Bisa Berimbas pada Minat dan Target

Dampak Dualisme Persid

MASIH PUNYA MASALAH INTERNAL: Penggawa Persid (jersey hitam) dalam laga uji coba tahun lalu. Tahun ini, masa depan Persid masih buram dalam konflik internal yayasan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bumbu-bumbu dualisme sudah mulai muncul di permukaan dalam tubuh Persid Jember, sebelum menghadapi kompetisi Liga 3 tahun ini. Dualisme tersebut terjadi di dalam Yayasan Persid Jember (YPJ). Dalam pendaftaran keikutsertaan Persid untuk kompetisi musim ini, sudah ada dua kubu yayasan yang sama-sama mendaftarkan Persid sebagaimana diberitakan sebelumnya. Yakni dari kubu Suparno selaku Pembina YPJ dan Sunardi sebagai pengurus YPJ.

IKLAN

Mereka berdua sama-sama mengklaim pendaftaran Persid ke Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Timur sebagai operator kompetisi Liga 3 Jatim. Konflik dualisme tersebut tentu bakal berdampak pada kelanjutan Persid ke depannya.

Hal itu diungkapkan oleh Achmad Jaenuri, mantan pelatih kepala Persid musim lalu. Menurut Jaenuri, apabila konflik yang terus terjadi berkepanjangan nanti, tentu bakal berdampak pada performa tim itu sendiri. “Pemain yang punya kualitas bagus tidak mungkin mau ke Jember. Karena ada konflik seperti ini. Jika konflik berkepanjangan, tidak akan bisa Persid promosi ke Liga 2,” tuturnya.

Lebih lanjut, Jaenuri menambahkan, sebuah tim yang mencanangkan target tinggi harus memiliki kepengurusan dan manajemen yang sehat. Tanpa merekrut pemain pengalaman dan kualitas jempolan, maka otomatis Persid hanya mampu mengandalkan pemain muda minim jam terbang. “Jangan sampai di Liga 3 hanya ikut berpartisipasi saja,” imbuhnya.

Pria yang juga pernah melatih Jember United ini menambahkan, selama ini Persid hanya berkutat pada konflik internal sendiri. Mulai dari tubuh yayasan hingga finansial yang menjadi masalah klasik Persid di tiap musimnya. Sebab, gaji pemain di era sepak bola industri sekarang ini sangatlah penting.

Jaenuri merasakan betul betapa susahnya memotivasi anak asuhnya saat timnya diterpa masalah krisis finansial. Hal ini dia alami di dua musim kompetisi Liga 3 sekaligus, yakni Liga 3 tahun 2017 dan tahun 2019 lalu. Para pemain kehilangan motivasi bermain, karena terlambat mendapatkan haknya berupa gaji. “Tahun kemarin kalau saya tidak pintar-pintar memotivasi pemain, ya tidak sampai putaran kedua. Kami, pelatih, harus bisa menyatu dengan pemain,” jelasnya.

Dirinya menginginkan konflik internal di tubuh Persid ini segera usai dan menghasilkan kesepakatan damai. Pihak-pihak terkait bisa duduk bersama untuk membahas kelanjutan Persid ke depan. Selain itu, tubuh manajemen dan pengurus yayasan bisa sehat dan tidak terus-terusan berkonflik lagi. “Jadi, nanti pihak ketiga ini harus netral,” kata dia.

Pelatih yang membawa Jember United junior menjadi juara Piala Soeratin tahun 2014 ini menyebut, ada lima elemen penting dalam keberhasilan sebuah klub. Yaitu manajemen, pemain, pelatih, pemerintah daerah, dan suporter. Lima elemen penting itu harus kompak. “Manajemen bisa bergerak ke PSSI, pelatih bersama pemain, pemerintah mengusahakan pendanaan, suporter mendukung di lapangan,” pungkasnya.

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti