alexametrics
22.4 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

”Faktor X”, Acap Dibarengi Kontroversi selama Kompetisi Sea Games

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Sudah 328 medali emas dikalungkan kepada atlet-atlet yang menjadi nomor satu dalam sejumlah besar dari total 526 nomor yang dikompetisikan pada 40 cabang olahraga selama SEA Games Vietnam 2021 sampai 18 Mei 2022. Jumlah itu adalah 62 persen dari total 526 medali emas yang diperebutkan sampai SEA Games ini selesai pada 23 Mei.

BACA JUGA : Monyet Kelaparan Rusak Rumah Warga

Sebanyak 38 persen atau 126 dari 328 medali emas itu direbut tuan rumah Vietnam. Jumlah emas Vietnam ini 3,5 kali lipat dari emas yang dikumpulkan Indonesia yang baru memperoleh 36 emas sampai 18 Mei.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selisih itu begitu lebar seolah kemajuan olahraga Indonesia tertinggal dari Vietnam, padahal apa yang terjadi dalam SEA Games belum tentu menjadi indikator kemajuan olahraga di kedua negara.

Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara dalam banyak ukuran, mulai dari segi demografis, skala ekonomi, sampai pengaruh politik. Namun sejak SEA Games 1999 di Brunei Darusalam sampai SEA Games 2017 di Malaysia, Indonesia nyaris tak pernah lagi menjadi nomor satu. Hanya ketika SEA Games diadakan di Jakarta dan Palembang pada 2011, Indonesia meraih lagi status nomor satu.
Sejak 1977 sampai 1997, Indonesia hampir selalu teratas dalam daftar perolehan medali kecuali 1985 dan 1995 ketika Indonesia menjadi pengumpul medali terbanyak kedua dalam dua SEA Games yang keduanya diadakan di Thailand itu.

Dalam sembilan tahun terakhir sejak SEA Games Myanmar 2013, Indonesia bahkan tak bisa menembus urutan ketiga.

Dalam beberapa hal, Indonesia mirip dengan India di Asia Selatan, khususnya dari perbandingan jumlah penduduk, luas wilayah, skala ekonomi dan pengaruh politik terhadap kawasannya masing-masing.
Namun India selalu ingin mendominasi pesta olahraga se-Asia Selatan atau South Asian Games sejak ajang ini diadakan pada 1984, dengan senantiasa menjadi pengumpul medali terbanyak, walau prestasi ini kebalikan dari kiprah negeri itu dalam Olimpiade.

Selama 13 kali penyelenggaraan South Asian Games, atlet-atlet Asia Selatan yang total berpenduduk 1,94 miliar rata-rata hanya memperebutkan 157 medali emas.

Tiga edisi terakhir memang jumlahnya di atas angka 157 emas, tapi angka sebanyak ini masih jauh di bawah emas yang diperebutkan dalam SEA Games.

Pada edisi 2019 di mana jumlah medali emas yang diperebutkan mencapai rekor terbanyak, South Asian Games hanya menyediakan 316 medali emas.

Angka itu jauh di bawah medali emas yang disediakan dalam SEA Games yang diikuti sebelas negara Asia Tenggara yang total berpenduduk 680 juta atau sepertiga penduduk Asia Selatan.

Tiga tahun lalu di Filipina jumlah medali emas yang diperebutkan dalam SEA Games mencapai 531 medali emas, sedangkan tahun ini di Vietnam sedikit berkurang menjadi 526 medali emas. Kedua angka ini masih di atas 316 medali emas yang diperebutkan dalam South Asian Games 2019.

Selama 13 edisi diselenggarakan hanya ada 28 cabang olahraga yang dikompetisikan dalam South Asian Games atau tak jauh berbeda dengan pada umumnya jumlah cabang yang dimainkan dalam Olimpiade. Tapi dalam SEA Games, tahun ini saja melibatkan 40 cabang olahraga.

Setiap tuan rumah SEA Games hampir selalu masuk tiga besar, jika bukan posisi 1 dalam klasemen medali.

Ini karena tuan rumah berusaha keras menggenjot perolehan emas, termasuk dengan memasukkan cabang olahraga yang berpotensi meraih medali, sekalipun cabang itu asing bagi negara Asia Tenggara lainnya.

Situasi itu dimungkinkan terjadi karena dalam SEA Games tak ada aturan pasti mengenai batas jumlah cabang yang dipertandingkan. Dan ini sering menjadi sorotan ketika SEA Games digelar, terutama dalam kaitannya dengan nilai kompetisi olahraga.

