alexametrics
32 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Bikin Komik Tiga Dimensi, Kampanyekan Kesehatan Gigi dan Mulut

Pentingnya kesehatan gigi dan mulut menjadi perhatian dua santri ini. Bentuk perhatian itu mereka curahkan melalui sebuah komik tiga dimensi. Hasilnya, saat mengikuti lomba karya ilmiah, mereka dinobatkan sebagai juara dua nasional.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masa pandemi tidak menyurutkan semangat siswa SMA Nuris Jember dalam memacu prestasi. Ide dan gagasan mereka seperti terus hidup. Dua siswa ini contohnya, Diza Ulya Nurfaiza dan Aisyah Nur Azizah, yang sama-sama duduk di Kelas XI IPA 2 SMA Nuris Jember.

Dari tangan keduanya, sebuah karya komik edukasi bergambar tiga dimensi berhasil diciptakan. Karya itu sekaligus menobatkan mereka sebagai juara II nasional saat mengikuti ajang Dentist Essay Competition 2021 yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga Surabaya, Februari lalu.

Dalam lomba yang berlangsung secara daring itu, Diza dan Aisyah membuat esai dengan judul Optimalisasi Peran Orang Tua melalui Media Komik Tiga Dimensi Kesehatan Gigi dan Mulut. Menurut mereka, judul itu diambil bukan tanpa alasan, tapi berdasarkan pengamatan mereka selama masa pandemi ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Selama pandemi, program pemerintah tentang kesehatan gigi dan mulut tidak berjalan efektif. Di situlah peran orang tua untuk mendukung gerakan kesehatan gigi dan mulut ini,” jelas Diza saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, kemarin (26/4).

Menurut dia, memang yang menjadi fokus utama atas karyanya itu adalah anak-anak. Sebab, selama ini anak-anak tergolong rentan terkena penyakit gigi. “Ini sekaligus mendukung program pemerintah mewujudkan Indonesia bebas karies pada 2030,” tambah santri asal Genteng, Bayuwangi, itu.

Meski bukan berlatar belakang siswa kesehatan, mereka sepertinya cukup menguasai bagaimana menempatkan sebuah karya edukasi kesehatan, seperti komik itu. Jika Diza sebagai inisiator ide dan gagasan, maka ada Aisyah yang menjadi kreator komik dan esainya. Kata Aisyah, sebuah esai yang terdapat lampiran komik itu jarang ditemukan. Apalagi komik tersebut tiga dimensi. “Sekitar dua mingguan komik ini dibuat,” ungkapnya.

Tak sampai di situ, penentuan ide, alur, sampai ke karakter tokoh, juga mereka tentukan sendiri. Aisyah yang memang dikenal jago menggambar dan kaligrafi, benar-benar menghidupkan komik yang diikutsertakan lomba itu. “Kalau ide atau inspirasinya, kami cari-cari sendiri. Sering-sering baca gitu,” aku santri asal Sumbersari ini.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masa pandemi tidak menyurutkan semangat siswa SMA Nuris Jember dalam memacu prestasi. Ide dan gagasan mereka seperti terus hidup. Dua siswa ini contohnya, Diza Ulya Nurfaiza dan Aisyah Nur Azizah, yang sama-sama duduk di Kelas XI IPA 2 SMA Nuris Jember.

Dari tangan keduanya, sebuah karya komik edukasi bergambar tiga dimensi berhasil diciptakan. Karya itu sekaligus menobatkan mereka sebagai juara II nasional saat mengikuti ajang Dentist Essay Competition 2021 yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga Surabaya, Februari lalu.

Dalam lomba yang berlangsung secara daring itu, Diza dan Aisyah membuat esai dengan judul Optimalisasi Peran Orang Tua melalui Media Komik Tiga Dimensi Kesehatan Gigi dan Mulut. Menurut mereka, judul itu diambil bukan tanpa alasan, tapi berdasarkan pengamatan mereka selama masa pandemi ini.

