alexametrics
24.4C
Jember
Tuesday, 19 January 2021
Mobile_AP_Top Banner

Dari Kasta Terendah, Kini Ingin Tambah Pengalaman di Tim Liga 1

Peran seorang fisioterapis di sebuah tim sepak bola sangatlah penting. Bagi Dian Erfianto Pambudi, pemuda asli Bondowoso, keberadaan fisioterapis di klub besar Liga Indonesia menjadi tantangan tersendiri. Dirinya kini menjadi fisioterapis di Persipura Jayapura. Seperti apa kisahnya?

Desktop_AP_Leaderboard
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagi Dian Erfianto Pambudi, menjadi seorang fisioterapis bukanlah cita-citanya. Selepas lulus dari bangku SMA di Bondowoso, alumnus SMAN 1 Bondowoso ini ingin menempuh pendidikan sarjana di Kota Malang.

Orang tuanya pun tetap merestui dirinya kuliah di Malang. Pria yang akrab disapa Epin ini sebenarnya sudah masuk jalur SMPTN di Universitas Negeri Malang (UNM) Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK). Namun, dia tak memilih FIK waktu itu. Epin pun sempat iseng-iseng tes lagi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jurusan fisioterapis.

Akhirnya, pria yang memiliki passion di olahraga sepak bola dan basket ini diterima. Epin mengaku, dia akhirnya memilih jurusan fisioterapis untuk olahraga. Namun, awalnya dia tak mengetahui apa itu jurusan fisioterapis. Setelah lulus pun dia tak mengerti, mau jadi apa seorang fisioterapis ini. “Tetapi dulu orang tua melepas. Mau kuliah di mana saja silakan. Mungkin saya anak laki-laki satu-satunya, jadi sudah punya tanggung jawab sendiri,” ungkap Epin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Profesi fisioterapis perlahan dia tekuni. Seiring berjalannya waktu, peran fisioterapis, khususnya di bidang olahraga, kini sangatlah penting. Perannya vital. Apalagi di beberapa klub sepak bola, basket, ataupun olahraga lainnya.

Hampir seluruh klub sepak bola Liga 1 memiliki seorang fisioterapis. Berbeda tentunya dengan tukang pijat dan dokter tim. Sebab, tugasnya berbeda. Perjalanan Epin menjadi fisioterapis yang sekarang ini bergabung dengan klub besar macam Mutiara Hitam, julukan Persipura Jayapura, tak mulus.

Sama seperti dengan klub. Dia memulainya dari kasta terendah hingga promosi ke level tertinggi Liga Indonesia, yakni Liga 1. Dari kompetisi amatir Liga 3 sampai Liga 1. Awal mula karir fisioterapis pria kelahiran 1994 ini berangkat dari tim Arema Indonesia. Waktu itu Arema berlaga di Liga 3 zona Jatim tahun 2017 silam. “Waktu itu saya masih kuliah semester akhir. Nah, ditawari oleh pelatih kampus untuk jadi fisioterapis di Arema. Saya kira Arema yang di Liga 1, tapi ternyata Liga 3,” kata Epin.

Meski sempat mengira Arema Liga 1, tapi tawaran bergabung dengan Arema Liga 3 tak ditolak Epin. Dia mengaku ingin menambah pengalaman dulu sebagai fisioterapis di klub sepak bola. Dari Arema Liga 3 itulah, karir Epin mulai naik. Setelah lulus kuliah, Epin bergabung bersama Barito Putera, kontestan Liga 1.

“Saat itu Barito mengadakan TC di Malang. Nah, saya sempat jadi fisioterapis lepas buat Barito karena memang pemainnya banyak waktu itu. Saya juga kenal sama coach Jacksen F Tiago,” ujar Epin.

Liga musim 2018 dan 2019, Epin akhirnya benar-benar berlabuh dengan Barito. Bersama Barito, Epin sempat menangani tim senior maupun juniornya. “Saya sempat satu tim bersama Bagas-Bagus Kahfi di tim Barito U-16 kompetisi EPA. Juga sempat bersama tim senior main di beberapa laga tandang dan kandang,” kenang Epin.

