alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Mendadak Muncul Cabor ‘Siluman’

Awalnya Klaim 40, Kini Jadi 45

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Isu Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jember kian menghangat. Bahkan terbaru, muncul lima cabang olahraga (cabor) baru yang sebelumnya tidak ada. Sejumlah pihak menuding, cabor tersebut sengaja dibentuk untuk kepentingan menolak musorkablub alias cabor ‘siluman’.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, jumlah cabor yang menjadi anggota KONI Jember masing-masing kubu pendukung musorkablub dan KONI memang berbeda. Bila versi musorkablub berjumlah 36 cabor, lain halnya dengan versi KONI, yaitu 40 cabor. Namun kini, belum genap dua pekan, jumlah cabor versi KONI kembali bertambah dengan jumlah total 45 cabor.

Selasa (23/3) lalu, Jawa Pos Radar Jember ke sekretariat KONI. Dua lembar kertas buram menunjukan daftar keseluruhan cabor di bawah naungan KONI Jember. Ketua KONI Jember Abdul Haris Alfianto juga meneliti satu per satu. Dari 42 cabor yang tercatat, ada dua cabor yang tidak ada. Yakni Persatuan Layang Gantung Indonesia (PLGI) karena telah menjadi satu dengan Federasi Aeromodeling Indonesia (FASI), dan kolom nomor 42 kosong. “Berarti, total 40 cabor,” kata Alfin, kala itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun, Rabu (31/3), Alfin mengatakan ada tambahan cabor saat Jawa Pos Radar Jember meminta tanggapannya tentang kubu musorkablub yang telah mengirimkan surat ke KONI Jatim. Alfin menuturkan, total ada 44 cabor. “Ada 44 cabor di KONI Jember. Ada juga yang SK mati,” terangnya, melalui sambungan telepon.

Alfin menuturkan, bila mengacu 44 cabor, berarti 2/3 dari ketentuan cabor yang mengajukan musorkablub minimal 29 cabor. Menurutnya, cabor yang mengajukan musorkablub itu sah-sah saja, asal memenuhi unsur 2/3 dari keseluruhan cabor. Namun, tak lama kemudian, Alfin mengirimkan data jumlah keseluruhan cabor di Jember dalam bentuk file PDF. “Jumlah cabor di KONI Jember 45, Mas,” ralatnya, lewat pesan WhatsApp.

Data file PDF tersebut juga ada tanda tangan dirinya sebagai Ketua KONI Jember tertanggal 21 Maret 2021. Dari data PDF yang dibandingkan dengan dua lembar kertas buram yang dibeberkan sebelumnya, cabor PLGI ternyata masih dimasukkan. Bahkan, juga ada nama TI dan Taekwondo. TI sebenarnya adalah nama induk organisasi taekwondo yaitu Taekwondo Indonesia (TI). Selain itu, nama Ketua TI di nomor urut 34 dalam daftar cabor tersebut juga sama dengan taekwondo yang tercatat di nomor urut 38. Sama-sama tertulis nama Rahmad.

Daftar 45 cabor versi KONI Jember terbaru ini, urutan lima terakhir adalah Indonesia Woodball Association (IWbA), yaitu cabor golf kayu, bola tangan, Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI), Indonesia Esports Association (IESPA), dan Perkumpulan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pabersi).

Menurut Alfin, cabor yang baru bergabung salah satunya adalah IESPA. Cabor itu dinilainya sudah sah dan masuk jadi keanggotaan KONI Jember. Dia juga menjelaskan, penambahan cabor di KONI itu tidak perlu dibahas dalam rapat kerja tahunan atau disebut rakerkab (rapat kerja kabupaten). Baginya, pendaftaran cabor untuk menjadi anggota KONI bisa setiap saat, terpenting ada SK dari provinsi, bukan kabupaten. Apakah 45 cabor KONI tersebut sah atau tidak? Alfin menyerahkan hal itu ke KONI Jatim untuk verifikasi. “Kami serahkan keabsahannya, legal formalnya ke KONI Jatim,” paparnya.

