alexametrics
26.6 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Waspada Demam Berdarah Dengue

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, Radar Jember  – Demam berdarah dengue (DBD) kembali mengintai saat musim pancaroba. Penyakit yang kini disebut WHO sebagai dengue menambah jumlah angka kematian anak Indonesia tiap tahunnya.

dr Tontowi Jauhari, Kepala Instalasi Rawat Inap RS Bina Sehat Jember, menjelaskan, DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh salah satu dari empat virus dengue. Cara penularan demam berdarah adalah melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk tersebut dapat menggigit dalam kurun waktu pagi hingga sore hari menjelang petang.

“Mengetahui tentang penyakit DBD ini sangatlah penting. Sebab, akibat yang ditimbulkan penyakit ini sangat bervariasi, dari yang paling ringan hingga berat jika terlambat ditangani dengan baik. Apalagi akhir-akhir ini di rumah sakit angka kasus demam berdarah mulai muncul, dan menyerang masyarakat dari anak-anak hingga dewasa,” terangnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dijelaskan, gejala demam berdarah dengue antara lain demam yang terjadi secara tiba-tiba, sakit kepala yang biasanya di belakang mata, muncul ruam pada badan, adanya nyeri otot dan nyeri sendi yang diikuti tubuh yang menggigil bahkan berkeringat dingin. Karena menimbulkan gejala nyeri juga pada sendi, maka penyakit ini kadang juga dijuluki sebagai “demam sendi”.

“Demam berdarah dengue terjadi dalam tiga tahap, yakni fase demam, fase kritis, dan pemulihan. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa dalam penyakit demam berdarah ini terdapat fase kritis yang berlangsung hingga 2 hari, yang justru timbul saat demam sudah reda dan muncul pada hari ke-3 hingga ke-7 dari demam,” jelasnya.

Tontowi melanjutkan, fase kritis ini awal mulanya ditandai dengan kondisi yang disebut sebagai “warning sign” atau tanda dan gejala yang muncul pada penderita. Jika tanda tersebut muncul, maka menandakan bahwa penyakit memasuki fase kritis.

Warning sign ini antara lain adalah nyeri perut, muntah-muntah, perdarahan mukosa misalnya pada mulut atau hidung, serta pembesaran liver/hati. Oleh karena itu, kita diharap tetap waspada jika keluarga kita ada yang mengalami gejala sakit panas atau demam. Terutama jika demam tidak berkurang setelah 2 hari,” lanjutnya.

- Advertisement -

JEMBER, Radar Jember  – Demam berdarah dengue (DBD) kembali mengintai saat musim pancaroba. Penyakit yang kini disebut WHO sebagai dengue menambah jumlah angka kematian anak Indonesia tiap tahunnya.

dr Tontowi Jauhari, Kepala Instalasi Rawat Inap RS Bina Sehat Jember, menjelaskan, DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh salah satu dari empat virus dengue. Cara penularan demam berdarah adalah melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk tersebut dapat menggigit dalam kurun waktu pagi hingga sore hari menjelang petang.

“Mengetahui tentang penyakit DBD ini sangatlah penting. Sebab, akibat yang ditimbulkan penyakit ini sangat bervariasi, dari yang paling ringan hingga berat jika terlambat ditangani dengan baik. Apalagi akhir-akhir ini di rumah sakit angka kasus demam berdarah mulai muncul, dan menyerang masyarakat dari anak-anak hingga dewasa,” terangnya.

Dijelaskan, gejala demam berdarah dengue antara lain demam yang terjadi secara tiba-tiba, sakit kepala yang biasanya di belakang mata, muncul ruam pada badan, adanya nyeri otot dan nyeri sendi yang diikuti tubuh yang menggigil bahkan berkeringat dingin. Karena menimbulkan gejala nyeri juga pada sendi, maka penyakit ini kadang juga dijuluki sebagai “demam sendi”.

“Demam berdarah dengue terjadi dalam tiga tahap, yakni fase demam, fase kritis, dan pemulihan. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa dalam penyakit demam berdarah ini terdapat fase kritis yang berlangsung hingga 2 hari, yang justru timbul saat demam sudah reda dan muncul pada hari ke-3 hingga ke-7 dari demam,” jelasnya.

Tontowi melanjutkan, fase kritis ini awal mulanya ditandai dengan kondisi yang disebut sebagai “warning sign” atau tanda dan gejala yang muncul pada penderita. Jika tanda tersebut muncul, maka menandakan bahwa penyakit memasuki fase kritis.

Warning sign ini antara lain adalah nyeri perut, muntah-muntah, perdarahan mukosa misalnya pada mulut atau hidung, serta pembesaran liver/hati. Oleh karena itu, kita diharap tetap waspada jika keluarga kita ada yang mengalami gejala sakit panas atau demam. Terutama jika demam tidak berkurang setelah 2 hari,” lanjutnya.

JEMBER, Radar Jember  – Demam berdarah dengue (DBD) kembali mengintai saat musim pancaroba. Penyakit yang kini disebut WHO sebagai dengue menambah jumlah angka kematian anak Indonesia tiap tahunnya.

dr Tontowi Jauhari, Kepala Instalasi Rawat Inap RS Bina Sehat Jember, menjelaskan, DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh salah satu dari empat virus dengue. Cara penularan demam berdarah adalah melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk tersebut dapat menggigit dalam kurun waktu pagi hingga sore hari menjelang petang.

“Mengetahui tentang penyakit DBD ini sangatlah penting. Sebab, akibat yang ditimbulkan penyakit ini sangat bervariasi, dari yang paling ringan hingga berat jika terlambat ditangani dengan baik. Apalagi akhir-akhir ini di rumah sakit angka kasus demam berdarah mulai muncul, dan menyerang masyarakat dari anak-anak hingga dewasa,” terangnya.

Dijelaskan, gejala demam berdarah dengue antara lain demam yang terjadi secara tiba-tiba, sakit kepala yang biasanya di belakang mata, muncul ruam pada badan, adanya nyeri otot dan nyeri sendi yang diikuti tubuh yang menggigil bahkan berkeringat dingin. Karena menimbulkan gejala nyeri juga pada sendi, maka penyakit ini kadang juga dijuluki sebagai “demam sendi”.

“Demam berdarah dengue terjadi dalam tiga tahap, yakni fase demam, fase kritis, dan pemulihan. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa dalam penyakit demam berdarah ini terdapat fase kritis yang berlangsung hingga 2 hari, yang justru timbul saat demam sudah reda dan muncul pada hari ke-3 hingga ke-7 dari demam,” jelasnya.

Tontowi melanjutkan, fase kritis ini awal mulanya ditandai dengan kondisi yang disebut sebagai “warning sign” atau tanda dan gejala yang muncul pada penderita. Jika tanda tersebut muncul, maka menandakan bahwa penyakit memasuki fase kritis.

Warning sign ini antara lain adalah nyeri perut, muntah-muntah, perdarahan mukosa misalnya pada mulut atau hidung, serta pembesaran liver/hati. Oleh karena itu, kita diharap tetap waspada jika keluarga kita ada yang mengalami gejala sakit panas atau demam. Terutama jika demam tidak berkurang setelah 2 hari,” lanjutnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/