alexametrics
30.3 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Bisa Berimbas pada Minat dan Target

Dampak Dualisme Persid

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bumbu-bumbu dualisme sudah mulai muncul di permukaan dalam tubuh Persid Jember, sebelum menghadapi kompetisi Liga 3 tahun ini. Dualisme tersebut terjadi di dalam Yayasan Persid Jember (YPJ). Dalam pendaftaran keikutsertaan Persid untuk kompetisi musim ini, sudah ada dua kubu yayasan yang sama-sama mendaftarkan Persid sebagaimana diberitakan sebelumnya. Yakni dari kubu Suparno selaku Pembina YPJ dan Sunardi sebagai pengurus YPJ.

Mereka berdua sama-sama mengklaim pendaftaran Persid ke Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Timur sebagai operator kompetisi Liga 3 Jatim. Konflik dualisme tersebut tentu bakal berdampak pada kelanjutan Persid ke depannya.

Hal itu diungkapkan oleh Achmad Jaenuri, mantan pelatih kepala Persid musim lalu. Menurut Jaenuri, apabila konflik yang terus terjadi berkepanjangan nanti, tentu bakal berdampak pada performa tim itu sendiri. “Pemain yang punya kualitas bagus tidak mungkin mau ke Jember. Karena ada konflik seperti ini. Jika konflik berkepanjangan, tidak akan bisa Persid promosi ke Liga 2,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lebih lanjut, Jaenuri menambahkan, sebuah tim yang mencanangkan target tinggi harus memiliki kepengurusan dan manajemen yang sehat. Tanpa merekrut pemain pengalaman dan kualitas jempolan, maka otomatis Persid hanya mampu mengandalkan pemain muda minim jam terbang. “Jangan sampai di Liga 3 hanya ikut berpartisipasi saja,” imbuhnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bumbu-bumbu dualisme sudah mulai muncul di permukaan dalam tubuh Persid Jember, sebelum menghadapi kompetisi Liga 3 tahun ini. Dualisme tersebut terjadi di dalam Yayasan Persid Jember (YPJ). Dalam pendaftaran keikutsertaan Persid untuk kompetisi musim ini, sudah ada dua kubu yayasan yang sama-sama mendaftarkan Persid sebagaimana diberitakan sebelumnya. Yakni dari kubu Suparno selaku Pembina YPJ dan Sunardi sebagai pengurus YPJ.

Mereka berdua sama-sama mengklaim pendaftaran Persid ke Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Timur sebagai operator kompetisi Liga 3 Jatim. Konflik dualisme tersebut tentu bakal berdampak pada kelanjutan Persid ke depannya.

Hal itu diungkapkan oleh Achmad Jaenuri, mantan pelatih kepala Persid musim lalu. Menurut Jaenuri, apabila konflik yang terus terjadi berkepanjangan nanti, tentu bakal berdampak pada performa tim itu sendiri. “Pemain yang punya kualitas bagus tidak mungkin mau ke Jember. Karena ada konflik seperti ini. Jika konflik berkepanjangan, tidak akan bisa Persid promosi ke Liga 2,” tuturnya.

Lebih lanjut, Jaenuri menambahkan, sebuah tim yang mencanangkan target tinggi harus memiliki kepengurusan dan manajemen yang sehat. Tanpa merekrut pemain pengalaman dan kualitas jempolan, maka otomatis Persid hanya mampu mengandalkan pemain muda minim jam terbang. “Jangan sampai di Liga 3 hanya ikut berpartisipasi saja,” imbuhnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bumbu-bumbu dualisme sudah mulai muncul di permukaan dalam tubuh Persid Jember, sebelum menghadapi kompetisi Liga 3 tahun ini. Dualisme tersebut terjadi di dalam Yayasan Persid Jember (YPJ). Dalam pendaftaran keikutsertaan Persid untuk kompetisi musim ini, sudah ada dua kubu yayasan yang sama-sama mendaftarkan Persid sebagaimana diberitakan sebelumnya. Yakni dari kubu Suparno selaku Pembina YPJ dan Sunardi sebagai pengurus YPJ.

Mereka berdua sama-sama mengklaim pendaftaran Persid ke Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Timur sebagai operator kompetisi Liga 3 Jatim. Konflik dualisme tersebut tentu bakal berdampak pada kelanjutan Persid ke depannya.

Hal itu diungkapkan oleh Achmad Jaenuri, mantan pelatih kepala Persid musim lalu. Menurut Jaenuri, apabila konflik yang terus terjadi berkepanjangan nanti, tentu bakal berdampak pada performa tim itu sendiri. “Pemain yang punya kualitas bagus tidak mungkin mau ke Jember. Karena ada konflik seperti ini. Jika konflik berkepanjangan, tidak akan bisa Persid promosi ke Liga 2,” tuturnya.

Lebih lanjut, Jaenuri menambahkan, sebuah tim yang mencanangkan target tinggi harus memiliki kepengurusan dan manajemen yang sehat. Tanpa merekrut pemain pengalaman dan kualitas jempolan, maka otomatis Persid hanya mampu mengandalkan pemain muda minim jam terbang. “Jangan sampai di Liga 3 hanya ikut berpartisipasi saja,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/