alexametrics
24.4 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Cara SMKN 6 Jember Ubah Limbah Plastik Jadi Paving

Bawa Sampah dari Rumah, Siswa Dapat Hadiah . Limbah plastik menjadi persoalan serius bagi lingkungan. Sebab, butuh ratusan tahun agar plastik itu bisa terurai. Mendaur ulang sampah plastik menjadi barang berguna seperti paving, setidaknya mampu mengurangi dampak plastik terhadap lingkungan. Inilah yang dilakukan oleh SMK Negeri 6 Jember.

Mobile_AP_Rectangle 1

TANGGUL KULON, RADARJEMBER.ID – PAGI itu, di ujung sekolah, tepatnya di tempat pembuangan sampah plastik SMKN 6 Jember, tampak ada beberapa orang yang sibuk dengan plastik. Segala jenis sampah berbahan plastik itu dimasukkan dan dimasak dalam drum berwarna hitam dengan campuran oli bekas. Tak berlangsung lama, plastik-plastik itu mulai lembek hingga menjadi bubur. Selanjutnya, bubur plastik tersebut dimasukan ke dalam alat cetak paving segi enam. Setelah dingin, barulah paving dari sampah plastik itu terbentuk.

Kepala SMKN 6 Jember Dra Priwahyu Hartanti MPd mengatakan, pembuatan paving dari limbah plastik adalah salah satu kegiatan SMKN 6 Jember dan wujud peduli terhadap lingkungan. Kegiatan daur ulang limbah plastik menjadi paving tersebut juga untuk membiasakan semua guru, pegawai, dan siswa dalam memilah dan membuang sampah, khususnya plastik. “Jadi, dampaknya tidak hanya diterapkan di sekolah saja pemilahan sampah plastik tersebut. Tapi juga diterapkan di rumah. Jadi, anak-anak juga banyak yang bawa sampah plastik ke sekolah,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kegiatan daur ulang limbah plastik tersebut, tambah Priwahyu, sempat tersendat karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). “Mestinya Juli kemarin bisa kembali produksi lagi. Tapi, kembali tersendat,” terangnya.

Bahan baku plastik tersebut dari sampah di sekolah, sampah plastik dari guru dan karyawan, serta peserta didik. Ke depannya sampah plastik dari masyarakat sekitar sekolah bisa dikirim ke SMKN 6 Jember. “Waktu PPKM kemarin, siswa yang rumahnya dekat sekolah kadang ke sekolah untuk menyerahkan sampah plastiknya untuk jadi bahan daur ulang,” ungkapnya.

Dia mengaku, untuk membiasakan lingkungan sekolah membuang sampah plastik khusus ke tempat sampah plastik juga perlu tekad, konsistensi, dan kebersamaan. Artinya, wawasan tentang peduli lingkungan, termasuk bahaya plastik terhadap bumi, juga terus digaungkan. Sehingga, secara bersama-sama mengawasi dan menjadi pelaku langsung membuang sampah plastik pada tempatnya.

Agar lebih masif dan menjadi kebiasaan, baik di sekolah maupun di rumah masing-masing, maka ke depannya sekolah vokasi negeri yang berada di Desa Tanggul Kulon, Kecamatan Tanggul, tersebut memberikan hadiah bagi siswa yang membawa sampah plastik dari rumah ke sekolah. “Hadiahnya, ya, sederhana. Ditukar ke koperasi sekolah. Bisa penghapus, pulpen, buku tulis, dan lainnya,” terangnya.

- Advertisement -

TANGGUL KULON, RADARJEMBER.ID – PAGI itu, di ujung sekolah, tepatnya di tempat pembuangan sampah plastik SMKN 6 Jember, tampak ada beberapa orang yang sibuk dengan plastik. Segala jenis sampah berbahan plastik itu dimasukkan dan dimasak dalam drum berwarna hitam dengan campuran oli bekas. Tak berlangsung lama, plastik-plastik itu mulai lembek hingga menjadi bubur. Selanjutnya, bubur plastik tersebut dimasukan ke dalam alat cetak paving segi enam. Setelah dingin, barulah paving dari sampah plastik itu terbentuk.

Kepala SMKN 6 Jember Dra Priwahyu Hartanti MPd mengatakan, pembuatan paving dari limbah plastik adalah salah satu kegiatan SMKN 6 Jember dan wujud peduli terhadap lingkungan. Kegiatan daur ulang limbah plastik menjadi paving tersebut juga untuk membiasakan semua guru, pegawai, dan siswa dalam memilah dan membuang sampah, khususnya plastik. “Jadi, dampaknya tidak hanya diterapkan di sekolah saja pemilahan sampah plastik tersebut. Tapi juga diterapkan di rumah. Jadi, anak-anak juga banyak yang bawa sampah plastik ke sekolah,” tuturnya.

