alexametrics
24.3 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Potret Evolusi Paradigma Moderasi Berfikih

Mobile_AP_Rectangle 1

Saat ini moderasi berfikih menjadi model pengamalan Islam yang  paling diidealkan oleh banyak orang disamping moderasi beraqidah. Moderasi berfikih merupakan bentuk pengamalan hukum Islam setelah dilakukan upaya penyelarasan antara  realitas dengan teks-teks/ nash fikih, harmoni antara konservatisme berfikih dengan liberasi berfikih. Model  ini diyakini  akan melahirkan bentuk pengamalan hukum Islam yang fleksibel,  mudah dan akan melahirkan sikap keterbukaan (inklusifisme) dan toleran tanpa harus kehilangan validitasnya dan legalitasnya dalam ranah nash syar’i .

Walaupun demikian, model pengamalan hukum Islam ini bukan hal yang mudah dilakukan semudah membalikkan telapak tangan karena meniscayakan  adanya perubahan banyak hal,  termasuk, 1)  perubahan pola pikir dan paradigma, 2)  adanya pengetahuan yang memadahi tentang landasan dan metodologi hukum Islam, 3)  pengetahuan tentang cara kontekstualisasi fikih sekaligus tuntutan realitas. Tentu perubahan unsur-unsur ini sangat sulit dilakukan bagi mereka yang pemahaman fikih tekstual-konservatifnya telah mengakar, bahkan tertutup.

Sejumlah pemikiran dan ragam kegiatan moderasi berfikih telah bermunculan. Begitu juga dengan tawaran paradigma antrophosentis untuk mengganti paradigma theosentris. Namun moderasi berfikih belum bisa terimplementasikan secara sempurna, terutama bagi kalangan tekstualis arus bawah. Fenomena  pengamalan fikih secara rigit justru semakin menguat di saat  pandemi Covid-19 berlangsung. Bahkan,  argumentasi teologis juga ramai ikut mem-backup keengganan berfikih secara moderat menghadapi pandemi. Lahirnya fatwa hukum rukshoh untuk salat tarawih dan shalat jama’ah secara berjarak justru mendapat perlawanan walaupun  ada jaminan  tentang kesesuainnya dengan tuntutan nash dan kehendak kehendak Tuhan. Akibatnya, ekslusifitas dan riginitas fiqih selalu tampil bahkan dijadikan sebagai “propaganda” walaupun dalam kondisi yang mengharuskan  terimplentasikannya  fikih moderat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Walaupun fenomena pengamalan  riginitas fikih mengalami penyusutan pada paruh kedua setelah  terkena langsung dampak langsung virus-19, namun  ini tidak dibarengi dengan adanya kesadaran dan apalagi perubahan paradigma berfikih. Mereka  tetap menganggap bahwa pengetahuan dan pengamalan fikih yang  legitimed adalah norma fikih yang temaktub  dalam kitab (law in books) hasil derivasi dari nash. Merekapun  tetap konsis melindungi paradigma fikih konservatif dari kritik dan falsifikasi pasca pandemi- walaupun dalam kenyataanya paradigma konservatisme telah mengalami  problem dan anomali-anomali ketika diperhadapkan dengan Covid-19.

- Advertisement -

Saat ini moderasi berfikih menjadi model pengamalan Islam yang  paling diidealkan oleh banyak orang disamping moderasi beraqidah. Moderasi berfikih merupakan bentuk pengamalan hukum Islam setelah dilakukan upaya penyelarasan antara  realitas dengan teks-teks/ nash fikih, harmoni antara konservatisme berfikih dengan liberasi berfikih. Model  ini diyakini  akan melahirkan bentuk pengamalan hukum Islam yang fleksibel,  mudah dan akan melahirkan sikap keterbukaan (inklusifisme) dan toleran tanpa harus kehilangan validitasnya dan legalitasnya dalam ranah nash syar’i .

Walaupun demikian, model pengamalan hukum Islam ini bukan hal yang mudah dilakukan semudah membalikkan telapak tangan karena meniscayakan  adanya perubahan banyak hal,  termasuk, 1)  perubahan pola pikir dan paradigma, 2)  adanya pengetahuan yang memadahi tentang landasan dan metodologi hukum Islam, 3)  pengetahuan tentang cara kontekstualisasi fikih sekaligus tuntutan realitas. Tentu perubahan unsur-unsur ini sangat sulit dilakukan bagi mereka yang pemahaman fikih tekstual-konservatifnya telah mengakar, bahkan tertutup.

