alexametrics
23.3 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Cabor Kaget, Ada Bantuan bagi Atlet

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah pengurus cabang olahraga (cabor) mengaku kaget atas munculnya kabar adanya bantuan transportasi bagi atlet pada Porprov Jatim 2019 lalu. Sebab, selama ini beberapa cabor merasa tidak pernah menerima bantuan yang nilai totalnya sebesar Rp 48 juta lebih tersebut.

“Dugaan kami, tanda tangan cabor penerima bantuan transportasi itu dipalsukan. Meski tanda tangan tersebut bermeterai,” ucap Ketua GMBI Jember Nailil Hufron. Dia merasa janggal karena tanda tangan di kuitansi bermeterai tersebut seperti memakai bolpoin yang sama.

Dalam salinan LPJ KONI Jember tersebut terdapat nama-nama penerima uang bantuan transportasi. Rata-rata adalah para pelatih atau ofisial cabor. Salah satunya tercantum nama Riki Suhermanto yang tanda tangan di kuitansi dan menerima uang senilai Rp 2 juta.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Riki mengaku tidak pernah mendapatkan dana sebesar itu. Seingatnya, dia pernah mendapatkan dana dari KONI Jember di Porprov 2019 itu dua kali. Pertama, saat bertemu di daerah perbatasan Bojonegoro-Lamongan. “Dikasih di mobil, waktu itu. Lupa total bantuan dananya ada berapa. Yang jelas, tidak sampai Rp 1 juta. Katanya uang itu untuk suplemen dan tanda tangan kuitansi juga, tapi kosong,” tuturnya.

Pria yang kini menjabat sebagai Ketua Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) Jember itu menjelaskan, pada Porprov 2019 lalu dirinya adalah pelatih dari cabor panahan. Seusai pertandingan, pada malam hari ia diberi uang dari KONI Jember melalui Wakil Ketua KONI Jember Indi Naidha. “Ada lima atlet panahan dan tiga pelatih. Setiap atlet dan pelatih diberikan Rp 100 ribu,” ungkapnya.

Lagi-lagi, dia menambahkan, kuitansi yang ditandatangani juga tidak tertera jumlahnya berapa dan hanya kosongan, juga tanpa meterai. Padahal atlet panahan Jember yang berlaga di Porprov 2019 lalu selama tujuh hari.

Selain Riki, juga ada Dellabas, yang dalam LPJ disebut menerima uang Rp 1 juta. Namun, pelatih panjat tebing tersebut merasa tidak mendapatkan uang bantuan sama sekali dari KONI Jember. “Kalau dari panjat tebing ada dua atlet. Masing-masing putra dan putri,” terangnya. Total dari cabor panjat tebing ada tiga orang yang berangkat. Satu pelatih dan dua atlet.

Dellabas merasa aneh bila ada tanda tangan dirinya di LPJ sebagai penerima bantuan dana transportasi senilai Rp 1 juta tersebut. “Tidak pernah tanda tangan,” paparnya.

Pria yang pernah meraih medali perunggu di Porprov Jatim III di Kediri tersebut mengaku hanya mendapatkan dana sebelum berangkat. “Tapi itu dana dari Dispora untuk setiap atlet. Kalau tidak salah Rp 750 ribu untuk uang saku,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah pengurus cabang olahraga (cabor) mengaku kaget atas munculnya kabar adanya bantuan transportasi bagi atlet pada Porprov Jatim 2019 lalu. Sebab, selama ini beberapa cabor merasa tidak pernah menerima bantuan yang nilai totalnya sebesar Rp 48 juta lebih tersebut.

“Dugaan kami, tanda tangan cabor penerima bantuan transportasi itu dipalsukan. Meski tanda tangan tersebut bermeterai,” ucap Ketua GMBI Jember Nailil Hufron. Dia merasa janggal karena tanda tangan di kuitansi bermeterai tersebut seperti memakai bolpoin yang sama.

Dalam salinan LPJ KONI Jember tersebut terdapat nama-nama penerima uang bantuan transportasi. Rata-rata adalah para pelatih atau ofisial cabor. Salah satunya tercantum nama Riki Suhermanto yang tanda tangan di kuitansi dan menerima uang senilai Rp 2 juta.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Riki mengaku tidak pernah mendapatkan dana sebesar itu. Seingatnya, dia pernah mendapatkan dana dari KONI Jember di Porprov 2019 itu dua kali. Pertama, saat bertemu di daerah perbatasan Bojonegoro-Lamongan. “Dikasih di mobil, waktu itu. Lupa total bantuan dananya ada berapa. Yang jelas, tidak sampai Rp 1 juta. Katanya uang itu untuk suplemen dan tanda tangan kuitansi juga, tapi kosong,” tuturnya.