Kegiatan daur ulang limbah plastik tersebut, tambah Priwahyu, sempat tersendat karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). “Mestinya Juli kemarin bisa kembali produksi lagi. Tapi, kembali tersendat,” terangnya.

Bahan baku plastik tersebut dari sampah di sekolah, sampah plastik dari guru dan karyawan, serta peserta didik. Ke depannya sampah plastik dari masyarakat sekitar sekolah bisa dikirim ke SMKN 6 Jember. “Waktu PPKM kemarin, siswa yang rumahnya dekat sekolah kadang ke sekolah untuk menyerahkan sampah plastiknya untuk jadi bahan daur ulang,” ungkapnya.

Dia mengaku, untuk membiasakan lingkungan sekolah membuang sampah plastik khusus ke tempat sampah plastik juga perlu tekad, konsistensi, dan kebersamaan. Artinya, wawasan tentang peduli lingkungan, termasuk bahaya plastik terhadap bumi, juga terus digaungkan. Sehingga, secara bersama-sama mengawasi dan menjadi pelaku langsung membuang sampah plastik pada tempatnya.

Agar lebih masif dan menjadi kebiasaan, baik di sekolah maupun di rumah masing-masing, maka ke depannya sekolah vokasi negeri yang berada di Desa Tanggul Kulon, Kecamatan Tanggul, tersebut memberikan hadiah bagi siswa yang membawa sampah plastik dari rumah ke sekolah. “Hadiahnya, ya, sederhana. Ditukar ke koperasi sekolah. Bisa penghapus, pulpen, buku tulis, dan lainnya,” terangnya.

TANGGUL KULON, RADARJEMBER.ID – PAGI itu, di ujung sekolah, tepatnya di tempat pembuangan sampah plastik SMKN 6 Jember, tampak ada beberapa orang yang sibuk dengan plastik. Segala jenis sampah berbahan plastik itu dimasukkan dan dimasak dalam drum berwarna hitam dengan campuran oli bekas. Tak berlangsung lama, plastik-plastik itu mulai lembek hingga menjadi bubur. Selanjutnya, bubur plastik tersebut dimasukan ke dalam alat cetak paving segi enam. Setelah dingin, barulah paving dari sampah plastik itu terbentuk.

Kepala SMKN 6 Jember Dra Priwahyu Hartanti MPd mengatakan, pembuatan paving dari limbah plastik adalah salah satu kegiatan SMKN 6 Jember dan wujud peduli terhadap lingkungan. Kegiatan daur ulang limbah plastik menjadi paving tersebut juga untuk membiasakan semua guru, pegawai, dan siswa dalam memilah dan membuang sampah, khususnya plastik. “Jadi, dampaknya tidak hanya diterapkan di sekolah saja pemilahan sampah plastik tersebut. Tapi juga diterapkan di rumah. Jadi, anak-anak juga banyak yang bawa sampah plastik ke sekolah,” tuturnya.

Kegiatan daur ulang limbah plastik tersebut, tambah Priwahyu, sempat tersendat karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). “Mestinya Juli kemarin bisa kembali produksi lagi. Tapi, kembali tersendat,” terangnya.

Bahan baku plastik tersebut dari sampah di sekolah, sampah plastik dari guru dan karyawan, serta peserta didik. Ke depannya sampah plastik dari masyarakat sekitar sekolah bisa dikirim ke SMKN 6 Jember. “Waktu PPKM kemarin, siswa yang rumahnya dekat sekolah kadang ke sekolah untuk menyerahkan sampah plastiknya untuk jadi bahan daur ulang,” ungkapnya.

Dia mengaku, untuk membiasakan lingkungan sekolah membuang sampah plastik khusus ke tempat sampah plastik juga perlu tekad, konsistensi, dan kebersamaan. Artinya, wawasan tentang peduli lingkungan, termasuk bahaya plastik terhadap bumi, juga terus digaungkan. Sehingga, secara bersama-sama mengawasi dan menjadi pelaku langsung membuang sampah plastik pada tempatnya.

Agar lebih masif dan menjadi kebiasaan, baik di sekolah maupun di rumah masing-masing, maka ke depannya sekolah vokasi negeri yang berada di Desa Tanggul Kulon, Kecamatan Tanggul, tersebut memberikan hadiah bagi siswa yang membawa sampah plastik dari rumah ke sekolah. “Hadiahnya, ya, sederhana. Ditukar ke koperasi sekolah. Bisa penghapus, pulpen, buku tulis, dan lainnya,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/