alexametrics
24.1 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Sulap Limbah Tembakau dan Nanas Jadi Energi Terbarukan

Menuntut ilmu dan peka terhadap kondisi sosial, inilah yang ditunjukkan para santri Pondok Pesantren Nuris Jember. Mereka tak hanya pandai mengaji, namun juga menjawab fenomena sosial melalui karyanya. Salah satunya membuat penelitian tentang konsep energi terbarukan, hingga mendapatkan gelar juara satu tingkat nasional.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siswa SMA Nuris kembali unjuk kemampuan di kompetisi lomba karya tulis ilmiah (LKTI) level nasional, Oktober lalu. Dengan mengusung tema energi terbarukan, mereka membuat penelitian dari limbah batang tembakau dan daun nanas untuk dijadikan bioetanol. Hasilnya, karya mereka dinobatkan sebagai juara satu tingkat nasional.

Ketiga siswa berprestasi itu masing-masing Tegar Ramadani dari kelas XII IPA 1, Shahrotul Rohmaniah dari kelas XI IPA 2, dan Dina Faizatus Sholehah dari kelas XI IPA 2. Ketiganya membuat penelitian dengan tajuk Nicotianatobacum Ananas Comocus of Bioetanol (Ninasbio).

Tegar, yang menjadi ketua tim LKTI SMA Nuris saat lomba itu, mengatakan, perlombaan memang mengusung tema besar tentang teknik inovasi lingkungan. Sebagai awal, dia bersama tim melakukan studi lingkungan dengan menggunakan konsep pendekatan wilayah. “Daerah Tapal Kuda ini, utamanya Jember, memiliki potensi tembakau yang banyak. Kami analisis dari sana. Dari potensi itu pasti ada yang bisa dimanfaatkan selain daunnya,” kata Tegar.

Mobile_AP_Rectangle 2

Setelah memantapkan memilih tembakau itu, mereka pun memulai penelitian di laboratorium. Proses pembuatan bioetanol itu sebenarnya cukup sederhana. Awalnya, batang tembakau dikeringkan. Setelah itu dihaluskan seperti bubuk dengan campuran daun nanas.

Setelah dicampurkan, bubuk sari batang tembakau dan daun nanas itu difermentasi selama satu pekan dengan sedikit campuran asam klorida. “Dari 100 gram campuran itu menghasilkan 25-28 mililiter etanol,” jelasnya.

Menurut Tegar, meskipun prosesnya cukup sederhana, namun ada kerumitan. “Yang sulit memisahkan kadar air saja, karena itu butuh ketelatenan,” imbuhnya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, kemarin (25/2).

Dipilihnya tembakau sebagai bahan baku utama bukan tanpa alasan. Sebab, meskipun tembakau tidak bisa tumbuh setiap musim, namun jumlahnya di Jember sangat melimpah saat panen. “Misal ada kerja sama antara pabrik dan petani tembakau, ini bisa dikembangkan ke skala besar. Sekaligus menjadi alternatif sumber energi terbarukan era kini,” katanya optimistis.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siswa SMA Nuris kembali unjuk kemampuan di kompetisi lomba karya tulis ilmiah (LKTI) level nasional, Oktober lalu. Dengan mengusung tema energi terbarukan, mereka membuat penelitian dari limbah batang tembakau dan daun nanas untuk dijadikan bioetanol. Hasilnya, karya mereka dinobatkan sebagai juara satu tingkat nasional.

Ketiga siswa berprestasi itu masing-masing Tegar Ramadani dari kelas XII IPA 1, Shahrotul Rohmaniah dari kelas XI IPA 2, dan Dina Faizatus Sholehah dari kelas XI IPA 2. Ketiganya membuat penelitian dengan tajuk Nicotianatobacum Ananas Comocus of Bioetanol (Ninasbio).