Sejumlah pemikiran dan ragam kegiatan moderasi berfikih telah bermunculan. Begitu juga dengan tawaran paradigma antrophosentis untuk mengganti paradigma theosentris. Namun moderasi berfikih belum bisa terimplementasikan secara sempurna, terutama bagi kalangan tekstualis arus bawah. Fenomena  pengamalan fikih secara rigit justru semakin menguat di saat  pandemi Covid-19 berlangsung. Bahkan,  argumentasi teologis juga ramai ikut mem-backup keengganan berfikih secara moderat menghadapi pandemi. Lahirnya fatwa hukum rukshoh untuk salat tarawih dan shalat jama’ah secara berjarak justru mendapat perlawanan walaupun  ada jaminan  tentang kesesuainnya dengan tuntutan nash dan kehendak kehendak Tuhan. Akibatnya, ekslusifitas dan riginitas fiqih selalu tampil bahkan dijadikan sebagai “propaganda” walaupun dalam kondisi yang mengharuskan  terimplentasikannya  fikih moderat.

Walaupun fenomena pengamalan  riginitas fikih mengalami penyusutan pada paruh kedua setelah  terkena langsung dampak langsung virus-19, namun  ini tidak dibarengi dengan adanya kesadaran dan apalagi perubahan paradigma berfikih. Mereka  tetap menganggap bahwa pengetahuan dan pengamalan fikih yang  legitimed adalah norma fikih yang temaktub  dalam kitab (law in books) hasil derivasi dari nash. Merekapun  tetap konsis melindungi paradigma fikih konservatif dari kritik dan falsifikasi pasca pandemi- walaupun dalam kenyataanya paradigma konservatisme telah mengalami  problem dan anomali-anomali ketika diperhadapkan dengan Covid-19.

Saat ini moderasi berfikih menjadi model pengamalan Islam yang  paling diidealkan oleh banyak orang disamping moderasi beraqidah. Moderasi berfikih merupakan bentuk pengamalan hukum Islam setelah dilakukan upaya penyelarasan antara  realitas dengan teks-teks/ nash fikih, harmoni antara konservatisme berfikih dengan liberasi berfikih. Model  ini diyakini  akan melahirkan bentuk pengamalan hukum Islam yang fleksibel,  mudah dan akan melahirkan sikap keterbukaan (inklusifisme) dan toleran tanpa harus kehilangan validitasnya dan legalitasnya dalam ranah nash syar’i .

Walaupun demikian, model pengamalan hukum Islam ini bukan hal yang mudah dilakukan semudah membalikkan telapak tangan karena meniscayakan  adanya perubahan banyak hal,  termasuk, 1)  perubahan pola pikir dan paradigma, 2)  adanya pengetahuan yang memadahi tentang landasan dan metodologi hukum Islam, 3)  pengetahuan tentang cara kontekstualisasi fikih sekaligus tuntutan realitas. Tentu perubahan unsur-unsur ini sangat sulit dilakukan bagi mereka yang pemahaman fikih tekstual-konservatifnya telah mengakar, bahkan tertutup.

Sejumlah pemikiran dan ragam kegiatan moderasi berfikih telah bermunculan. Begitu juga dengan tawaran paradigma antrophosentis untuk mengganti paradigma theosentris. Namun moderasi berfikih belum bisa terimplementasikan secara sempurna, terutama bagi kalangan tekstualis arus bawah. Fenomena  pengamalan fikih secara rigit justru semakin menguat di saat  pandemi Covid-19 berlangsung. Bahkan,  argumentasi teologis juga ramai ikut mem-backup keengganan berfikih secara moderat menghadapi pandemi. Lahirnya fatwa hukum rukshoh untuk salat tarawih dan shalat jama’ah secara berjarak justru mendapat perlawanan walaupun  ada jaminan  tentang kesesuainnya dengan tuntutan nash dan kehendak kehendak Tuhan. Akibatnya, ekslusifitas dan riginitas fiqih selalu tampil bahkan dijadikan sebagai “propaganda” walaupun dalam kondisi yang mengharuskan  terimplentasikannya  fikih moderat.

Walaupun fenomena pengamalan  riginitas fikih mengalami penyusutan pada paruh kedua setelah  terkena langsung dampak langsung virus-19, namun  ini tidak dibarengi dengan adanya kesadaran dan apalagi perubahan paradigma berfikih. Mereka  tetap menganggap bahwa pengetahuan dan pengamalan fikih yang  legitimed adalah norma fikih yang temaktub  dalam kitab (law in books) hasil derivasi dari nash. Merekapun  tetap konsis melindungi paradigma fikih konservatif dari kritik dan falsifikasi pasca pandemi- walaupun dalam kenyataanya paradigma konservatisme telah mengalami  problem dan anomali-anomali ketika diperhadapkan dengan Covid-19.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/