Bersama Barito, Epin semakin menambah pengalamannya. Menjadi seorang fisioterapis yang awalnya dari tim Liga 3 hingga sampai di Liga 1. Epin banyak menceritakan pengalamannya. “Kalau bersama tim Liga 1 memang suasana dan atmosfernya beda. Apalagi waktu pertandingan. Stadion ramai, banyak sorot kamera, supporter full, juga disiarkan televisi. Itu tentu sangat beda dengan atmosfer pertandingan Liga 3,” ucap putra dari Jarimin, yang menjadi Kepala SMAN 3 Bondowoso saat ini.

Pengalaman bersama Barito itu dimanfaatkan oleh Epin. Tugas fisioterapis di klub bola sangatlah penting. Dia membantu proses pemulihan pemain yang cedera, rehabilitasi, juga membantu meningkatkan performa fisik otot pemain. Apalagi, ketika pertandingan, fisioterapis yang lari ke tengah lapangan saat pemain mengalami cedera dan memerlukan bantuan medis.

Fisioterapis yang menentukan apakah sang pemain dapat melanjutkan permainan atau harus ditandu ke pinggir lapangan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Lebih spesifiknya lagi, dalam sebuah tim olahraga, seorang fisioterapis akan memberi masukan kepada pelatih mengenai situasi dan kondisi dari seorang pemain.

Setelah dari Barito, Epin kembali pindah klub. Tahun 2020 dia bergabung bersama Persipura Jayapura. Bergabungnya Epin ke Persipura, tidak lepas dari rekomendasi Jacksen F Tiago. Sebelumnya, di Barito, Jacksen sempat menjadi pelatih kepala. Begitu kepindahan Jacksen ke Persipura, Epin juga turut diboyong.

“Tahun ini kan tidak ada kompetisi. Tapi Persipura sempat TC di Jogja dan Batu, Malang. Bahkan, beberapa bulan lalu, setelah lama tidak latihan bersama. Ada delapan pemain yang cedera bersamaan,” beber Epin.

Cedera pemain itulah yang menjadi tugas fisioterapis. Dia harus memonitor benar kondisi pemain saat cedera hingga masa pemulihan. Dari delapan pemain yang cedera itu, di antaranya pemain-pemain senior Persipura. Seperti Boas Salossa, Ian Luis Kabes, Tinus Pae, dan legiun asing Thiago Amaral. “Sekarang ini saya masih bersama Persipura. Saya masih ingin mencari pengalaman di tim-tim Liga 1,” pungkas Epin.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagi Dian Erfianto Pambudi, menjadi seorang fisioterapis bukanlah cita-citanya. Selepas lulus dari bangku SMA di Bondowoso, alumnus SMAN 1 Bondowoso ini ingin menempuh pendidikan sarjana di Kota Malang.

Orang tuanya pun tetap merestui dirinya kuliah di Malang. Pria yang akrab disapa Epin ini sebenarnya sudah masuk jalur SMPTN di Universitas Negeri Malang (UNM) Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK). Namun, dia tak memilih FIK waktu itu. Epin pun sempat iseng-iseng tes lagi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jurusan fisioterapis.

Akhirnya, pria yang memiliki passion di olahraga sepak bola dan basket ini diterima. Epin mengaku, dia akhirnya memilih jurusan fisioterapis untuk olahraga. Namun, awalnya dia tak mengetahui apa itu jurusan fisioterapis. Setelah lulus pun dia tak mengerti, mau jadi apa seorang fisioterapis ini. “Tetapi dulu orang tua melepas. Mau kuliah di mana saja silakan. Mungkin saya anak laki-laki satu-satunya, jadi sudah punya tanggung jawab sendiri,” ungkap Epin.

Profesi fisioterapis perlahan dia tekuni. Seiring berjalannya waktu, peran fisioterapis, khususnya di bidang olahraga, kini sangatlah penting. Perannya vital. Apalagi di beberapa klub sepak bola, basket, ataupun olahraga lainnya.

Hampir seluruh klub sepak bola Liga 1 memiliki seorang fisioterapis. Berbeda tentunya dengan tukang pijat dan dokter tim. Sebab, tugasnya berbeda. Perjalanan Epin menjadi fisioterapis yang sekarang ini bergabung dengan klub besar macam Mutiara Hitam, julukan Persipura Jayapura, tak mulus.

