. Bermain bersama anak-anak normal tak lantas membuatnya kecil hati.

Bermula dari bermain di depan rumah tetangga seperti permainan anak pada umumnya, hingga berlatih d isalah satu klub yang bermarkas di lapangan Darungan, Kecamatan Puger. Dia pun berpindah lapangan di Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi.

Sekitar tahun 2019 dia masuk Persaid Jember. Bersama squad Persaid, dia menjadi penggawa penting dalam tim bola amputasi Jember. Pria ini juga pernah menjadi top scorer dalam turnamen yang digelar Persaid. “Pada ajang Troveo, yang diikuti oleh tiga tim, kebetulan saya menjadi top scorer dengan sembilan goal,” kata Shiddiq.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tim nasional sepak bola amputasi Indonesia sukses mengharumkan tanah air. Itu setelah memastikan satu tiket untuk tampil di Piala Dunia Amputasi tahun ini. Hasil tersebut mengantarkan timnas sepak bola amputasi Indonesia melaju ke putaran final Amputee Football World Cup 2022 yang akan berlangsung di Turki pada Oktober mendatang.

Baca Juga : Hore! Lebaran Bisa Mudik, Syaratnya Harus Vaksin Saja

Dari kesuksesan tersebut, ada cerita menarik dari salah seorang penggawa timnas amputasi Indonesia, yakni Muhammad Shiddiq Bahiri. Memiliki satu kaki saja tak lantas membuatnya kehilangan semangat bermain sepak bola.

Setelah timnas amputasi Indonesia memastikan tiket menuju Turki dan kepastian lolos itu diperoleh setelah menduduki posisi runner-up, karena kalah 0-2 dari Jepang, Senin (14/3), sosok Shiddiq menjadi sorotan, khususnya di kalangan warga Jember. Setelah kita mengenal nama Bayu Gatra yang sudah menjadi penggawa di timnas sepak bola Indonesia, kini muncul Shiddiq yang menjadi sorotan publik. Sebab, berhasil mengantarkan timnas amputasi Indonesia melaju ke putaran piala dunia di Turki nanti.

Shiddiq merupakan seorang santri dan tercatat sebagai mahasiswa di Kampus Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyah (Inaifas), Kecamatan Kencong, Jember. Sebelum masuk skuad tim Persaid Jember, pria berambut gondrong tersebut dulunya bukan siapa-siapa.
Shiddiq, panggilan akrabnya, merupakan pria asal Desa Kasiyan, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember. Dia mulai bermain sepak bola sejak kanak-kanak. Bermain bersama anak-anak normal tak lantas membuatnya kecil hati.

Bermula dari bermain di depan rumah tetangga seperti permainan anak pada umumnya, hingga berlatih d isalah satu klub yang bermarkas di lapangan Darungan, Kecamatan Puger. Dia pun berpindah lapangan di Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi.

Sekitar tahun 2019 dia masuk Persaid Jember. Bersama squad Persaid, dia menjadi penggawa penting dalam tim bola amputasi Jember. Pria ini juga pernah menjadi top scorer dalam turnamen yang digelar Persaid. “Pada ajang Troveo, yang diikuti oleh tiga tim, kebetulan saya menjadi top scorer dengan sembilan goal,” kata Shiddiq.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/