alexametrics
22.7 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Minim Fasilitas, Latihan Gunakan Matras Balita dan Silat hingga Meja

Tak punya tempat latihan tetap dan venue pertandingan serta peralatan seadanya menjadi tantangan bagi cabor senam menghadapi Porprov 2021 mendatang. Terlebih, Jember menjadi tuan rumah untuk cabor gerak tubuh tersebut. Bagaimana mereka menyiasati keterbatasan ini?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi itu, salah satu ruang kelas di MTsN 2 Jember berubah total. Tidak ada meja kursi sebagaimana biasanya. Ruang itu hanya menyisakan papan tulis dan kata-kata mutiara yang menempel di dinding. Walau begitu, kelas itu tidak kosong begitu saja. Lantainya sudah dilapisi matras berwarna-warni seperti di playground. Di sudut kelas juga ada matras berbahan busa.

Ruang kelas itu sementara diubah fungsinya dari tempat belajar jadi lokasi latihan cabang olahraga (cabor) senam. Gerakan atlet-atlet senam tampak begitu atraktif. Mereka tak sekadar bisa kayang, tapi juga gerakan yang lain. Walau latihan di ruang kelas, namun hal itu tak menghentikan semangat para atlet muda ini berlatih. “Matras ini sebenarnya bukan untuk senam,” terang Anik Kuntariani, pelatih Persatuan Senam Indonesia (Persani).

Menurutnya, matras senam yang dipakai itu lebih lentur, lebar, dan terdapat pegas. Sedangkan matras warna-warni serta berbahan busa yang dipakai latihan sepenuhnya bukan milik Persani, tapi dari sekolah. “Matras itu sebenarnya sering dipakai pencak silat sekolah, jadi kami pinjam,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Anik mengaku, untuk tempat latihan senam sendiri tidak ada lokasi khusus. Melainkan menyebar di tiga titik. Senam aerobic gymnastic di MTsN 2 dan SDN Kaliwates 1. Sementara, senam ritmis di SDN Kepatihan 1, sedangkan senam artistik di SDN Bedadung 1. “Karena pelatihnya mengajar di sekolah berbeda-beda, akhirnya lokasi latihan juga berbeda-beda,” tambahnya.

Sebenarnya Anik ingin tempat latihan itu dijadikan satu. Namun, fasilitas dan peralatan senam berkata lain. Kondisi inilah yang membuat mereka latihan terpisah. Kendati begitu, latihan atlet ini tak boleh kendur.

Sarana senam artistik di SDN Bedadung 1 juga tak kalah memprihatinkan. Para atlet memakai peralatan ala kadarnya. Seperti untuk kuda-kuda pelana atau pommel horse dan kuda-kuda lompat atau horse vault, latihannya memakai meja belajar di ruang kelas. “Mengapa pakai meja belajar? Itu rahasia lah. Cara itu menjadi solusi karena tidak punya peralatan kuda-kuda,” ungkapnya, kemudian terkekeh.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi itu, salah satu ruang kelas di MTsN 2 Jember berubah total. Tidak ada meja kursi sebagaimana biasanya. Ruang itu hanya menyisakan papan tulis dan kata-kata mutiara yang menempel di dinding. Walau begitu, kelas itu tidak kosong begitu saja. Lantainya sudah dilapisi matras berwarna-warni seperti di playground. Di sudut kelas juga ada matras berbahan busa.

Ruang kelas itu sementara diubah fungsinya dari tempat belajar jadi lokasi latihan cabang olahraga (cabor) senam. Gerakan atlet-atlet senam tampak begitu atraktif. Mereka tak sekadar bisa kayang, tapi juga gerakan yang lain. Walau latihan di ruang kelas, namun hal itu tak menghentikan semangat para atlet muda ini berlatih. “Matras ini sebenarnya bukan untuk senam,” terang Anik Kuntariani, pelatih Persatuan Senam Indonesia (Persani).

Menurutnya, matras senam yang dipakai itu lebih lentur, lebar, dan terdapat pegas. Sedangkan matras warna-warni serta berbahan busa yang dipakai latihan sepenuhnya bukan milik Persani, tapi dari sekolah. “Matras itu sebenarnya sering dipakai pencak silat sekolah, jadi kami pinjam,” tuturnya.

Anik mengaku, untuk tempat latihan senam sendiri tidak ada lokasi khusus. Melainkan menyebar di tiga titik. Senam aerobic gymnastic di MTsN 2 dan SDN Kaliwates 1. Sementara, senam ritmis di SDN Kepatihan 1, sedangkan senam artistik di SDN Bedadung 1. “Karena pelatihnya mengajar di sekolah berbeda-beda, akhirnya lokasi latihan juga berbeda-beda,” tambahnya.

Sebenarnya Anik ingin tempat latihan itu dijadikan satu. Namun, fasilitas dan peralatan senam berkata lain. Kondisi inilah yang membuat mereka latihan terpisah. Kendati begitu, latihan atlet ini tak boleh kendur.

Sarana senam artistik di SDN Bedadung 1 juga tak kalah memprihatinkan. Para atlet memakai peralatan ala kadarnya. Seperti untuk kuda-kuda pelana atau pommel horse dan kuda-kuda lompat atau horse vault, latihannya memakai meja belajar di ruang kelas. “Mengapa pakai meja belajar? Itu rahasia lah. Cara itu menjadi solusi karena tidak punya peralatan kuda-kuda,” ungkapnya, kemudian terkekeh.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi itu, salah satu ruang kelas di MTsN 2 Jember berubah total. Tidak ada meja kursi sebagaimana biasanya. Ruang itu hanya menyisakan papan tulis dan kata-kata mutiara yang menempel di dinding. Walau begitu, kelas itu tidak kosong begitu saja. Lantainya sudah dilapisi matras berwarna-warni seperti di playground. Di sudut kelas juga ada matras berbahan busa.

Ruang kelas itu sementara diubah fungsinya dari tempat belajar jadi lokasi latihan cabang olahraga (cabor) senam. Gerakan atlet-atlet senam tampak begitu atraktif. Mereka tak sekadar bisa kayang, tapi juga gerakan yang lain. Walau latihan di ruang kelas, namun hal itu tak menghentikan semangat para atlet muda ini berlatih. “Matras ini sebenarnya bukan untuk senam,” terang Anik Kuntariani, pelatih Persatuan Senam Indonesia (Persani).

Menurutnya, matras senam yang dipakai itu lebih lentur, lebar, dan terdapat pegas. Sedangkan matras warna-warni serta berbahan busa yang dipakai latihan sepenuhnya bukan milik Persani, tapi dari sekolah. “Matras itu sebenarnya sering dipakai pencak silat sekolah, jadi kami pinjam,” tuturnya.

Anik mengaku, untuk tempat latihan senam sendiri tidak ada lokasi khusus. Melainkan menyebar di tiga titik. Senam aerobic gymnastic di MTsN 2 dan SDN Kaliwates 1. Sementara, senam ritmis di SDN Kepatihan 1, sedangkan senam artistik di SDN Bedadung 1. “Karena pelatihnya mengajar di sekolah berbeda-beda, akhirnya lokasi latihan juga berbeda-beda,” tambahnya.

Sebenarnya Anik ingin tempat latihan itu dijadikan satu. Namun, fasilitas dan peralatan senam berkata lain. Kondisi inilah yang membuat mereka latihan terpisah. Kendati begitu, latihan atlet ini tak boleh kendur.

Sarana senam artistik di SDN Bedadung 1 juga tak kalah memprihatinkan. Para atlet memakai peralatan ala kadarnya. Seperti untuk kuda-kuda pelana atau pommel horse dan kuda-kuda lompat atau horse vault, latihannya memakai meja belajar di ruang kelas. “Mengapa pakai meja belajar? Itu rahasia lah. Cara itu menjadi solusi karena tidak punya peralatan kuda-kuda,” ungkapnya, kemudian terkekeh.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/