Sama seperti dengan klub. Dia memulainya dari kasta terendah hingga promosi ke level tertinggi Liga Indonesia, yakni Liga 1. Dari kompetisi amatir Liga 3 sampai Liga 1. Awal mula karir fisioterapis pria kelahiran 1994 ini berangkat dari tim Arema Indonesia. Waktu itu Arema berlaga di Liga 3 zona Jatim tahun 2017 silam. “Waktu itu saya masih kuliah semester akhir. Nah, ditawari oleh pelatih kampus untuk jadi fisioterapis di Arema. Saya kira Arema yang di Liga 1, tapi ternyata Liga 3,” kata Epin.

Meski sempat mengira Arema Liga 1, tapi tawaran bergabung dengan Arema Liga 3 tak ditolak Epin. Dia mengaku ingin menambah pengalaman dulu sebagai fisioterapis di klub sepak bola. Dari Arema Liga 3 itulah, karir Epin mulai naik. Setelah lulus kuliah, Epin bergabung bersama Barito Putera, kontestan Liga 1.

“Saat itu Barito mengadakan TC di Malang. Nah, saya sempat jadi fisioterapis lepas buat Barito karena memang pemainnya banyak waktu itu. Saya juga kenal sama coach Jacksen F Tiago,” ujar Epin.

Liga musim 2018 dan 2019, Epin akhirnya benar-benar berlabuh dengan Barito. Bersama Barito, Epin sempat menangani tim senior maupun juniornya. “Saya sempat satu tim bersama Bagas-Bagus Kahfi di tim Barito U-16 kompetisi EPA. Juga sempat bersama tim senior main di beberapa laga tandang dan kandang,” kenang Epin.

Bersama Barito, Epin semakin menambah pengalamannya. Menjadi seorang fisioterapis yang awalnya dari tim Liga 3 hingga sampai di Liga 1. Epin banyak menceritakan pengalamannya. “Kalau bersama tim Liga 1 memang suasana dan atmosfernya beda. Apalagi waktu pertandingan. Stadion ramai, banyak sorot kamera, supporter full, juga disiarkan televisi. Itu tentu sangat beda dengan atmosfer pertandingan Liga 3,” ucap putra dari Jarimin, yang menjadi Kepala SMAN 3 Bondowoso saat ini.

Pengalaman bersama Barito itu dimanfaatkan oleh Epin. Tugas fisioterapis di klub bola sangatlah penting. Dia membantu proses pemulihan pemain yang cedera, rehabilitasi, juga membantu meningkatkan performa fisik otot pemain. Apalagi, ketika pertandingan, fisioterapis yang lari ke tengah lapangan saat pemain mengalami cedera dan memerlukan bantuan medis.

Fisioterapis yang menentukan apakah sang pemain dapat melanjutkan permainan atau harus ditandu ke pinggir lapangan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Lebih spesifiknya lagi, dalam sebuah tim olahraga, seorang fisioterapis akan memberi masukan kepada pelatih mengenai situasi dan kondisi dari seorang pemain.

Setelah dari Barito, Epin kembali pindah klub. Tahun 2020 dia bergabung bersama Persipura Jayapura. Bergabungnya Epin ke Persipura, tidak lepas dari rekomendasi Jacksen F Tiago. Sebelumnya, di Barito, Jacksen sempat menjadi pelatih kepala. Begitu kepindahan Jacksen ke Persipura, Epin juga turut diboyong.

“Tahun ini kan tidak ada kompetisi. Tapi Persipura sempat TC di Jogja dan Batu, Malang. Bahkan, beberapa bulan lalu, setelah lama tidak latihan bersama. Ada delapan pemain yang cedera bersamaan,” beber Epin.

Cedera pemain itulah yang menjadi tugas fisioterapis. Dia harus memonitor benar kondisi pemain saat cedera hingga masa pemulihan. Dari delapan pemain yang cedera itu, di antaranya pemain-pemain senior Persipura. Seperti Boas Salossa, Ian Luis Kabes, Tinus Pae, dan legiun asing Thiago Amaral. “Sekarang ini saya masih bersama Persipura. Saya masih ingin mencari pengalaman di tim-tim Liga 1,” pungkas Epin.

Mobile_AP_Half Page
Desktop_AP_Half Page

Berita Terbaru

Desktop_AP_Rectangle 1

Wajib Dibaca

Baru Tiga Raperda yang Beres

Tim Sering Kewalahan Lakukan Verfak

Lima Nakes Meninggal Dunia

Ular Kobra Masuk Rumah