”Faktor X”, fakta itu acap dibarengi pula oleh kontroversi selama kompetisi, terutama dugaan ofisial kompetisi yang tidak netral, yang dari SEA Games ke SEA Games terus terjadi, termasuk di Vietnam ini.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Sudah 328 medali emas dikalungkan kepada atlet-atlet yang menjadi nomor satu dalam sejumlah besar dari total 526 nomor yang dikompetisikan pada 40 cabang olahraga selama SEA Games Vietnam 2021 sampai 18 Mei 2022. Jumlah itu adalah 62 persen dari total 526 medali emas yang diperebutkan sampai SEA Games ini selesai pada 23 Mei.

BACA JUGA : Monyet Kelaparan Rusak Rumah Warga

Sebanyak 38 persen atau 126 dari 328 medali emas itu direbut tuan rumah Vietnam. Jumlah emas Vietnam ini 3,5 kali lipat dari emas yang dikumpulkan Indonesia yang baru memperoleh 36 emas sampai 18 Mei.

Selisih itu begitu lebar seolah kemajuan olahraga Indonesia tertinggal dari Vietnam, padahal apa yang terjadi dalam SEA Games belum tentu menjadi indikator kemajuan olahraga di kedua negara.

Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara dalam banyak ukuran, mulai dari segi demografis, skala ekonomi, sampai pengaruh politik. Namun sejak SEA Games 1999 di Brunei Darusalam sampai SEA Games 2017 di Malaysia, Indonesia nyaris tak pernah lagi menjadi nomor satu. Hanya ketika SEA Games diadakan di Jakarta dan Palembang pada 2011, Indonesia meraih lagi status nomor satu.
Sejak 1977 sampai 1997, Indonesia hampir selalu teratas dalam daftar perolehan medali kecuali 1985 dan 1995 ketika Indonesia menjadi pengumpul medali terbanyak kedua dalam dua SEA Games yang keduanya diadakan di Thailand itu.

Dalam sembilan tahun terakhir sejak SEA Games Myanmar 2013, Indonesia bahkan tak bisa menembus urutan ketiga.

Dalam beberapa hal, Indonesia mirip dengan India di Asia Selatan, khususnya dari perbandingan jumlah penduduk, luas wilayah, skala ekonomi dan pengaruh politik terhadap kawasannya masing-masing.
Namun India selalu ingin mendominasi pesta olahraga se-Asia Selatan atau South Asian Games sejak ajang ini diadakan pada 1984, dengan senantiasa menjadi pengumpul medali terbanyak, walau prestasi ini kebalikan dari kiprah negeri itu dalam Olimpiade.

Selama 13 kali penyelenggaraan South Asian Games, atlet-atlet Asia Selatan yang total berpenduduk 1,94 miliar rata-rata hanya memperebutkan 157 medali emas.

Tiga edisi terakhir memang jumlahnya di atas angka 157 emas, tapi angka sebanyak ini masih jauh di bawah emas yang diperebutkan dalam SEA Games.

Pada edisi 2019 di mana jumlah medali emas yang diperebutkan mencapai rekor terbanyak, South Asian Games hanya menyediakan 316 medali emas.

Angka itu jauh di bawah medali emas yang disediakan dalam SEA Games yang diikuti sebelas negara Asia Tenggara yang total berpenduduk 680 juta atau sepertiga penduduk Asia Selatan.

Tiga tahun lalu di Filipina jumlah medali emas yang diperebutkan dalam SEA Games mencapai 531 medali emas, sedangkan tahun ini di Vietnam sedikit berkurang menjadi 526 medali emas. Kedua angka ini masih di atas 316 medali emas yang diperebutkan dalam South Asian Games 2019.

Selama 13 edisi diselenggarakan hanya ada 28 cabang olahraga yang dikompetisikan dalam South Asian Games atau tak jauh berbeda dengan pada umumnya jumlah cabang yang dimainkan dalam Olimpiade. Tapi dalam SEA Games, tahun ini saja melibatkan 40 cabang olahraga.

Setiap tuan rumah SEA Games hampir selalu masuk tiga besar, jika bukan posisi 1 dalam klasemen medali.

Ini karena tuan rumah berusaha keras menggenjot perolehan emas, termasuk dengan memasukkan cabang olahraga yang berpotensi meraih medali, sekalipun cabang itu asing bagi negara Asia Tenggara lainnya.

Situasi itu dimungkinkan terjadi karena dalam SEA Games tak ada aturan pasti mengenai batas jumlah cabang yang dipertandingkan. Dan ini sering menjadi sorotan ketika SEA Games digelar, terutama dalam kaitannya dengan nilai kompetisi olahraga.