Sementara itu, Mantan Wakil Ketua KONI Jember periode 2000-2004 dan 2014-2018, Wagino mengatakan, untuk cabor yang bisa masuk menjadi anggota KONI Jember tidak bisa ujug-ujug begitu saja. Namun, harus melalui tahapan. Artinya, KONI sebagai induk cabor harus memberikan penilaian apakah cabor tersebut sesuai syarat atau tidak.

Dalam masa kepengurusannya, ada beberapa ketentuan cabor itu bisa masuk ke KONI. Salah satunya adalah membuat kompetisi secara lokal terlebih dahulu, terdapat atlet, dan pelatih. Selain itu, juga terdapat atletnya yang pernah mengikuti kejuaraan, serta tak kalah pentingnya ada pembinaan. “Juga dilihat apakah sudah dikenal dan diterima masyarakat. Apakah juga ada klubnya,” jelasnya.

Wagino mencontohkan, saat cabor menembak dengan organisasi bernama Perbakin itu diterima KONI menjadi anggota, pada waktu itu mengelar kejuaraan menembak dan mengeluarkan atlet untuk berkompetisi di luar daerah. Bila ada usulan cabor menjadi anggota KONI, juga dilihat apakah cabor tersebut terdapat induk organisasi secara nasional.

Pria 60 tahun yang mengenyam pengalaman dua kali di periode kepengurusan KONI Jember dan sempat menjabat sebagai penjabat sementara Ketua KONI ini mengakui, terkadang pembentukan cabor untuk masuk menjadi anggota KONI ada unsur kepentingan. Dia membagi dua kepentingan. Pertama, agar mendapatkan dana pembinaan dari dana hibah yang diterima KONI. Berikutnya, untuk menambah jumlah suara dalam pemilihan ketua umum. “Semua cabor itu dapat dana pembinaan. Cabor juga punya suara di muscab KONI,” terang pria yang kini usianya di atas 60 tahun tersebut.

Dia kembali menegaskan, untuk menentukan cabor masuk jadi anggota KONI ataupun ditolak, pembahasannya ada di mekanisme rapat tahunan. “Raker itu apakah dilaksanakan atau tidak? Kalau zaman saya itu tertib melaksanakan,” tutur pria yang memiliki latar belakang keilmuan hukum tersebut.

Mengulik anggaran dasar (AD) KONI pada pasal 34 ayat 5 huruf d, Rakerkab KONI yang digelar sekali dalam setahun itu, ada penjelasan tentang penetapan, penerimaan, atau penolakan terhadap permohonan cabor untuk diterima sebagai anggota atau tidak.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Isu Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jember kian menghangat. Bahkan terbaru, muncul lima cabang olahraga (cabor) baru yang sebelumnya tidak ada. Sejumlah pihak menuding, cabor tersebut sengaja dibentuk untuk kepentingan menolak musorkablub alias cabor ‘siluman’.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, jumlah cabor yang menjadi anggota KONI Jember masing-masing kubu pendukung musorkablub dan KONI memang berbeda. Bila versi musorkablub berjumlah 36 cabor, lain halnya dengan versi KONI, yaitu 40 cabor. Namun kini, belum genap dua pekan, jumlah cabor versi KONI kembali bertambah dengan jumlah total 45 cabor.

Selasa (23/3) lalu, Jawa Pos Radar Jember ke sekretariat KONI. Dua lembar kertas buram menunjukan daftar keseluruhan cabor di bawah naungan KONI Jember. Ketua KONI Jember Abdul Haris Alfianto juga meneliti satu per satu. Dari 42 cabor yang tercatat, ada dua cabor yang tidak ada. Yakni Persatuan Layang Gantung Indonesia (PLGI) karena telah menjadi satu dengan Federasi Aeromodeling Indonesia (FASI), dan kolom nomor 42 kosong. “Berarti, total 40 cabor,” kata Alfin, kala itu.

