alexametrics
27.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Adu Jotos di Piala Bupati Cup Jember, Laga Final Terancam Ambyar

“Cekcok terjadi dan saling dorong hingga dilerai oleh Manager Plasma. Tapi, saat mau kembali ke bench pemain, saya dipukul dari belakang.” Rike Manopo - Pelatih Kesebelasan Plasma

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADRAJEMBER.ID – Kisruh dalam pertandingan sepak bola kembali terjadi. Baku hantam terulang lagi dan lagi. Kejadiannya bukan di klub elite yang berlaga di Liga Indonesia seperti yang kerap tampak di televisi, namun pada laga level klub internal di Jember. Yaitu dalam perbuatan Piala Bupati.

Insiden adu jotos tersebut terjadi saat laga semifinal antara Arsenal vs Plasma di Stadion Notohadinegoro, Senin (20/12). Alhasil, pertandingan final yang dinanti-nanti antara Arsenal, kesebelasan dari Sumberkalong, Kecamatan Kalisat, dengan Persijatim Jatimulyo, Kecamatan Jenggawah, terancam ambyar.

“Untuk pertandingan final sementara ini ditunda,” ucap Deni Arianto, anggota Exco Asosiasi Kabupaten Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (Askab PSSI) Jember. Informasi yang berembus, akibat baku hantam di laga semifinal tersebut, ada potensi tidak digelarnya final dan akan muncul juara bersama.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam video baku hantam laga semifinal berdurasi satu menit satu detik itu, tampak insiden diawali oleh saling dorong antara asisten wasit yang mengenakan jersey hijau dengan pelatih Plasma Rike Manopo ber-jersey merah putih. Setelah aksi dorong dilerai, nyatanya asisten wasit kembali mendatangi dan membogem kepala Rike dari belakang.

Aksi koboi itu memantik amarah hingga terjadi saling balas pukulan. Tak pelak, kondisi itu memperuncing dan membuat Rike menjadi sasaran empuk pria dewasa yang turun di tengah lapangan. “Kalau kemarin (lusa, Red), bagian kepala sakit dan pusing, sekarang (kemarin, Red) lebih baik,” ucap Rike kepada Jawa Pos Radar Jember.

Pengakuan Rike, kejadian tersebut didasari keputusan wasit bernama Musa. Plasma pada babak pertama kalah tipis 1-0 atas Arsenal. Namun, pada babak kedua Rike memilih protes ke perangkat pertandingan (PP). “Saya protes ke PP, tapi PP kembalikan untuk protes ke wasit tengah. Dan saya kembali lagi ke bench pemain,” ungkapnya.

Rike protes karena menilai kepemimpinan wasit kurang fair play. Beberapa kartu kuning pun dilayangkan ke para pemain Plasma. Bahkan, kapten Plasma hingga kiper protes atas keputusan wasit langsung diberi kartu kuning. “Saya teriak dari pinggir lapangan, tapi wasit garis membalas dengan kata kurang sopan,” jelasnya.

Kata-kata itu membuat asisten pelatihnya, yaitu Arik, mendatangi wasit garis. “Cekcok terjadi dan saling dorong hingga dilerai oleh Manager Plasma. Tapi, saat mau kembali ke bench pemain, saya dipukul dari belakang,” terangnya.

Wasit garis yang diketahui bernama Aan Hartono itu juga dibalas pukulan oleh Rike. “Saya balik badan dan membela diri,” ujarnya. Saat berlari dan dikeroyok tersebut, Rike berkata, ada beberapa orang yang dia kenal dan turut memberi hadiah bogem kepada dirinya. Salah satunya yaitu Musa sebagai wasit, dan Andik yang di sana sebagai Manager Arsenal. Di Askab PSSI Jember, Andik sebagai sekretaris.

