alexametrics
24.4C
Jember
Tuesday, 19 January 2021
Mobile_AP_Top Banner

Sejak Kecil Gemar Bermain Bola, Kena Sliding Sudah Biasa

Memiliki fisik yang tak sempurna dengan satu kaki, tidak membuat M Shidiq Bahiri kehilangan semangat bermain bola. Bersama tim barunya Persaid, dia jadi penggawa penting dalam tim bola amputasi Jember.

Desktop_AP_Leaderboard
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berambut gondrong sebahu dan diikat dengan tali, penampilan M Shidiq Bahiri seperti pesepak bola awal 2000-an, Gabriel Batistuta. Bukan sekadar tampilan saja yang jadi pembeda, tapi juga urusan mencetak gol. Lewat kaki kirinya, pria asal Puger tersebut kerap kali mencetak gol dalam pertandingan sepak bola amputasi antara Jember dengan Lumajang. Pertandingan itu berlangsung di Lapangan Mini Soccer, Jubung, Sukorambi, beberapa waktu lalu..

Bermain di posisi depan, Bahiri tak hanya bermain bola dan berusaha mencetak gol. Dia juga pembagi bola. Ibaratnya adalah playmaker. Dibantu dengan satu kruk terbuat dari kayu, langkah Bahiri dalam mengolah si kulit bundar tampak mudah. Terkadang dia juga melakukan intersep dengan memotong arah umpan lawan.

Kelihaian Bahiri di atas rata-rata pesepak bola amputasi pagi itu, membantu Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Djember (Persaid) mengungguli Lumajang. Namun, pertandingan belum selesai Bahiri justru menepi terlebih dahulu. “Kecapekan karena malamnya begadang,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bahiri yang terlahir dengan satu kakinya yang tidak sempurna tersebut, mulai menyukai olahraga sepak bola sejak kecil. Awalnya hanya melihat saja di televisi, hingga kemudian bermain di lapangan desa. Ketika usia tujuh tahun atau kelas 1 SD, kaki kirinya sudah berani mengotak-atik bola di lapangan. “Awal kali main bola usia tujuh tahun. Sebelumnya hanya tendang-tendang bola di rumah saja,” jelasnya.

Pria asal Kasiyan, Puger, tersebut mulai meniti dunia bola lewat klub kecil di desanya, yaitu Gelora Mahkota. Bila di mini soccer berposisi sebagai penyerang, sementara di sepak bola posisinya adalah pemain tengah. Bahkan, saat bermain bola, Bahiri bermain bersama anak normal pada umumnya.

Meski hanya Bahiri yang memakai kruk, tapi tidak membuat hati dan semangat bermain bola ciut. Umpan lambung, hingga tendangan ke gawang langsung pun juga ditempa selama bermain di lapangan desa. Bahkan, kala bermain dengan sepak bola normal, Bahiri tidak dibedakan. Justru rekannya, tidak segan untuk melakukan sliding kepadanya. “Kalau di-sliding ya sering. Sakit juga. Tapi itu yang membuat saya suka sepak bola,” ujarnya.

Kini, impian Bahiri bisa membela Jember terwujud. Lewat Persaid yang didirikan Persatuan Penyandang Cacat (Perpenca) Jember sekitar setahun lalu, dia bisa unjuk kebolehan untuk sepak bola amputasi di Jember. Bahkan, terkadang Bahiri juga menjadi penyemangat rekan satu timnya yang baru belajar sepak bola. Sehingga, dia tak sekadar jadi tumpuan permain Persaid, tapi sekaligus mentor dalam mengolah si kulit bundar dengan memakai kruk.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berambut gondrong sebahu dan diikat dengan tali, penampilan M Shidiq Bahiri seperti pesepak bola awal 2000-an, Gabriel Batistuta. Bukan sekadar tampilan saja yang jadi pembeda, tapi juga urusan mencetak gol. Lewat kaki kirinya, pria asal Puger tersebut kerap kali mencetak gol dalam pertandingan sepak bola amputasi antara Jember dengan Lumajang. Pertandingan itu berlangsung di Lapangan Mini Soccer, Jubung, Sukorambi, beberapa waktu lalu..

Bermain di posisi depan, Bahiri tak hanya bermain bola dan berusaha mencetak gol. Dia juga pembagi bola. Ibaratnya adalah playmaker. Dibantu dengan satu kruk terbuat dari kayu, langkah Bahiri dalam mengolah si kulit bundar tampak mudah. Terkadang dia juga melakukan intersep dengan memotong arah umpan lawan.

Kelihaian Bahiri di atas rata-rata pesepak bola amputasi pagi itu, membantu Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Djember (Persaid) mengungguli Lumajang. Namun, pertandingan belum selesai Bahiri justru menepi terlebih dahulu. “Kecapekan karena malamnya begadang,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Bahiri yang terlahir dengan satu kakinya yang tidak sempurna tersebut, mulai menyukai olahraga sepak bola sejak kecil. Awalnya hanya melihat saja di televisi, hingga kemudian bermain di lapangan desa. Ketika usia tujuh tahun atau kelas 1 SD, kaki kirinya sudah berani mengotak-atik bola di lapangan. “Awal kali main bola usia tujuh tahun. Sebelumnya hanya tendang-tendang bola di rumah saja,” jelasnya.

Pria asal Kasiyan, Puger, tersebut mulai meniti dunia bola lewat klub kecil di desanya, yaitu Gelora Mahkota. Bila di mini soccer berposisi sebagai penyerang, sementara di sepak bola posisinya adalah pemain tengah. Bahkan, saat bermain bola, Bahiri bermain bersama anak normal pada umumnya.

Meski hanya Bahiri yang memakai kruk, tapi tidak membuat hati dan semangat bermain bola ciut. Umpan lambung, hingga tendangan ke gawang langsung pun juga ditempa selama bermain di lapangan desa. Bahkan, kala bermain dengan sepak bola normal, Bahiri tidak dibedakan. Justru rekannya, tidak segan untuk melakukan sliding kepadanya. “Kalau di-sliding ya sering. Sakit juga. Tapi itu yang membuat saya suka sepak bola,” ujarnya.

Kini, impian Bahiri bisa membela Jember terwujud. Lewat Persaid yang didirikan Persatuan Penyandang Cacat (Perpenca) Jember sekitar setahun lalu, dia bisa unjuk kebolehan untuk sepak bola amputasi di Jember. Bahkan, terkadang Bahiri juga menjadi penyemangat rekan satu timnya yang baru belajar sepak bola. Sehingga, dia tak sekadar jadi tumpuan permain Persaid, tapi sekaligus mentor dalam mengolah si kulit bundar dengan memakai kruk.

Mobile_AP_Half Page
Desktop_AP_Half Page

Berita Terbaru

Desktop_AP_Rectangle 1

Wajib Dibaca

Bantuan Terus Mengalir

Pasang Headrest, Cegah Kelumpuhan