Namun, Rabu (31/3), Alfin mengatakan ada tambahan cabor saat Jawa Pos Radar Jember meminta tanggapannya tentang kubu musorkablub yang telah mengirimkan surat ke KONI Jatim. Alfin menuturkan, total ada 44 cabor. “Ada 44 cabor di KONI Jember. Ada juga yang SK mati,” terangnya, melalui sambungan telepon.

Alfin menuturkan, bila mengacu 44 cabor, berarti 2/3 dari ketentuan cabor yang mengajukan musorkablub minimal 29 cabor. Menurutnya, cabor yang mengajukan musorkablub itu sah-sah saja, asal memenuhi unsur 2/3 dari keseluruhan cabor. Namun, tak lama kemudian, Alfin mengirimkan data jumlah keseluruhan cabor di Jember dalam bentuk file PDF. “Jumlah cabor di KONI Jember 45, Mas,” ralatnya, lewat pesan WhatsApp.

Data file PDF tersebut juga ada tanda tangan dirinya sebagai Ketua KONI Jember tertanggal 21 Maret 2021. Dari data PDF yang dibandingkan dengan dua lembar kertas buram yang dibeberkan sebelumnya, cabor PLGI ternyata masih dimasukkan. Bahkan, juga ada nama TI dan Taekwondo. TI sebenarnya adalah nama induk organisasi taekwondo yaitu Taekwondo Indonesia (TI). Selain itu, nama Ketua TI di nomor urut 34 dalam daftar cabor tersebut juga sama dengan taekwondo yang tercatat di nomor urut 38. Sama-sama tertulis nama Rahmad.

Daftar 45 cabor versi KONI Jember terbaru ini, urutan lima terakhir adalah Indonesia Woodball Association (IWbA), yaitu cabor golf kayu, bola tangan, Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI), Indonesia Esports Association (IESPA), dan Perkumpulan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pabersi).

Menurut Alfin, cabor yang baru bergabung salah satunya adalah IESPA. Cabor itu dinilainya sudah sah dan masuk jadi keanggotaan KONI Jember. Dia juga menjelaskan, penambahan cabor di KONI itu tidak perlu dibahas dalam rapat kerja tahunan atau disebut rakerkab (rapat kerja kabupaten). Baginya, pendaftaran cabor untuk menjadi anggota KONI bisa setiap saat, terpenting ada SK dari provinsi, bukan kabupaten. Apakah 45 cabor KONI tersebut sah atau tidak? Alfin menyerahkan hal itu ke KONI Jatim untuk verifikasi. “Kami serahkan keabsahannya, legal formalnya ke KONI Jatim,” paparnya.

Sementara itu, Mantan Wakil Ketua KONI Jember periode 2000-2004 dan 2014-2018, Wagino mengatakan, untuk cabor yang bisa masuk menjadi anggota KONI Jember tidak bisa ujug-ujug begitu saja. Namun, harus melalui tahapan. Artinya, KONI sebagai induk cabor harus memberikan penilaian apakah cabor tersebut sesuai syarat atau tidak.

Dalam masa kepengurusannya, ada beberapa ketentuan cabor itu bisa masuk ke KONI. Salah satunya adalah membuat kompetisi secara lokal terlebih dahulu, terdapat atlet, dan pelatih. Selain itu, juga terdapat atletnya yang pernah mengikuti kejuaraan, serta tak kalah pentingnya ada pembinaan. “Juga dilihat apakah sudah dikenal dan diterima masyarakat. Apakah juga ada klubnya,” jelasnya.

Wagino mencontohkan, saat cabor menembak dengan organisasi bernama Perbakin itu diterima KONI menjadi anggota, pada waktu itu mengelar kejuaraan menembak dan mengeluarkan atlet untuk berkompetisi di luar daerah. Bila ada usulan cabor menjadi anggota KONI, juga dilihat apakah cabor tersebut terdapat induk organisasi secara nasional.

