alexametrics
24.9 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Saatnya Kembalikan Filosofi Seni Bela Diri

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Buntut pertikaian yang melibatkan dua perguruan silat di Bangsalsari, beberapa hari lalu, perlu menjadi pelajaran berharga. Terlebih bagi generasi muda atau para pendekar muda. Bahwa ilmu bela diri bukan semata soal siapa terkuat atau berkuasa. Namun, spirit lain yang sebenarnya tak kalah penting.

Selain menyulut perhatian publik, aksi kekerasan itu juga disayangkan para pendekar dari berbagai perguruan silat yang ada di Jember. Davit Rachman, salah satu pelatih senior Perguruan Silat Tapak Suci Jember, menguraikan bagaimana seyogianya memiliki ilmu bela diri itu. “Salah satu filosofi seni bela diri itu, semakin dalam kita belajar silat, maka semakin rendah hati,” jelas Davit.

Menurut dia, puncak kerendahan hati seorang pendekar silat itu bermuara pada ahlak atau perilaku pesilat. Mereka seharusnya terikat dengan nilai luhur yang diajarkan dalam sebuah seni bela diri. Dan hal itu pantang untuk dilanggar. “Bisa menghargai dan menghormati. Tidak hanya di dalam anggota perguruan silat, tapi juga antarperguruan silat dan masyarakat luas,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pelatih senior Tapak Suci di Universitas Jember ini menilai, seharusnya seni bela diri hari ini menjadi pelecut untuk bangkit. Sebab, sejak pandemi, para atlet tidak banyak turun di kompetisi. Karenanya, ia sangat bersepakat jika para pendekar silat itu diarahkan ke dua hal. Penempaan diri menjadi lebih baik (akhlak), dan fokus pada prestasi.

Tak jauh berbeda dengan Davit, Ketua Umum Keluarga Tarung Derajat (Kodrat) Jember Haryu Islamuddin juga menilai serupa. Pria yang juga dosen di IAIN Jember ini menilai, hakikat seni bela diri menjadi salah satu pembentukan karakter, menuju karakter yang memiliki sportivitas, kebesaran jiwa, dan memiliki etika dalam kehidupan bermasyarakat.

Karakter itu, kata Haryu, dibentuk melalui penempaan khusus yang dilakukan oleh perguruan silat. Yakni otak, otot, dan nurani. Ia membeberkan, otak menjadi pintu awal untuk mengetahui motivasi apa yang sebenarnya diusung para pesilat saat ia mendalami seni bela diri. Agar motivasi itu bisa selaras dengan tujuan luhur adanya sebuah perguruan silat.

Selanjutnya, gerakan dalam seni bela diri memiliki filosofi. Mengapa itu pukulan, menahan, membanting, dan sejenisnya. “Setiap gerak itu ada seni. Jadi, ketangguhan, ketangkasan itu melahirkan individu yang siap secara jasmani. Sehingga muaranya bisa sehat ataupun berprestasi,” lanjut dia.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Buntut pertikaian yang melibatkan dua perguruan silat di Bangsalsari, beberapa hari lalu, perlu menjadi pelajaran berharga. Terlebih bagi generasi muda atau para pendekar muda. Bahwa ilmu bela diri bukan semata soal siapa terkuat atau berkuasa. Namun, spirit lain yang sebenarnya tak kalah penting.

Selain menyulut perhatian publik, aksi kekerasan itu juga disayangkan para pendekar dari berbagai perguruan silat yang ada di Jember. Davit Rachman, salah satu pelatih senior Perguruan Silat Tapak Suci Jember, menguraikan bagaimana seyogianya memiliki ilmu bela diri itu. “Salah satu filosofi seni bela diri itu, semakin dalam kita belajar silat, maka semakin rendah hati,” jelas Davit.

Menurut dia, puncak kerendahan hati seorang pendekar silat itu bermuara pada ahlak atau perilaku pesilat. Mereka seharusnya terikat dengan nilai luhur yang diajarkan dalam sebuah seni bela diri. Dan hal itu pantang untuk dilanggar. “Bisa menghargai dan menghormati. Tidak hanya di dalam anggota perguruan silat, tapi juga antarperguruan silat dan masyarakat luas,” imbuhnya.

Pelatih senior Tapak Suci di Universitas Jember ini menilai, seharusnya seni bela diri hari ini menjadi pelecut untuk bangkit. Sebab, sejak pandemi, para atlet tidak banyak turun di kompetisi. Karenanya, ia sangat bersepakat jika para pendekar silat itu diarahkan ke dua hal. Penempaan diri menjadi lebih baik (akhlak), dan fokus pada prestasi.

Tak jauh berbeda dengan Davit, Ketua Umum Keluarga Tarung Derajat (Kodrat) Jember Haryu Islamuddin juga menilai serupa. Pria yang juga dosen di IAIN Jember ini menilai, hakikat seni bela diri menjadi salah satu pembentukan karakter, menuju karakter yang memiliki sportivitas, kebesaran jiwa, dan memiliki etika dalam kehidupan bermasyarakat.

Karakter itu, kata Haryu, dibentuk melalui penempaan khusus yang dilakukan oleh perguruan silat. Yakni otak, otot, dan nurani. Ia membeberkan, otak menjadi pintu awal untuk mengetahui motivasi apa yang sebenarnya diusung para pesilat saat ia mendalami seni bela diri. Agar motivasi itu bisa selaras dengan tujuan luhur adanya sebuah perguruan silat.

Selanjutnya, gerakan dalam seni bela diri memiliki filosofi. Mengapa itu pukulan, menahan, membanting, dan sejenisnya. “Setiap gerak itu ada seni. Jadi, ketangguhan, ketangkasan itu melahirkan individu yang siap secara jasmani. Sehingga muaranya bisa sehat ataupun berprestasi,” lanjut dia.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Buntut pertikaian yang melibatkan dua perguruan silat di Bangsalsari, beberapa hari lalu, perlu menjadi pelajaran berharga. Terlebih bagi generasi muda atau para pendekar muda. Bahwa ilmu bela diri bukan semata soal siapa terkuat atau berkuasa. Namun, spirit lain yang sebenarnya tak kalah penting.

Selain menyulut perhatian publik, aksi kekerasan itu juga disayangkan para pendekar dari berbagai perguruan silat yang ada di Jember. Davit Rachman, salah satu pelatih senior Perguruan Silat Tapak Suci Jember, menguraikan bagaimana seyogianya memiliki ilmu bela diri itu. “Salah satu filosofi seni bela diri itu, semakin dalam kita belajar silat, maka semakin rendah hati,” jelas Davit.

Menurut dia, puncak kerendahan hati seorang pendekar silat itu bermuara pada ahlak atau perilaku pesilat. Mereka seharusnya terikat dengan nilai luhur yang diajarkan dalam sebuah seni bela diri. Dan hal itu pantang untuk dilanggar. “Bisa menghargai dan menghormati. Tidak hanya di dalam anggota perguruan silat, tapi juga antarperguruan silat dan masyarakat luas,” imbuhnya.

Pelatih senior Tapak Suci di Universitas Jember ini menilai, seharusnya seni bela diri hari ini menjadi pelecut untuk bangkit. Sebab, sejak pandemi, para atlet tidak banyak turun di kompetisi. Karenanya, ia sangat bersepakat jika para pendekar silat itu diarahkan ke dua hal. Penempaan diri menjadi lebih baik (akhlak), dan fokus pada prestasi.

Tak jauh berbeda dengan Davit, Ketua Umum Keluarga Tarung Derajat (Kodrat) Jember Haryu Islamuddin juga menilai serupa. Pria yang juga dosen di IAIN Jember ini menilai, hakikat seni bela diri menjadi salah satu pembentukan karakter, menuju karakter yang memiliki sportivitas, kebesaran jiwa, dan memiliki etika dalam kehidupan bermasyarakat.

Karakter itu, kata Haryu, dibentuk melalui penempaan khusus yang dilakukan oleh perguruan silat. Yakni otak, otot, dan nurani. Ia membeberkan, otak menjadi pintu awal untuk mengetahui motivasi apa yang sebenarnya diusung para pesilat saat ia mendalami seni bela diri. Agar motivasi itu bisa selaras dengan tujuan luhur adanya sebuah perguruan silat.

Selanjutnya, gerakan dalam seni bela diri memiliki filosofi. Mengapa itu pukulan, menahan, membanting, dan sejenisnya. “Setiap gerak itu ada seni. Jadi, ketangguhan, ketangkasan itu melahirkan individu yang siap secara jasmani. Sehingga muaranya bisa sehat ataupun berprestasi,” lanjut dia.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/