alexametrics
23.4 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Anggota Nakal, Pecat!

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kesepakatan 32 perguruan silat harus menjadi prinsip baru bagi seluruh anggota perguruan di Jember. Sehingga kesepakatan itu bisa mencegah segala tindakan yang dapat meresahkan masyarakat. Contohnya, ketika ada anggota perguruan yang kembali berulah dengan melakukan kekerasan, pengeroyokan, atau aksi kriminalitas seperti premanisme, maka nama mereka harus dicoret dari keanggotaan. Biar timbul efek jera ke depannya.

Sikap tegas terkait pencopotan atau pemecatan keanggotaan ini disampaikan dua petinggi perguruan silat di Jember, seusai penandatanganan kesepakatan di hadapan Bupati Jember Hendy Siswanto serta sejumlah pejabat dan puluhan perguruan silat lain. Dua petinggi perguruan itu adalah Ketua Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Jember Fathorrosi, serta Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Jember Jono Wasinuddin.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Fathorrosi menyebut, hasil kesepakatan bersama 32 perguruan silat itu harus dipatuhi. “Kesepakatan bersama ini bagus. Artinya, para pesilat yang ada di Jember ke depan betul-betul terlindungi oleh pemerintah,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kesepakatan yang menetapkan berapa poin penting ini, menurutnya, harus bisa menghapus cerita buruk sebelumnya. Baik yang terjadi selama 2021 maupun tahun sebelumnya. “Yang lalu biarlah berlalu. Kini, bagaimana membangun ke depan. Bagaimana antarperguruan pencak silat guyub bersatu. Jangan sampai terjadi gesekan seperti yang kemarin-kemarin,” ucapnya.

Ditanya jika ada anggota Pagar Nusa yang melakukan pemukulan, aksi kekerasan, maupun premanisme, Rosi menegaskan akan menghapus nama anggotanya. Apalagi, jika pelanggaran itu tertera dalam kesepakatan yang dibuat bersama 32 perguruan silat. “Yang jelas akan dicopot dari keanggotaan,” tuturnya.

Bukan hanya itu, Pagar Nusa juga meminta agar semua kasus penganiayaan atau sejenisnya diproses secara hukum. “Selaku pimpinan, saya tidak boleh membela (anggota yang melakukan kekerasan, Red) yang memang tidak diajarkan di Pagar Nusa,” jelas Rosi. Dia pun menyebut akan mempersiapkan para atlet yang akan bertarung pada event yang akan diadakan IPSI maupun di Porprov nanti.

Sementara itu, Ketua PSHT Jember Jono Wasinuddin juga memberikan pernyataan di Pendapa Wahyawibawagraha pasca-penandatanganan kesepakatan. Menurutnya, pencak silat berkumpul dalam satu forum dalam momen itu patut disyukuri. “PSHT, NKRI harga mati. Artinya, keputusan bersama harus kita dukung,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kesepakatan 32 perguruan silat harus menjadi prinsip baru bagi seluruh anggota perguruan di Jember. Sehingga kesepakatan itu bisa mencegah segala tindakan yang dapat meresahkan masyarakat. Contohnya, ketika ada anggota perguruan yang kembali berulah dengan melakukan kekerasan, pengeroyokan, atau aksi kriminalitas seperti premanisme, maka nama mereka harus dicoret dari keanggotaan. Biar timbul efek jera ke depannya.

Sikap tegas terkait pencopotan atau pemecatan keanggotaan ini disampaikan dua petinggi perguruan silat di Jember, seusai penandatanganan kesepakatan di hadapan Bupati Jember Hendy Siswanto serta sejumlah pejabat dan puluhan perguruan silat lain. Dua petinggi perguruan itu adalah Ketua Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Jember Fathorrosi, serta Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Jember Jono Wasinuddin.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Fathorrosi menyebut, hasil kesepakatan bersama 32 perguruan silat itu harus dipatuhi. “Kesepakatan bersama ini bagus. Artinya, para pesilat yang ada di Jember ke depan betul-betul terlindungi oleh pemerintah,” katanya.