Tegar, yang menjadi ketua tim LKTI SMA Nuris saat lomba itu, mengatakan, perlombaan memang mengusung tema besar tentang teknik inovasi lingkungan. Sebagai awal, dia bersama tim melakukan studi lingkungan dengan menggunakan konsep pendekatan wilayah. “Daerah Tapal Kuda ini, utamanya Jember, memiliki potensi tembakau yang banyak. Kami analisis dari sana. Dari potensi itu pasti ada yang bisa dimanfaatkan selain daunnya,” kata Tegar.

Setelah memantapkan memilih tembakau itu, mereka pun memulai penelitian di laboratorium. Proses pembuatan bioetanol itu sebenarnya cukup sederhana. Awalnya, batang tembakau dikeringkan. Setelah itu dihaluskan seperti bubuk dengan campuran daun nanas.

Setelah dicampurkan, bubuk sari batang tembakau dan daun nanas itu difermentasi selama satu pekan dengan sedikit campuran asam klorida. “Dari 100 gram campuran itu menghasilkan 25-28 mililiter etanol,” jelasnya.

Menurut Tegar, meskipun prosesnya cukup sederhana, namun ada kerumitan. “Yang sulit memisahkan kadar air saja, karena itu butuh ketelatenan,” imbuhnya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, kemarin (25/2).

Dipilihnya tembakau sebagai bahan baku utama bukan tanpa alasan. Sebab, meskipun tembakau tidak bisa tumbuh setiap musim, namun jumlahnya di Jember sangat melimpah saat panen. “Misal ada kerja sama antara pabrik dan petani tembakau, ini bisa dikembangkan ke skala besar. Sekaligus menjadi alternatif sumber energi terbarukan era kini,” katanya optimistis.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siswa SMA Nuris kembali unjuk kemampuan di kompetisi lomba karya tulis ilmiah (LKTI) level nasional, Oktober lalu. Dengan mengusung tema energi terbarukan, mereka membuat penelitian dari limbah batang tembakau dan daun nanas untuk dijadikan bioetanol. Hasilnya, karya mereka dinobatkan sebagai juara satu tingkat nasional.

Ketiga siswa berprestasi itu masing-masing Tegar Ramadani dari kelas XII IPA 1, Shahrotul Rohmaniah dari kelas XI IPA 2, dan Dina Faizatus Sholehah dari kelas XI IPA 2. Ketiganya membuat penelitian dengan tajuk Nicotianatobacum Ananas Comocus of Bioetanol (Ninasbio).

Tegar, yang menjadi ketua tim LKTI SMA Nuris saat lomba itu, mengatakan, perlombaan memang mengusung tema besar tentang teknik inovasi lingkungan. Sebagai awal, dia bersama tim melakukan studi lingkungan dengan menggunakan konsep pendekatan wilayah. “Daerah Tapal Kuda ini, utamanya Jember, memiliki potensi tembakau yang banyak. Kami analisis dari sana. Dari potensi itu pasti ada yang bisa dimanfaatkan selain daunnya,” kata Tegar.

Setelah memantapkan memilih tembakau itu, mereka pun memulai penelitian di laboratorium. Proses pembuatan bioetanol itu sebenarnya cukup sederhana. Awalnya, batang tembakau dikeringkan. Setelah itu dihaluskan seperti bubuk dengan campuran daun nanas.

Setelah dicampurkan, bubuk sari batang tembakau dan daun nanas itu difermentasi selama satu pekan dengan sedikit campuran asam klorida. “Dari 100 gram campuran itu menghasilkan 25-28 mililiter etanol,” jelasnya.

Menurut Tegar, meskipun prosesnya cukup sederhana, namun ada kerumitan. “Yang sulit memisahkan kadar air saja, karena itu butuh ketelatenan,” imbuhnya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, kemarin (25/2).

Dipilihnya tembakau sebagai bahan baku utama bukan tanpa alasan. Sebab, meskipun tembakau tidak bisa tumbuh setiap musim, namun jumlahnya di Jember sangat melimpah saat panen. “Misal ada kerja sama antara pabrik dan petani tembakau, ini bisa dikembangkan ke skala besar. Sekaligus menjadi alternatif sumber energi terbarukan era kini,” katanya optimistis.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/