Rike melaporkan peristiwa itu ke Polsek Patrang. Ada dua nama yang dia laporkan. Andik dan Musa. Lantas, bagaimana dengan asisten wasit atau wasit garis yang membuka pertikaian tersebut? Ternyata Rike justru tidak melaporkannya. “Saudara Aan Hartono saat di Polsek Patrang datang langsung dan meminta maaf,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADRAJEMBER.ID – Kisruh dalam pertandingan sepak bola kembali terjadi. Baku hantam terulang lagi dan lagi. Kejadiannya bukan di klub elite yang berlaga di Liga Indonesia seperti yang kerap tampak di televisi, namun pada laga level klub internal di Jember. Yaitu dalam perbuatan Piala Bupati.

Insiden adu jotos tersebut terjadi saat laga semifinal antara Arsenal vs Plasma di Stadion Notohadinegoro, Senin (20/12). Alhasil, pertandingan final yang dinanti-nanti antara Arsenal, kesebelasan dari Sumberkalong, Kecamatan Kalisat, dengan Persijatim Jatimulyo, Kecamatan Jenggawah, terancam ambyar.

“Untuk pertandingan final sementara ini ditunda,” ucap Deni Arianto, anggota Exco Asosiasi Kabupaten Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (Askab PSSI) Jember. Informasi yang berembus, akibat baku hantam di laga semifinal tersebut, ada potensi tidak digelarnya final dan akan muncul juara bersama.

Dalam video baku hantam laga semifinal berdurasi satu menit satu detik itu, tampak insiden diawali oleh saling dorong antara asisten wasit yang mengenakan jersey hijau dengan pelatih Plasma Rike Manopo ber-jersey merah putih. Setelah aksi dorong dilerai, nyatanya asisten wasit kembali mendatangi dan membogem kepala Rike dari belakang.

Aksi koboi itu memantik amarah hingga terjadi saling balas pukulan. Tak pelak, kondisi itu memperuncing dan membuat Rike menjadi sasaran empuk pria dewasa yang turun di tengah lapangan. “Kalau kemarin (lusa, Red), bagian kepala sakit dan pusing, sekarang (kemarin, Red) lebih baik,” ucap Rike kepada Jawa Pos Radar Jember.

Pengakuan Rike, kejadian tersebut didasari keputusan wasit bernama Musa. Plasma pada babak pertama kalah tipis 1-0 atas Arsenal. Namun, pada babak kedua Rike memilih protes ke perangkat pertandingan (PP). “Saya protes ke PP, tapi PP kembalikan untuk protes ke wasit tengah. Dan saya kembali lagi ke bench pemain,” ungkapnya.

Rike protes karena menilai kepemimpinan wasit kurang fair play. Beberapa kartu kuning pun dilayangkan ke para pemain Plasma. Bahkan, kapten Plasma hingga kiper protes atas keputusan wasit langsung diberi kartu kuning. “Saya teriak dari pinggir lapangan, tapi wasit garis membalas dengan kata kurang sopan,” jelasnya.

Kata-kata itu membuat asisten pelatihnya, yaitu Arik, mendatangi wasit garis. “Cekcok terjadi dan saling dorong hingga dilerai oleh Manager Plasma. Tapi, saat mau kembali ke bench pemain, saya dipukul dari belakang,” terangnya.

Wasit garis yang diketahui bernama Aan Hartono itu juga dibalas pukulan oleh Rike. “Saya balik badan dan membela diri,” ujarnya. Saat berlari dan dikeroyok tersebut, Rike berkata, ada beberapa orang yang dia kenal dan turut memberi hadiah bogem kepada dirinya. Salah satunya yaitu Musa sebagai wasit, dan Andik yang di sana sebagai Manager Arsenal. Di Askab PSSI Jember, Andik sebagai sekretaris.

Rike melaporkan peristiwa itu ke Polsek Patrang. Ada dua nama yang dia laporkan. Andik dan Musa. Lantas, bagaimana dengan asisten wasit atau wasit garis yang membuka pertikaian tersebut? Ternyata Rike justru tidak melaporkannya. “Saudara Aan Hartono saat di Polsek Patrang datang langsung dan meminta maaf,” tuturnya.