Kesepakatan yang menetapkan berapa poin penting ini, menurutnya, harus bisa menghapus cerita buruk sebelumnya. Baik yang terjadi selama 2021 maupun tahun sebelumnya. “Yang lalu biarlah berlalu. Kini, bagaimana membangun ke depan. Bagaimana antarperguruan pencak silat guyub bersatu. Jangan sampai terjadi gesekan seperti yang kemarin-kemarin,” ucapnya.

Ditanya jika ada anggota Pagar Nusa yang melakukan pemukulan, aksi kekerasan, maupun premanisme, Rosi menegaskan akan menghapus nama anggotanya. Apalagi, jika pelanggaran itu tertera dalam kesepakatan yang dibuat bersama 32 perguruan silat. “Yang jelas akan dicopot dari keanggotaan,” tuturnya.

Bukan hanya itu, Pagar Nusa juga meminta agar semua kasus penganiayaan atau sejenisnya diproses secara hukum. “Selaku pimpinan, saya tidak boleh membela (anggota yang melakukan kekerasan, Red) yang memang tidak diajarkan di Pagar Nusa,” jelas Rosi. Dia pun menyebut akan mempersiapkan para atlet yang akan bertarung pada event yang akan diadakan IPSI maupun di Porprov nanti.

Sementara itu, Ketua PSHT Jember Jono Wasinuddin juga memberikan pernyataan di Pendapa Wahyawibawagraha pasca-penandatanganan kesepakatan. Menurutnya, pencak silat berkumpul dalam satu forum dalam momen itu patut disyukuri. “PSHT, NKRI harga mati. Artinya, keputusan bersama harus kita dukung,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kesepakatan 32 perguruan silat harus menjadi prinsip baru bagi seluruh anggota perguruan di Jember. Sehingga kesepakatan itu bisa mencegah segala tindakan yang dapat meresahkan masyarakat. Contohnya, ketika ada anggota perguruan yang kembali berulah dengan melakukan kekerasan, pengeroyokan, atau aksi kriminalitas seperti premanisme, maka nama mereka harus dicoret dari keanggotaan. Biar timbul efek jera ke depannya.

Sikap tegas terkait pencopotan atau pemecatan keanggotaan ini disampaikan dua petinggi perguruan silat di Jember, seusai penandatanganan kesepakatan di hadapan Bupati Jember Hendy Siswanto serta sejumlah pejabat dan puluhan perguruan silat lain. Dua petinggi perguruan itu adalah Ketua Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Jember Fathorrosi, serta Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Jember Jono Wasinuddin.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Fathorrosi menyebut, hasil kesepakatan bersama 32 perguruan silat itu harus dipatuhi. “Kesepakatan bersama ini bagus. Artinya, para pesilat yang ada di Jember ke depan betul-betul terlindungi oleh pemerintah,” katanya.

Kesepakatan yang menetapkan berapa poin penting ini, menurutnya, harus bisa menghapus cerita buruk sebelumnya. Baik yang terjadi selama 2021 maupun tahun sebelumnya. “Yang lalu biarlah berlalu. Kini, bagaimana membangun ke depan. Bagaimana antarperguruan pencak silat guyub bersatu. Jangan sampai terjadi gesekan seperti yang kemarin-kemarin,” ucapnya.

Ditanya jika ada anggota Pagar Nusa yang melakukan pemukulan, aksi kekerasan, maupun premanisme, Rosi menegaskan akan menghapus nama anggotanya. Apalagi, jika pelanggaran itu tertera dalam kesepakatan yang dibuat bersama 32 perguruan silat. “Yang jelas akan dicopot dari keanggotaan,” tuturnya.

Bukan hanya itu, Pagar Nusa juga meminta agar semua kasus penganiayaan atau sejenisnya diproses secara hukum. “Selaku pimpinan, saya tidak boleh membela (anggota yang melakukan kekerasan, Red) yang memang tidak diajarkan di Pagar Nusa,” jelas Rosi. Dia pun menyebut akan mempersiapkan para atlet yang akan bertarung pada event yang akan diadakan IPSI maupun di Porprov nanti.

Sementara itu, Ketua PSHT Jember Jono Wasinuddin juga memberikan pernyataan di Pendapa Wahyawibawagraha pasca-penandatanganan kesepakatan. Menurutnya, pencak silat berkumpul dalam satu forum dalam momen itu patut disyukuri. “PSHT, NKRI harga mati. Artinya, keputusan bersama harus kita dukung,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/