”Faktor X”, fakta itu acap dibarengi pula oleh kontroversi selama kompetisi, terutama dugaan ofisial kompetisi yang tidak netral, yang dari SEA Games ke SEA Games terus terjadi, termasuk di Vietnam ini.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Sudah 328 medali emas dikalungkan kepada atlet-atlet yang menjadi nomor satu dalam sejumlah besar dari total 526 nomor yang dikompetisikan pada 40 cabang olahraga selama SEA Games Vietnam 2021 sampai 18 Mei 2022. Jumlah itu adalah 62 persen dari total 526 medali emas yang diperebutkan sampai SEA Games ini selesai pada 23 Mei.

BACA JUGA : Monyet Kelaparan Rusak Rumah Warga

Sebanyak 38 persen atau 126 dari 328 medali emas itu direbut tuan rumah Vietnam. Jumlah emas Vietnam ini 3,5 kali lipat dari emas yang dikumpulkan Indonesia yang baru memperoleh 36 emas sampai 18 Mei.

Selisih itu begitu lebar seolah kemajuan olahraga Indonesia tertinggal dari Vietnam, padahal apa yang terjadi dalam SEA Games belum tentu menjadi indikator kemajuan olahraga di kedua negara.

Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara dalam banyak ukuran, mulai dari segi demografis, skala ekonomi, sampai pengaruh politik. Namun sejak SEA Games 1999 di Brunei Darusalam sampai SEA Games 2017 di Malaysia, Indonesia nyaris tak pernah lagi menjadi nomor satu. Hanya ketika SEA Games diadakan di Jakarta dan Palembang pada 2011, Indonesia meraih lagi status nomor satu.
Sejak 1977 sampai 1997, Indonesia hampir selalu teratas dalam daftar perolehan medali kecuali 1985 dan 1995 ketika Indonesia menjadi pengumpul medali terbanyak kedua dalam dua SEA Games yang keduanya diadakan di Thailand itu.

Dalam sembilan tahun terakhir sejak SEA Games Myanmar 2013, Indonesia bahkan tak bisa menembus urutan ketiga.

Dalam beberapa hal, Indonesia mirip dengan India di Asia Selatan, khususnya dari perbandingan jumlah penduduk, luas wilayah, skala ekonomi dan pengaruh politik terhadap kawasannya masing-masing.
Namun India selalu ingin mendominasi pesta olahraga se-Asia Selatan atau South Asian Games sejak ajang ini diadakan pada 1984, dengan senantiasa menjadi pengumpul medali terbanyak, walau prestasi ini kebalikan dari kiprah negeri itu dalam Olimpiade.

Selama 13 kali penyelenggaraan South Asian Games, atlet-atlet Asia Selatan yang total berpenduduk 1,94 miliar rata-rata hanya memperebutkan 157 medali emas.

Tiga edisi terakhir memang jumlahnya di atas angka 157 emas, tapi angka sebanyak ini masih jauh di bawah emas yang diperebutkan dalam SEA Games.

Pada edisi 2019 di mana jumlah medali emas yang diperebutkan mencapai rekor terbanyak, South Asian Games hanya menyediakan 316 medali emas.

Angka itu jauh di bawah medali emas yang disediakan dalam SEA Games yang diikuti sebelas negara Asia Tenggara yang total berpenduduk 680 juta atau sepertiga penduduk Asia Selatan.

Tiga tahun lalu di Filipina jumlah medali emas yang diperebutkan dalam SEA Games mencapai 531 medali emas, sedangkan tahun ini di Vietnam sedikit berkurang menjadi 526 medali emas. Kedua angka ini masih di atas 316 medali emas yang diperebutkan dalam South Asian Games 2019.

Selama 13 edisi diselenggarakan hanya ada 28 cabang olahraga yang dikompetisikan dalam South Asian Games atau tak jauh berbeda dengan pada umumnya jumlah cabang yang dimainkan dalam Olimpiade. Tapi dalam SEA Games, tahun ini saja melibatkan 40 cabang olahraga.

Setiap tuan rumah SEA Games hampir selalu masuk tiga besar, jika bukan posisi 1 dalam klasemen medali.

Ini karena tuan rumah berusaha keras menggenjot perolehan emas, termasuk dengan memasukkan cabang olahraga yang berpotensi meraih medali, sekalipun cabang itu asing bagi negara Asia Tenggara lainnya.

Situasi itu dimungkinkan terjadi karena dalam SEA Games tak ada aturan pasti mengenai batas jumlah cabang yang dipertandingkan. Dan ini sering menjadi sorotan ketika SEA Games digelar, terutama dalam kaitannya dengan nilai kompetisi olahraga.

”Faktor X”, fakta itu acap dibarengi pula oleh kontroversi selama kompetisi, terutama dugaan ofisial kompetisi yang tidak netral, yang dari SEA Games ke SEA Games terus terjadi, termasuk di Vietnam ini.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/