JEMBER, RADRAJEMBER.ID – Kisruh dalam pertandingan sepak bola kembali terjadi. Baku hantam terulang lagi dan lagi. Kejadiannya bukan di klub elite yang berlaga di Liga Indonesia seperti yang kerap tampak di televisi, namun pada laga level klub internal di Jember. Yaitu dalam perbuatan Piala Bupati.

Insiden adu jotos tersebut terjadi saat laga semifinal antara Arsenal vs Plasma di Stadion Notohadinegoro, Senin (20/12). Alhasil, pertandingan final yang dinanti-nanti antara Arsenal, kesebelasan dari Sumberkalong, Kecamatan Kalisat, dengan Persijatim Jatimulyo, Kecamatan Jenggawah, terancam ambyar.

“Untuk pertandingan final sementara ini ditunda,” ucap Deni Arianto, anggota Exco Asosiasi Kabupaten Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (Askab PSSI) Jember. Informasi yang berembus, akibat baku hantam di laga semifinal tersebut, ada potensi tidak digelarnya final dan akan muncul juara bersama.

Dalam video baku hantam laga semifinal berdurasi satu menit satu detik itu, tampak insiden diawali oleh saling dorong antara asisten wasit yang mengenakan jersey hijau dengan pelatih Plasma Rike Manopo ber-jersey merah putih. Setelah aksi dorong dilerai, nyatanya asisten wasit kembali mendatangi dan membogem kepala Rike dari belakang.

Aksi koboi itu memantik amarah hingga terjadi saling balas pukulan. Tak pelak, kondisi itu memperuncing dan membuat Rike menjadi sasaran empuk pria dewasa yang turun di tengah lapangan. “Kalau kemarin (lusa, Red), bagian kepala sakit dan pusing, sekarang (kemarin, Red) lebih baik,” ucap Rike kepada Jawa Pos Radar Jember.

Pengakuan Rike, kejadian tersebut didasari keputusan wasit bernama Musa. Plasma pada babak pertama kalah tipis 1-0 atas Arsenal. Namun, pada babak kedua Rike memilih protes ke perangkat pertandingan (PP). “Saya protes ke PP, tapi PP kembalikan untuk protes ke wasit tengah. Dan saya kembali lagi ke bench pemain,” ungkapnya.

Rike protes karena menilai kepemimpinan wasit kurang fair play. Beberapa kartu kuning pun dilayangkan ke para pemain Plasma. Bahkan, kapten Plasma hingga kiper protes atas keputusan wasit langsung diberi kartu kuning. “Saya teriak dari pinggir lapangan, tapi wasit garis membalas dengan kata kurang sopan,” jelasnya.

Kata-kata itu membuat asisten pelatihnya, yaitu Arik, mendatangi wasit garis. “Cekcok terjadi dan saling dorong hingga dilerai oleh Manager Plasma. Tapi, saat mau kembali ke bench pemain, saya dipukul dari belakang,” terangnya.

Wasit garis yang diketahui bernama Aan Hartono itu juga dibalas pukulan oleh Rike. “Saya balik badan dan membela diri,” ujarnya. Saat berlari dan dikeroyok tersebut, Rike berkata, ada beberapa orang yang dia kenal dan turut memberi hadiah bogem kepada dirinya. Salah satunya yaitu Musa sebagai wasit, dan Andik yang di sana sebagai Manager Arsenal. Di Askab PSSI Jember, Andik sebagai sekretaris.

Rike melaporkan peristiwa itu ke Polsek Patrang. Ada dua nama yang dia laporkan. Andik dan Musa. Lantas, bagaimana dengan asisten wasit atau wasit garis yang membuka pertikaian tersebut? Ternyata Rike justru tidak melaporkannya. “Saudara Aan Hartono saat di Polsek Patrang datang langsung dan meminta maaf,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/