alexametrics
23 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Tak Disangka, Sekeluarga di Jember Jadi Atlet Panjat Tebing

Mengenal Tiga Bersaudara, Abdi, Haidar, dan Fawas Semua Jadi Atlet Panjat Tebing, sejak Usia Tiga Tahun Sudah Naik Genting

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – KAMIS siang (2/9), area panjat tebing di Kafe Kolong, Jalan Mastrip, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, mulai ramai dengan teriakan suporter atlet panjat. Para atlet itu berkompetisi pada ajang seleksi untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2022. Ada yang memekik, ada juga yang sekadar bersiul demi mendukung jagoannya. Dukungan inilah yang membuat Ahmad Abdi Kamal Maulana, yang memanjat di nomor lead putra, tampak semangat menggapai poin demi poin.

Sesampainya di puncak, Abdi, yang kini masih berstatus sebagai pelajar di SMAN Olahraga (Smanor) Sidoarjo, dengan bangganya melepas senyum dan melambaikan tangan ke penonton. Pemanjat kedua, yang sama mengenakan kaus merah seperti Abdi, hasilnya juga mampu mencapai puncak. Salah satu penonton yang menyaksikan siang itu terus merekam aksi keduanya. “Wah, sip ini. Mereka adik kakak,” ucap Samsul, menjelaskan dua pemanjat tadi.

Pria yang kala mahasiswa menjadi atlet panjat saat bergabung di pencinta alam tersebut mengatakan, tidak hanya Abdi dan satu adiknya, tapi ada lagi dari keluarga itu yang juga pemanjat. “Mereka tiga bersaudara. Sip-sip manjatnya. Bisa menjadi masa depan Jember,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Adik Abdi yang lain bernama Fawas, juga memanjat di nomor lead putra. Walau masih duduk di bangku SD, Fawas mampu melewati sampai top, sama dengan dua kakaknya, Abdi dan Haidar.

Mariono, orang tua ketiga atlet panjang tebing itu, mengatakan, dirinya mengarahkan Abdi ke panjat tebing karena potensi putra pertamanya tersebut memang dalam olahraga memanjat. “Usia tiga tahun itu sudah naik genting dan naik lewat pohon,” kenangnya.

Mariono sendiri waktu itu belum kenal panjat tebing, dirinya juga bukan pencinta alam. Pindah ke Jember tahun 2006, Mariono mencari di mana klub atau tempat berlatih panjat di Jember. “Baru tahu ada panjat itu di FKIP Unej saat mengantarkan istri kuliah S-2 di sana,” ungkapnya. Kompetisi pertama saat Bulan Berkunjung Jember (BBJ) lalu. Dan kali terakhir pada 2018 saat ketiga anak Mariono memborong medali kompetisi panjat di Pamekasan. Dua medali emas lead dan speed didapat Abdi, satu perak dan emas juga disusul adiknya, Fawas. Sedangkan Haidar harus puas di posisi keempat.

Mariono juga mengubah ruang tamunya, yang temboknya dibenamkan papan panjat sebagai latihan. Abdi yang sekarang melatih adik-adiknya. Tiga anak menjadi atlet tersebut juga dibarengi dengan kegigihan orang tua. “Ya, alhamdulillah, istri mendukung. Anak-anak diserahkan ke saya,” ucapnya.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – KAMIS siang (2/9), area panjat tebing di Kafe Kolong, Jalan Mastrip, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, mulai ramai dengan teriakan suporter atlet panjat. Para atlet itu berkompetisi pada ajang seleksi untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2022. Ada yang memekik, ada juga yang sekadar bersiul demi mendukung jagoannya. Dukungan inilah yang membuat Ahmad Abdi Kamal Maulana, yang memanjat di nomor lead putra, tampak semangat menggapai poin demi poin.

Sesampainya di puncak, Abdi, yang kini masih berstatus sebagai pelajar di SMAN Olahraga (Smanor) Sidoarjo, dengan bangganya melepas senyum dan melambaikan tangan ke penonton. Pemanjat kedua, yang sama mengenakan kaus merah seperti Abdi, hasilnya juga mampu mencapai puncak. Salah satu penonton yang menyaksikan siang itu terus merekam aksi keduanya. “Wah, sip ini. Mereka adik kakak,” ucap Samsul, menjelaskan dua pemanjat tadi.

Pria yang kala mahasiswa menjadi atlet panjat saat bergabung di pencinta alam tersebut mengatakan, tidak hanya Abdi dan satu adiknya, tapi ada lagi dari keluarga itu yang juga pemanjat. “Mereka tiga bersaudara. Sip-sip manjatnya. Bisa menjadi masa depan Jember,” katanya.