Pria yang kini menjabat sebagai Ketua Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) Jember itu menjelaskan, pada Porprov 2019 lalu dirinya adalah pelatih dari cabor panahan. Seusai pertandingan, pada malam hari ia diberi uang dari KONI Jember melalui Wakil Ketua KONI Jember Indi Naidha. “Ada lima atlet panahan dan tiga pelatih. Setiap atlet dan pelatih diberikan Rp 100 ribu,” ungkapnya.

Lagi-lagi, dia menambahkan, kuitansi yang ditandatangani juga tidak tertera jumlahnya berapa dan hanya kosongan, juga tanpa meterai. Padahal atlet panahan Jember yang berlaga di Porprov 2019 lalu selama tujuh hari.

Selain Riki, juga ada Dellabas, yang dalam LPJ disebut menerima uang Rp 1 juta. Namun, pelatih panjat tebing tersebut merasa tidak mendapatkan uang bantuan sama sekali dari KONI Jember. “Kalau dari panjat tebing ada dua atlet. Masing-masing putra dan putri,” terangnya. Total dari cabor panjat tebing ada tiga orang yang berangkat. Satu pelatih dan dua atlet.

Dellabas merasa aneh bila ada tanda tangan dirinya di LPJ sebagai penerima bantuan dana transportasi senilai Rp 1 juta tersebut. “Tidak pernah tanda tangan,” paparnya.

Pria yang pernah meraih medali perunggu di Porprov Jatim III di Kediri tersebut mengaku hanya mendapatkan dana sebelum berangkat. “Tapi itu dana dari Dispora untuk setiap atlet. Kalau tidak salah Rp 750 ribu untuk uang saku,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah pengurus cabang olahraga (cabor) mengaku kaget atas munculnya kabar adanya bantuan transportasi bagi atlet pada Porprov Jatim 2019 lalu. Sebab, selama ini beberapa cabor merasa tidak pernah menerima bantuan yang nilai totalnya sebesar Rp 48 juta lebih tersebut.

“Dugaan kami, tanda tangan cabor penerima bantuan transportasi itu dipalsukan. Meski tanda tangan tersebut bermeterai,” ucap Ketua GMBI Jember Nailil Hufron. Dia merasa janggal karena tanda tangan di kuitansi bermeterai tersebut seperti memakai bolpoin yang sama.

Dalam salinan LPJ KONI Jember tersebut terdapat nama-nama penerima uang bantuan transportasi. Rata-rata adalah para pelatih atau ofisial cabor. Salah satunya tercantum nama Riki Suhermanto yang tanda tangan di kuitansi dan menerima uang senilai Rp 2 juta.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Riki mengaku tidak pernah mendapatkan dana sebesar itu. Seingatnya, dia pernah mendapatkan dana dari KONI Jember di Porprov 2019 itu dua kali. Pertama, saat bertemu di daerah perbatasan Bojonegoro-Lamongan. “Dikasih di mobil, waktu itu. Lupa total bantuan dananya ada berapa. Yang jelas, tidak sampai Rp 1 juta. Katanya uang itu untuk suplemen dan tanda tangan kuitansi juga, tapi kosong,” tuturnya.

Pria yang kini menjabat sebagai Ketua Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) Jember itu menjelaskan, pada Porprov 2019 lalu dirinya adalah pelatih dari cabor panahan. Seusai pertandingan, pada malam hari ia diberi uang dari KONI Jember melalui Wakil Ketua KONI Jember Indi Naidha. “Ada lima atlet panahan dan tiga pelatih. Setiap atlet dan pelatih diberikan Rp 100 ribu,” ungkapnya.

Lagi-lagi, dia menambahkan, kuitansi yang ditandatangani juga tidak tertera jumlahnya berapa dan hanya kosongan, juga tanpa meterai. Padahal atlet panahan Jember yang berlaga di Porprov 2019 lalu selama tujuh hari.

Selain Riki, juga ada Dellabas, yang dalam LPJ disebut menerima uang Rp 1 juta. Namun, pelatih panjat tebing tersebut merasa tidak mendapatkan uang bantuan sama sekali dari KONI Jember. “Kalau dari panjat tebing ada dua atlet. Masing-masing putra dan putri,” terangnya. Total dari cabor panjat tebing ada tiga orang yang berangkat. Satu pelatih dan dua atlet.

Dellabas merasa aneh bila ada tanda tangan dirinya di LPJ sebagai penerima bantuan dana transportasi senilai Rp 1 juta tersebut. “Tidak pernah tanda tangan,” paparnya.

Pria yang pernah meraih medali perunggu di Porprov Jatim III di Kediri tersebut mengaku hanya mendapatkan dana sebelum berangkat. “Tapi itu dana dari Dispora untuk setiap atlet. Kalau tidak salah Rp 750 ribu untuk uang saku,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/