“Selama pandemi, program pemerintah tentang kesehatan gigi dan mulut tidak berjalan efektif. Di situlah peran orang tua untuk mendukung gerakan kesehatan gigi dan mulut ini,” jelas Diza saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, kemarin (26/4).

Menurut dia, memang yang menjadi fokus utama atas karyanya itu adalah anak-anak. Sebab, selama ini anak-anak tergolong rentan terkena penyakit gigi. “Ini sekaligus mendukung program pemerintah mewujudkan Indonesia bebas karies pada 2030,” tambah santri asal Genteng, Bayuwangi, itu.

Meski bukan berlatar belakang siswa kesehatan, mereka sepertinya cukup menguasai bagaimana menempatkan sebuah karya edukasi kesehatan, seperti komik itu. Jika Diza sebagai inisiator ide dan gagasan, maka ada Aisyah yang menjadi kreator komik dan esainya. Kata Aisyah, sebuah esai yang terdapat lampiran komik itu jarang ditemukan. Apalagi komik tersebut tiga dimensi. “Sekitar dua mingguan komik ini dibuat,” ungkapnya.

Tak sampai di situ, penentuan ide, alur, sampai ke karakter tokoh, juga mereka tentukan sendiri. Aisyah yang memang dikenal jago menggambar dan kaligrafi, benar-benar menghidupkan komik yang diikutsertakan lomba itu. “Kalau ide atau inspirasinya, kami cari-cari sendiri. Sering-sering baca gitu,” aku santri asal Sumbersari ini.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masa pandemi tidak menyurutkan semangat siswa SMA Nuris Jember dalam memacu prestasi. Ide dan gagasan mereka seperti terus hidup. Dua siswa ini contohnya, Diza Ulya Nurfaiza dan Aisyah Nur Azizah, yang sama-sama duduk di Kelas XI IPA 2 SMA Nuris Jember.

Dari tangan keduanya, sebuah karya komik edukasi bergambar tiga dimensi berhasil diciptakan. Karya itu sekaligus menobatkan mereka sebagai juara II nasional saat mengikuti ajang Dentist Essay Competition 2021 yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga Surabaya, Februari lalu.

Dalam lomba yang berlangsung secara daring itu, Diza dan Aisyah membuat esai dengan judul Optimalisasi Peran Orang Tua melalui Media Komik Tiga Dimensi Kesehatan Gigi dan Mulut. Menurut mereka, judul itu diambil bukan tanpa alasan, tapi berdasarkan pengamatan mereka selama masa pandemi ini.

“Selama pandemi, program pemerintah tentang kesehatan gigi dan mulut tidak berjalan efektif. Di situlah peran orang tua untuk mendukung gerakan kesehatan gigi dan mulut ini,” jelas Diza saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, kemarin (26/4).

Menurut dia, memang yang menjadi fokus utama atas karyanya itu adalah anak-anak. Sebab, selama ini anak-anak tergolong rentan terkena penyakit gigi. “Ini sekaligus mendukung program pemerintah mewujudkan Indonesia bebas karies pada 2030,” tambah santri asal Genteng, Bayuwangi, itu.

Meski bukan berlatar belakang siswa kesehatan, mereka sepertinya cukup menguasai bagaimana menempatkan sebuah karya edukasi kesehatan, seperti komik itu. Jika Diza sebagai inisiator ide dan gagasan, maka ada Aisyah yang menjadi kreator komik dan esainya. Kata Aisyah, sebuah esai yang terdapat lampiran komik itu jarang ditemukan. Apalagi komik tersebut tiga dimensi. “Sekitar dua mingguan komik ini dibuat,” ungkapnya.

Tak sampai di situ, penentuan ide, alur, sampai ke karakter tokoh, juga mereka tentukan sendiri. Aisyah yang memang dikenal jago menggambar dan kaligrafi, benar-benar menghidupkan komik yang diikutsertakan lomba itu. “Kalau ide atau inspirasinya, kami cari-cari sendiri. Sering-sering baca gitu,” aku santri asal Sumbersari ini.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/