Adik Abdi yang lain bernama Fawas, juga memanjat di nomor lead putra. Walau masih duduk di bangku SD, Fawas mampu melewati sampai top, sama dengan dua kakaknya, Abdi dan Haidar.

Mariono, orang tua ketiga atlet panjang tebing itu, mengatakan, dirinya mengarahkan Abdi ke panjat tebing karena potensi putra pertamanya tersebut memang dalam olahraga memanjat. “Usia tiga tahun itu sudah naik genting dan naik lewat pohon,” kenangnya.

Mariono sendiri waktu itu belum kenal panjat tebing, dirinya juga bukan pencinta alam. Pindah ke Jember tahun 2006, Mariono mencari di mana klub atau tempat berlatih panjat di Jember. “Baru tahu ada panjat itu di FKIP Unej saat mengantarkan istri kuliah S-2 di sana,” ungkapnya. Kompetisi pertama saat Bulan Berkunjung Jember (BBJ) lalu. Dan kali terakhir pada 2018 saat ketiga anak Mariono memborong medali kompetisi panjat di Pamekasan. Dua medali emas lead dan speed didapat Abdi, satu perak dan emas juga disusul adiknya, Fawas. Sedangkan Haidar harus puas di posisi keempat.

Mariono juga mengubah ruang tamunya, yang temboknya dibenamkan papan panjat sebagai latihan. Abdi yang sekarang melatih adik-adiknya. Tiga anak menjadi atlet tersebut juga dibarengi dengan kegigihan orang tua. “Ya, alhamdulillah, istri mendukung. Anak-anak diserahkan ke saya,” ucapnya.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – KAMIS siang (2/9), area panjat tebing di Kafe Kolong, Jalan Mastrip, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, mulai ramai dengan teriakan suporter atlet panjat. Para atlet itu berkompetisi pada ajang seleksi untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2022. Ada yang memekik, ada juga yang sekadar bersiul demi mendukung jagoannya. Dukungan inilah yang membuat Ahmad Abdi Kamal Maulana, yang memanjat di nomor lead putra, tampak semangat menggapai poin demi poin.

Sesampainya di puncak, Abdi, yang kini masih berstatus sebagai pelajar di SMAN Olahraga (Smanor) Sidoarjo, dengan bangganya melepas senyum dan melambaikan tangan ke penonton. Pemanjat kedua, yang sama mengenakan kaus merah seperti Abdi, hasilnya juga mampu mencapai puncak. Salah satu penonton yang menyaksikan siang itu terus merekam aksi keduanya. “Wah, sip ini. Mereka adik kakak,” ucap Samsul, menjelaskan dua pemanjat tadi.

Pria yang kala mahasiswa menjadi atlet panjat saat bergabung di pencinta alam tersebut mengatakan, tidak hanya Abdi dan satu adiknya, tapi ada lagi dari keluarga itu yang juga pemanjat. “Mereka tiga bersaudara. Sip-sip manjatnya. Bisa menjadi masa depan Jember,” katanya.

Adik Abdi yang lain bernama Fawas, juga memanjat di nomor lead putra. Walau masih duduk di bangku SD, Fawas mampu melewati sampai top, sama dengan dua kakaknya, Abdi dan Haidar.

Mariono, orang tua ketiga atlet panjang tebing itu, mengatakan, dirinya mengarahkan Abdi ke panjat tebing karena potensi putra pertamanya tersebut memang dalam olahraga memanjat. “Usia tiga tahun itu sudah naik genting dan naik lewat pohon,” kenangnya.

Mariono sendiri waktu itu belum kenal panjat tebing, dirinya juga bukan pencinta alam. Pindah ke Jember tahun 2006, Mariono mencari di mana klub atau tempat berlatih panjat di Jember. “Baru tahu ada panjat itu di FKIP Unej saat mengantarkan istri kuliah S-2 di sana,” ungkapnya. Kompetisi pertama saat Bulan Berkunjung Jember (BBJ) lalu. Dan kali terakhir pada 2018 saat ketiga anak Mariono memborong medali kompetisi panjat di Pamekasan. Dua medali emas lead dan speed didapat Abdi, satu perak dan emas juga disusul adiknya, Fawas. Sedangkan Haidar harus puas di posisi keempat.

Mariono juga mengubah ruang tamunya, yang temboknya dibenamkan papan panjat sebagai latihan. Abdi yang sekarang melatih adik-adiknya. Tiga anak menjadi atlet tersebut juga dibarengi dengan kegigihan orang tua. “Ya, alhamdulillah, istri mendukung. Anak-anak diserahkan ke saya,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/