Pilih Sepak Takraw karena Murah

RADARJEMBER.ID –  Siapa sangka jika awal karier sang juara seperti Saiful Rijal penuh dengan penderitaan. Tidak instan atau abracadabra jadi atlet internasional. Itu pun memilih sepak takraw karena biayanya murah. Nyeker juga bisa. Kisah-kisah itulah yang bisa bikin orang meleleh jika mendengarnya.

IKLAN

Saiful Rijal lahir di tengah keluarga sederhana. Ayahnya yang bernama Katirin menjadi seorang wiraswasta. Sementara ibunya yang bernama Muslimatin adalah sosok ibu rumah tangga. Rijal yang jadi anak pertama menjadi harapan hidup keluarga ini. Rizal juga kerap jadi tumpuan dan teladan ketiga adiknya. Yakni Rina, Fita, Hilal.

Rijal melewati hari-harinya dengan penuh perjuangan. Dan tidak langsung memilih cabor sepak takraw sebagai garis pilihan karier olahraganya.  “Sempat tertarik pada bulu tangkis, tapi enggak rasanya,” ungkap lelaki yang kini meraih emas Asian Games itu.

Dia mengakui, olahraga di kampungnya, tepatnya di RT 19, Dusun Krajan, Desa Sumberurip, Kecamatan Candipuro adalah bulu tangkis. “Dulu saya diarahkan ke bulu tangkis memang, tapi  tidak jadi,” jelasnya.

Penyebabnya sepele. Saat itu, dia mengamati perlu olahraga yang biayanya sangat murah. Tidak perlu biaya kalau latihan. Tanpa sepatu alias nyeker juga bisa. Dan tidak perlu beli kok setiap main. Jadinya, dia memilih main sepak takraw. “Soalnya biayanya sangat murah. Kalau sepak takraw super murah. Nyeker juga bisa. Dan bolanya rotan udah jadi. Tidak gampang meletus,” jelasnya.

Sejak memilih sepak takraw, dia rajin berlatih sepulang sekolah. Bahkan sering ikut kejuaraan antar kampung (tarkam). Hal itu berlangsung terus-menerus sampai dia sekolah di SMANOR. Tidak langsung jadi atlet sepak takraw. Masih penuh perjuangan.

Memang dia mengakui ada temannya yang pulang kompetisi membela Lumajang telantar. Pulangnya nunut truk (numpang truk) untuk bisa pulang sampai Pronojiwo. Namun, hal itu tidak sampai menimpa dirinya. “Kalau aku cuma sering main tarkam terus selama di Lumajang dulu. Ada komunitas sepak takraw di kampung,” ungkapnya.

Kini  Rijal sudah jadi juara internasional level Asia. Namanya tercatat dalam sejarah tanah air. Smash salto di udara andalannya tiga hari lalu seharga emas di Asian Games untuk disumbangkan merah putih. Meski begitu, dia tetap berkomitmen pada kampung halamannya.

Rijal juga tetap low profile meski sukses meraih emas bersama rekannya di tim Indonesia yakni Nofrizal, Hardiansyah, Rizky Pago, Halim dan Husni Uba. Dia juga tetap ingin sungkem pada orang tuanya setelah meraih emas.

Tadi malam,  Rijal sudah terbang ke Surabaya ikut jadwal penerbangan pukul 19.00. Dia mengaku akan pulang kampung duluan ke Pronojiwo. Baru setelah itu, akan mengikuti perayaan penyambutannya di Lumajang bersama ayah dan ibunya.

Reporter : Hafid Asnan
Editor :  Narto
Editor Bahasa: Yerri A Aji

Reporter :

Fotografer :

Editor :