alexametrics
24.1 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Sejak Kecil Gemar Bermain Bola, Kena Sliding Sudah Biasa

Memiliki fisik yang tak sempurna dengan satu kaki, tidak membuat M Shidiq Bahiri kehilangan semangat bermain bola. Bersama tim barunya Persaid, dia jadi penggawa penting dalam tim bola amputasi Jember.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berambut gondrong sebahu dan diikat dengan tali, penampilan M Shidiq Bahiri seperti pesepak bola awal 2000-an, Gabriel Batistuta. Bukan sekadar tampilan saja yang jadi pembeda, tapi juga urusan mencetak gol. Lewat kaki kirinya, pria asal Puger tersebut kerap kali mencetak gol dalam pertandingan sepak bola amputasi antara Jember dengan Lumajang. Pertandingan itu berlangsung di Lapangan Mini Soccer, Jubung, Sukorambi, beberapa waktu lalu..

Bermain di posisi depan, Bahiri tak hanya bermain bola dan berusaha mencetak gol. Dia juga pembagi bola. Ibaratnya adalah playmaker. Dibantu dengan satu kruk terbuat dari kayu, langkah Bahiri dalam mengolah si kulit bundar tampak mudah. Terkadang dia juga melakukan intersep dengan memotong arah umpan lawan.

Kelihaian Bahiri di atas rata-rata pesepak bola amputasi pagi itu, membantu Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Djember (Persaid) mengungguli Lumajang. Namun, pertandingan belum selesai Bahiri justru menepi terlebih dahulu. “Kecapekan karena malamnya begadang,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bahiri yang terlahir dengan satu kakinya yang tidak sempurna tersebut, mulai menyukai olahraga sepak bola sejak kecil. Awalnya hanya melihat saja di televisi, hingga kemudian bermain di lapangan desa. Ketika usia tujuh tahun atau kelas 1 SD, kaki kirinya sudah berani mengotak-atik bola di lapangan. “Awal kali main bola usia tujuh tahun. Sebelumnya hanya tendang-tendang bola di rumah saja,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berambut gondrong sebahu dan diikat dengan tali, penampilan M Shidiq Bahiri seperti pesepak bola awal 2000-an, Gabriel Batistuta. Bukan sekadar tampilan saja yang jadi pembeda, tapi juga urusan mencetak gol. Lewat kaki kirinya, pria asal Puger tersebut kerap kali mencetak gol dalam pertandingan sepak bola amputasi antara Jember dengan Lumajang. Pertandingan itu berlangsung di Lapangan Mini Soccer, Jubung, Sukorambi, beberapa waktu lalu..

Bermain di posisi depan, Bahiri tak hanya bermain bola dan berusaha mencetak gol. Dia juga pembagi bola. Ibaratnya adalah playmaker. Dibantu dengan satu kruk terbuat dari kayu, langkah Bahiri dalam mengolah si kulit bundar tampak mudah. Terkadang dia juga melakukan intersep dengan memotong arah umpan lawan.

Kelihaian Bahiri di atas rata-rata pesepak bola amputasi pagi itu, membantu Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Djember (Persaid) mengungguli Lumajang. Namun, pertandingan belum selesai Bahiri justru menepi terlebih dahulu. “Kecapekan karena malamnya begadang,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Bahiri yang terlahir dengan satu kakinya yang tidak sempurna tersebut, mulai menyukai olahraga sepak bola sejak kecil. Awalnya hanya melihat saja di televisi, hingga kemudian bermain di lapangan desa. Ketika usia tujuh tahun atau kelas 1 SD, kaki kirinya sudah berani mengotak-atik bola di lapangan. “Awal kali main bola usia tujuh tahun. Sebelumnya hanya tendang-tendang bola di rumah saja,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berambut gondrong sebahu dan diikat dengan tali, penampilan M Shidiq Bahiri seperti pesepak bola awal 2000-an, Gabriel Batistuta. Bukan sekadar tampilan saja yang jadi pembeda, tapi juga urusan mencetak gol. Lewat kaki kirinya, pria asal Puger tersebut kerap kali mencetak gol dalam pertandingan sepak bola amputasi antara Jember dengan Lumajang. Pertandingan itu berlangsung di Lapangan Mini Soccer, Jubung, Sukorambi, beberapa waktu lalu..

Bermain di posisi depan, Bahiri tak hanya bermain bola dan berusaha mencetak gol. Dia juga pembagi bola. Ibaratnya adalah playmaker. Dibantu dengan satu kruk terbuat dari kayu, langkah Bahiri dalam mengolah si kulit bundar tampak mudah. Terkadang dia juga melakukan intersep dengan memotong arah umpan lawan.

Kelihaian Bahiri di atas rata-rata pesepak bola amputasi pagi itu, membantu Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Djember (Persaid) mengungguli Lumajang. Namun, pertandingan belum selesai Bahiri justru menepi terlebih dahulu. “Kecapekan karena malamnya begadang,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Bahiri yang terlahir dengan satu kakinya yang tidak sempurna tersebut, mulai menyukai olahraga sepak bola sejak kecil. Awalnya hanya melihat saja di televisi, hingga kemudian bermain di lapangan desa. Ketika usia tujuh tahun atau kelas 1 SD, kaki kirinya sudah berani mengotak-atik bola di lapangan. “Awal kali main bola usia tujuh tahun. Sebelumnya hanya tendang-tendang bola di rumah saja,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/