22.9 C
Jember
Tuesday, 7 February 2023

STDI Imam Syafi’i Jember Kenalkan Kajian Hadis Berbasis Digital

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Seiring dengan perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi, saat ini mulai bermunculan aplikasi hadis yang membantu untuk mencari literasi hadis. Perubahan ini, membutuhkan adaptasi dan pendampingan agar masyarakat dapat merasakan manfaatnya. Mengimplementasikan hal itu, Sekolah Tinggi Dirasah Islamiyah (STDI) Imam Syafi’i Jember, mengadakan seminar nasional dengan tema “Revitalisasi Ilmu Hadis di Era Digital”.

Seminar nasional ilmu hadis ini mengundang beberapa keynote speaker yang ahli di bidangnya. Seperti Prof Dr H M. Anton Athoillah, MM, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dr Dasman Yahya Ma’ali, Lc, MA, dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Ada juga pemateri dari STDI Imam Syafi’i Jember yaitu Dr Emha Hasan Ayatullah, Lc, MA dan Dr Haikal Basyarahil, Lc, MA. Agenda ini dilaksanakan selama dua hari mulai 25 November sampai 26 November 2022. Diikuti oleh 194 peserta yang berasal dari berbagai kota.

BACA JUGA: Afif, Sebulan Hafalkan 2000 Hadis

Mobile_AP_Rectangle 2

Ketua Pelaksana Seminar Nasional Dr Irfan Yuhadi, MSI, mengatakan, kegiatan ini berawal dari keinginan prodi ilmu hadis yang ingin memberikan kontribusi besar dalam peradaban Islam melalui keilmuan hadis. Jika sebelumnya pencarian ilmu hadis dilakukan secara manual dengan melihat kitab, maka dengan perubahan zaman ini STDI Imam Syafi’i ingin mengenalkan kepada masyarakat tentang kajian hadis berbasis digital.

“Kita melihat sekarang bahwa perkembangan zaman kan sudah luar biasa ya. Sudah online. Medsos sudah jadi hal yang biasa. Jadi, harapannya kita ingin bagaimana studi hadis ini membaur, bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman,” ungkapnya.

Era digital tidak menghalangi masyarakat untuk mempelajari ilmu hadis. Menurutnya, diperkirakan lima atau 10 tahun mendatang ilmu hadis dapat dikaji secara online. Sehingga saat disampaikan suatu hadis, maka masyarakat dapat mendeteksi dan memahami jenis hadis tersebut.

“Jadi, ketika disampaikan suatu hadis masyarakat akan bisa mendeteksi. Oh, ini hadisnya dhoif. Oh ini hadis yang maudhu. Ini hadis palsu. Ketika itu tidak dipahami masyarakat dan diyakini, maka akan muncul keyakinan yang kurang tepat, sehingga kita ikut andil dalam mencerdaskan anak bangsa,” terangnya.

Sementara itu, Yusrial Rahman, salah seorang peserta seminar, mengungkapkan, kehadiran seminar nasional ini sangat dibutuhkan sekali. Mengingat era digital akan menjadi tantangan tersendiri dalam mempelajari dan mengajarkan ilmu hadis. Katanya, saat ini banyak hadis palsu yang disebarkan oleh tangan orang yang bukan ahli hadis. Oleh karena itu, menurutnya kehadiran seminar ini dianggap sangat tepat.

“Kehadiran (seminar nasional) ini membuka mata kita semua tentang studi hadis. Bahwasannya inilah tantangan kita ke depan yang harus kita pecahkan permasalahannya. Karena ujungnya sangat kompleks. Kalau kita tidak mengambil bagian dalam digitalisasi, maka kita akan terkalahkan oleh orang yang bukan ahlinya. Ini sangat berpengaruh buruk kepada umat,” pungkasnya. (*)

Editor: Mahrus Sholih

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Seiring dengan perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi, saat ini mulai bermunculan aplikasi hadis yang membantu untuk mencari literasi hadis. Perubahan ini, membutuhkan adaptasi dan pendampingan agar masyarakat dapat merasakan manfaatnya. Mengimplementasikan hal itu, Sekolah Tinggi Dirasah Islamiyah (STDI) Imam Syafi’i Jember, mengadakan seminar nasional dengan tema “Revitalisasi Ilmu Hadis di Era Digital”.

Seminar nasional ilmu hadis ini mengundang beberapa keynote speaker yang ahli di bidangnya. Seperti Prof Dr H M. Anton Athoillah, MM, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dr Dasman Yahya Ma’ali, Lc, MA, dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Ada juga pemateri dari STDI Imam Syafi’i Jember yaitu Dr Emha Hasan Ayatullah, Lc, MA dan Dr Haikal Basyarahil, Lc, MA. Agenda ini dilaksanakan selama dua hari mulai 25 November sampai 26 November 2022. Diikuti oleh 194 peserta yang berasal dari berbagai kota.

BACA JUGA: Afif, Sebulan Hafalkan 2000 Hadis

Ketua Pelaksana Seminar Nasional Dr Irfan Yuhadi, MSI, mengatakan, kegiatan ini berawal dari keinginan prodi ilmu hadis yang ingin memberikan kontribusi besar dalam peradaban Islam melalui keilmuan hadis. Jika sebelumnya pencarian ilmu hadis dilakukan secara manual dengan melihat kitab, maka dengan perubahan zaman ini STDI Imam Syafi’i ingin mengenalkan kepada masyarakat tentang kajian hadis berbasis digital.