Pria 60 tahun yang mengenyam pengalaman dua kali di periode kepengurusan KONI Jember dan sempat menjabat sebagai penjabat sementara Ketua KONI ini mengakui, terkadang pembentukan cabor untuk masuk menjadi anggota KONI ada unsur kepentingan. Dia membagi dua kepentingan. Pertama, agar mendapatkan dana pembinaan dari dana hibah yang diterima KONI. Berikutnya, untuk menambah jumlah suara dalam pemilihan ketua umum. “Semua cabor itu dapat dana pembinaan. Cabor juga punya suara di muscab KONI,” terang pria yang kini usianya di atas 60 tahun tersebut.

Dia kembali menegaskan, untuk menentukan cabor masuk jadi anggota KONI ataupun ditolak, pembahasannya ada di mekanisme rapat tahunan. “Raker itu apakah dilaksanakan atau tidak? Kalau zaman saya itu tertib melaksanakan,” tutur pria yang memiliki latar belakang keilmuan hukum tersebut.

Mengulik anggaran dasar (AD) KONI pada pasal 34 ayat 5 huruf d, Rakerkab KONI yang digelar sekali dalam setahun itu, ada penjelasan tentang penetapan, penerimaan, atau penolakan terhadap permohonan cabor untuk diterima sebagai anggota atau tidak.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Isu Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jember kian menghangat. Bahkan terbaru, muncul lima cabang olahraga (cabor) baru yang sebelumnya tidak ada. Sejumlah pihak menuding, cabor tersebut sengaja dibentuk untuk kepentingan menolak musorkablub alias cabor ‘siluman’.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, jumlah cabor yang menjadi anggota KONI Jember masing-masing kubu pendukung musorkablub dan KONI memang berbeda. Bila versi musorkablub berjumlah 36 cabor, lain halnya dengan versi KONI, yaitu 40 cabor. Namun kini, belum genap dua pekan, jumlah cabor versi KONI kembali bertambah dengan jumlah total 45 cabor.

Selasa (23/3) lalu, Jawa Pos Radar Jember ke sekretariat KONI. Dua lembar kertas buram menunjukan daftar keseluruhan cabor di bawah naungan KONI Jember. Ketua KONI Jember Abdul Haris Alfianto juga meneliti satu per satu. Dari 42 cabor yang tercatat, ada dua cabor yang tidak ada. Yakni Persatuan Layang Gantung Indonesia (PLGI) karena telah menjadi satu dengan Federasi Aeromodeling Indonesia (FASI), dan kolom nomor 42 kosong. “Berarti, total 40 cabor,” kata Alfin, kala itu.

Namun, Rabu (31/3), Alfin mengatakan ada tambahan cabor saat Jawa Pos Radar Jember meminta tanggapannya tentang kubu musorkablub yang telah mengirimkan surat ke KONI Jatim. Alfin menuturkan, total ada 44 cabor. “Ada 44 cabor di KONI Jember. Ada juga yang SK mati,” terangnya, melalui sambungan telepon.

Alfin menuturkan, bila mengacu 44 cabor, berarti 2/3 dari ketentuan cabor yang mengajukan musorkablub minimal 29 cabor. Menurutnya, cabor yang mengajukan musorkablub itu sah-sah saja, asal memenuhi unsur 2/3 dari keseluruhan cabor. Namun, tak lama kemudian, Alfin mengirimkan data jumlah keseluruhan cabor di Jember dalam bentuk file PDF. “Jumlah cabor di KONI Jember 45, Mas,” ralatnya, lewat pesan WhatsApp.

Data file PDF tersebut juga ada tanda tangan dirinya sebagai Ketua KONI Jember tertanggal 21 Maret 2021. Dari data PDF yang dibandingkan dengan dua lembar kertas buram yang dibeberkan sebelumnya, cabor PLGI ternyata masih dimasukkan. Bahkan, juga ada nama TI dan Taekwondo. TI sebenarnya adalah nama induk organisasi taekwondo yaitu Taekwondo Indonesia (TI). Selain itu, nama Ketua TI di nomor urut 34 dalam daftar cabor tersebut juga sama dengan taekwondo yang tercatat di nomor urut 38. Sama-sama tertulis nama Rahmad.

Daftar 45 cabor versi KONI Jember terbaru ini, urutan lima terakhir adalah Indonesia Woodball Association (IWbA), yaitu cabor golf kayu, bola tangan, Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI), Indonesia Esports Association (IESPA), dan Perkumpulan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pabersi).

Menurut Alfin, cabor yang baru bergabung salah satunya adalah IESPA. Cabor itu dinilainya sudah sah dan masuk jadi keanggotaan KONI Jember. Dia juga menjelaskan, penambahan cabor di KONI itu tidak perlu dibahas dalam rapat kerja tahunan atau disebut rakerkab (rapat kerja kabupaten). Baginya, pendaftaran cabor untuk menjadi anggota KONI bisa setiap saat, terpenting ada SK dari provinsi, bukan kabupaten. Apakah 45 cabor KONI tersebut sah atau tidak? Alfin menyerahkan hal itu ke KONI Jatim untuk verifikasi. “Kami serahkan keabsahannya, legal formalnya ke KONI Jatim,” paparnya.

Sementara itu, Mantan Wakil Ketua KONI Jember periode 2000-2004 dan 2014-2018, Wagino mengatakan, untuk cabor yang bisa masuk menjadi anggota KONI Jember tidak bisa ujug-ujug begitu saja. Namun, harus melalui tahapan. Artinya, KONI sebagai induk cabor harus memberikan penilaian apakah cabor tersebut sesuai syarat atau tidak.

Dalam masa kepengurusannya, ada beberapa ketentuan cabor itu bisa masuk ke KONI. Salah satunya adalah membuat kompetisi secara lokal terlebih dahulu, terdapat atlet, dan pelatih. Selain itu, juga terdapat atletnya yang pernah mengikuti kejuaraan, serta tak kalah pentingnya ada pembinaan. “Juga dilihat apakah sudah dikenal dan diterima masyarakat. Apakah juga ada klubnya,” jelasnya.

Wagino mencontohkan, saat cabor menembak dengan organisasi bernama Perbakin itu diterima KONI menjadi anggota, pada waktu itu mengelar kejuaraan menembak dan mengeluarkan atlet untuk berkompetisi di luar daerah. Bila ada usulan cabor menjadi anggota KONI, juga dilihat apakah cabor tersebut terdapat induk organisasi secara nasional.

Pria 60 tahun yang mengenyam pengalaman dua kali di periode kepengurusan KONI Jember dan sempat menjabat sebagai penjabat sementara Ketua KONI ini mengakui, terkadang pembentukan cabor untuk masuk menjadi anggota KONI ada unsur kepentingan. Dia membagi dua kepentingan. Pertama, agar mendapatkan dana pembinaan dari dana hibah yang diterima KONI. Berikutnya, untuk menambah jumlah suara dalam pemilihan ketua umum. “Semua cabor itu dapat dana pembinaan. Cabor juga punya suara di muscab KONI,” terang pria yang kini usianya di atas 60 tahun tersebut.

Dia kembali menegaskan, untuk menentukan cabor masuk jadi anggota KONI ataupun ditolak, pembahasannya ada di mekanisme rapat tahunan. “Raker itu apakah dilaksanakan atau tidak? Kalau zaman saya itu tertib melaksanakan,” tutur pria yang memiliki latar belakang keilmuan hukum tersebut.

Mengulik anggaran dasar (AD) KONI pada pasal 34 ayat 5 huruf d, Rakerkab KONI yang digelar sekali dalam setahun itu, ada penjelasan tentang penetapan, penerimaan, atau penolakan terhadap permohonan cabor untuk diterima sebagai anggota atau tidak.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/