“Kita melihat sekarang bahwa perkembangan zaman kan sudah luar biasa ya. Sudah online. Medsos sudah jadi hal yang biasa. Jadi, harapannya kita ingin bagaimana studi hadis ini membaur, bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman,” ungkapnya.

Era digital tidak menghalangi masyarakat untuk mempelajari ilmu hadis. Menurutnya, diperkirakan lima atau 10 tahun mendatang ilmu hadis dapat dikaji secara online. Sehingga saat disampaikan suatu hadis, maka masyarakat dapat mendeteksi dan memahami jenis hadis tersebut.

“Jadi, ketika disampaikan suatu hadis masyarakat akan bisa mendeteksi. Oh, ini hadisnya dhoif. Oh ini hadis yang maudhu. Ini hadis palsu. Ketika itu tidak dipahami masyarakat dan diyakini, maka akan muncul keyakinan yang kurang tepat, sehingga kita ikut andil dalam mencerdaskan anak bangsa,” terangnya.

Sementara itu, Yusrial Rahman, salah seorang peserta seminar, mengungkapkan, kehadiran seminar nasional ini sangat dibutuhkan sekali. Mengingat era digital akan menjadi tantangan tersendiri dalam mempelajari dan mengajarkan ilmu hadis. Katanya, saat ini banyak hadis palsu yang disebarkan oleh tangan orang yang bukan ahli hadis. Oleh karena itu, menurutnya kehadiran seminar ini dianggap sangat tepat.

“Kehadiran (seminar nasional) ini membuka mata kita semua tentang studi hadis. Bahwasannya inilah tantangan kita ke depan yang harus kita pecahkan permasalahannya. Karena ujungnya sangat kompleks. Kalau kita tidak mengambil bagian dalam digitalisasi, maka kita akan terkalahkan oleh orang yang bukan ahlinya. Ini sangat berpengaruh buruk kepada umat,” pungkasnya. (*)

Editor: Mahrus Sholih

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Seiring dengan perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi, saat ini mulai bermunculan aplikasi hadis yang membantu untuk mencari literasi hadis. Perubahan ini, membutuhkan adaptasi dan pendampingan agar masyarakat dapat merasakan manfaatnya. Mengimplementasikan hal itu, Sekolah Tinggi Dirasah Islamiyah (STDI) Imam Syafi’i Jember, mengadakan seminar nasional dengan tema “Revitalisasi Ilmu Hadis di Era Digital”.

Seminar nasional ilmu hadis ini mengundang beberapa keynote speaker yang ahli di bidangnya. Seperti Prof Dr H M. Anton Athoillah, MM, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dr Dasman Yahya Ma’ali, Lc, MA, dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Ada juga pemateri dari STDI Imam Syafi’i Jember yaitu Dr Emha Hasan Ayatullah, Lc, MA dan Dr Haikal Basyarahil, Lc, MA. Agenda ini dilaksanakan selama dua hari mulai 25 November sampai 26 November 2022. Diikuti oleh 194 peserta yang berasal dari berbagai kota.

BACA JUGA: Afif, Sebulan Hafalkan 2000 Hadis

Ketua Pelaksana Seminar Nasional Dr Irfan Yuhadi, MSI, mengatakan, kegiatan ini berawal dari keinginan prodi ilmu hadis yang ingin memberikan kontribusi besar dalam peradaban Islam melalui keilmuan hadis. Jika sebelumnya pencarian ilmu hadis dilakukan secara manual dengan melihat kitab, maka dengan perubahan zaman ini STDI Imam Syafi’i ingin mengenalkan kepada masyarakat tentang kajian hadis berbasis digital.

“Kita melihat sekarang bahwa perkembangan zaman kan sudah luar biasa ya. Sudah online. Medsos sudah jadi hal yang biasa. Jadi, harapannya kita ingin bagaimana studi hadis ini membaur, bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman,” ungkapnya.

Era digital tidak menghalangi masyarakat untuk mempelajari ilmu hadis. Menurutnya, diperkirakan lima atau 10 tahun mendatang ilmu hadis dapat dikaji secara online. Sehingga saat disampaikan suatu hadis, maka masyarakat dapat mendeteksi dan memahami jenis hadis tersebut.

“Jadi, ketika disampaikan suatu hadis masyarakat akan bisa mendeteksi. Oh, ini hadisnya dhoif. Oh ini hadis yang maudhu. Ini hadis palsu. Ketika itu tidak dipahami masyarakat dan diyakini, maka akan muncul keyakinan yang kurang tepat, sehingga kita ikut andil dalam mencerdaskan anak bangsa,” terangnya.

Sementara itu, Yusrial Rahman, salah seorang peserta seminar, mengungkapkan, kehadiran seminar nasional ini sangat dibutuhkan sekali. Mengingat era digital akan menjadi tantangan tersendiri dalam mempelajari dan mengajarkan ilmu hadis. Katanya, saat ini banyak hadis palsu yang disebarkan oleh tangan orang yang bukan ahli hadis. Oleh karena itu, menurutnya kehadiran seminar ini dianggap sangat tepat.

“Kehadiran (seminar nasional) ini membuka mata kita semua tentang studi hadis. Bahwasannya inilah tantangan kita ke depan yang harus kita pecahkan permasalahannya. Karena ujungnya sangat kompleks. Kalau kita tidak mengambil bagian dalam digitalisasi, maka kita akan terkalahkan oleh orang yang bukan ahlinya. Ini sangat berpengaruh buruk kepada umat,” pungkasnya. (*)

Editor: Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca