alexametrics
22.3 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Dikenal Sering Tirakat, dari Puasa sampai Jualan Rujak

Kisah Pasutri yang Sukses Antarkan Putranya Jadi Doktor Kata orang, kesuksesan hari ini erat kaitannya dengan perjalanan hidupnya di masa lalu. Hal itu sepertinya dialami pasutri asal Bondowoso ini. Berkat restu dan didikannya, mereka sukses mengantarkan putra tunggalnya meraih gelar doktor. Bahkan dengan predikat cum laude.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu cuaca terlihat cerah. Beberapa kandang ayam terlihat berbaris rapi di depan sebuah rumah kecil yang sangat sederhana di Desa Padasan, Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso. Tak lama kemudian, terlihat seorang bapak bersama istrinya. Ia adalah Muarif dan Beng, pasangan suami istri (pasutri) yang tinggal di rumah tersebut.

Biasanya mereka tiap hari ke sawah. Namun saat itu, keduanya seperti memutuskan libur sementara. Dengan berpakaian lumayan rapi, keduanya berencana melihat tayangan live streaming dari ponsel salah satu rekan putranya. “Iya, katanya Dasuki mau tes. Di Jember,” ujar Muarif, yang sangat antusias menantikan momen berharga anaknya itu.

Senin kemarin, anak tunggal Muarif dan Beng memang dijadwalkan mengikuti ujian promosi program doktor di Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Karena pandemi, keduanya tidak ikut ke lokasi ujian, namun menyimak proses sidang putranya itu melalui ponsel pintar. Selama menonton proses sidang secara virtual, pasutri ini merasa bangga bercampur haru. Sesekali, juga terlihat percaya tidak percaya bahwa anak semata wayangnya telah berhasil merampungkan masa studinya. Program doktor pula.

Mobile_AP_Rectangle 2

Padahal, jika diamati dari kondisi setiap harinya, pasutri ini hidup dengan perekonomian yang pas-pasan. Di rumahnya saja, tidak ada barang berharga. Yang lengkap hanya peralatan untuk ke sawah. Tak heran, saat melihat anaknya sudah sampai puncak studi doktor, perasaan haru campur bahagia benar-benar terlukis di raut wajah keduanya. “Padahal masa kecilnya, dia itu selalu bantu jualan rujak,” sahut Beng, ibunda Dasuki.

Ia mengisahkan bagaimana anaknya itu benar-benar merangkak dari bawah hingga sejauh ini. Dulunya, saat Dasuki masih duduk di bangku TK sampai SMP, pasutri ini bekerja sebagai penjual rujak. Saat itu, rumahnya memang dekat dengan sebuah sekolah dasar. Aktivitas jual rujak itu mereka lakukan tiap hari. “Sebelum berangkat sekolah, Dasuki biasa bantu angkut alat-alat ulek dan lainnya. Setelah selesai bantu, dia ke sekolah,” katanya.

Meski usia putranya masih kecil saat itu, tapi pemikirannya seperti telah dewasa. Sebab, tiap berangkat sekolah, ia hanya membawa bekal jajan permen atau manisan. “Dikasih uang jajan, tapi ia tabung. Katanya, biar SPP-nya nanti tidak minta ke saya,” kenang ibu 55 tahun itu.

Karena seringnya membantu ibunya menjual rujak, Dasuki juga sering membawa dagangan rujak itu ke tempatnya sekolah. Ini untuk membantu pemasukan keluarganya. Ia tidak malu. Lebih tepatnya, ia sudah paham bagaimana menempatkan rasa malu itu seharusnya.

Rutinitas membantu jual rujak itu bukan sekali dua kali dilakoni Dasuki. Kata ibunya, sejak dari SD sampai ia berlanjut ke SMP, tetap bantu jualan rujak. “Karena bapaknya itu memang suka tirakat. Bapaknya puasa Senin Kamis. Dasuki juga puasa. Puasa itu mulai akhir SD lanjut ke SMP,” bebernya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu cuaca terlihat cerah. Beberapa kandang ayam terlihat berbaris rapi di depan sebuah rumah kecil yang sangat sederhana di Desa Padasan, Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso. Tak lama kemudian, terlihat seorang bapak bersama istrinya. Ia adalah Muarif dan Beng, pasangan suami istri (pasutri) yang tinggal di rumah tersebut.

Biasanya mereka tiap hari ke sawah. Namun saat itu, keduanya seperti memutuskan libur sementara. Dengan berpakaian lumayan rapi, keduanya berencana melihat tayangan live streaming dari ponsel salah satu rekan putranya. “Iya, katanya Dasuki mau tes. Di Jember,” ujar Muarif, yang sangat antusias menantikan momen berharga anaknya itu.

Senin kemarin, anak tunggal Muarif dan Beng memang dijadwalkan mengikuti ujian promosi program doktor di Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Karena pandemi, keduanya tidak ikut ke lokasi ujian, namun menyimak proses sidang putranya itu melalui ponsel pintar. Selama menonton proses sidang secara virtual, pasutri ini merasa bangga bercampur haru. Sesekali, juga terlihat percaya tidak percaya bahwa anak semata wayangnya telah berhasil merampungkan masa studinya. Program doktor pula.

Padahal, jika diamati dari kondisi setiap harinya, pasutri ini hidup dengan perekonomian yang pas-pasan. Di rumahnya saja, tidak ada barang berharga. Yang lengkap hanya peralatan untuk ke sawah. Tak heran, saat melihat anaknya sudah sampai puncak studi doktor, perasaan haru campur bahagia benar-benar terlukis di raut wajah keduanya. “Padahal masa kecilnya, dia itu selalu bantu jualan rujak,” sahut Beng, ibunda Dasuki.

Ia mengisahkan bagaimana anaknya itu benar-benar merangkak dari bawah hingga sejauh ini. Dulunya, saat Dasuki masih duduk di bangku TK sampai SMP, pasutri ini bekerja sebagai penjual rujak. Saat itu, rumahnya memang dekat dengan sebuah sekolah dasar. Aktivitas jual rujak itu mereka lakukan tiap hari. “Sebelum berangkat sekolah, Dasuki biasa bantu angkut alat-alat ulek dan lainnya. Setelah selesai bantu, dia ke sekolah,” katanya.

Meski usia putranya masih kecil saat itu, tapi pemikirannya seperti telah dewasa. Sebab, tiap berangkat sekolah, ia hanya membawa bekal jajan permen atau manisan. “Dikasih uang jajan, tapi ia tabung. Katanya, biar SPP-nya nanti tidak minta ke saya,” kenang ibu 55 tahun itu.

Karena seringnya membantu ibunya menjual rujak, Dasuki juga sering membawa dagangan rujak itu ke tempatnya sekolah. Ini untuk membantu pemasukan keluarganya. Ia tidak malu. Lebih tepatnya, ia sudah paham bagaimana menempatkan rasa malu itu seharusnya.

Rutinitas membantu jual rujak itu bukan sekali dua kali dilakoni Dasuki. Kata ibunya, sejak dari SD sampai ia berlanjut ke SMP, tetap bantu jualan rujak. “Karena bapaknya itu memang suka tirakat. Bapaknya puasa Senin Kamis. Dasuki juga puasa. Puasa itu mulai akhir SD lanjut ke SMP,” bebernya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu cuaca terlihat cerah. Beberapa kandang ayam terlihat berbaris rapi di depan sebuah rumah kecil yang sangat sederhana di Desa Padasan, Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso. Tak lama kemudian, terlihat seorang bapak bersama istrinya. Ia adalah Muarif dan Beng, pasangan suami istri (pasutri) yang tinggal di rumah tersebut.

Biasanya mereka tiap hari ke sawah. Namun saat itu, keduanya seperti memutuskan libur sementara. Dengan berpakaian lumayan rapi, keduanya berencana melihat tayangan live streaming dari ponsel salah satu rekan putranya. “Iya, katanya Dasuki mau tes. Di Jember,” ujar Muarif, yang sangat antusias menantikan momen berharga anaknya itu.

Senin kemarin, anak tunggal Muarif dan Beng memang dijadwalkan mengikuti ujian promosi program doktor di Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Karena pandemi, keduanya tidak ikut ke lokasi ujian, namun menyimak proses sidang putranya itu melalui ponsel pintar. Selama menonton proses sidang secara virtual, pasutri ini merasa bangga bercampur haru. Sesekali, juga terlihat percaya tidak percaya bahwa anak semata wayangnya telah berhasil merampungkan masa studinya. Program doktor pula.

Padahal, jika diamati dari kondisi setiap harinya, pasutri ini hidup dengan perekonomian yang pas-pasan. Di rumahnya saja, tidak ada barang berharga. Yang lengkap hanya peralatan untuk ke sawah. Tak heran, saat melihat anaknya sudah sampai puncak studi doktor, perasaan haru campur bahagia benar-benar terlukis di raut wajah keduanya. “Padahal masa kecilnya, dia itu selalu bantu jualan rujak,” sahut Beng, ibunda Dasuki.

Ia mengisahkan bagaimana anaknya itu benar-benar merangkak dari bawah hingga sejauh ini. Dulunya, saat Dasuki masih duduk di bangku TK sampai SMP, pasutri ini bekerja sebagai penjual rujak. Saat itu, rumahnya memang dekat dengan sebuah sekolah dasar. Aktivitas jual rujak itu mereka lakukan tiap hari. “Sebelum berangkat sekolah, Dasuki biasa bantu angkut alat-alat ulek dan lainnya. Setelah selesai bantu, dia ke sekolah,” katanya.

Meski usia putranya masih kecil saat itu, tapi pemikirannya seperti telah dewasa. Sebab, tiap berangkat sekolah, ia hanya membawa bekal jajan permen atau manisan. “Dikasih uang jajan, tapi ia tabung. Katanya, biar SPP-nya nanti tidak minta ke saya,” kenang ibu 55 tahun itu.

Karena seringnya membantu ibunya menjual rujak, Dasuki juga sering membawa dagangan rujak itu ke tempatnya sekolah. Ini untuk membantu pemasukan keluarganya. Ia tidak malu. Lebih tepatnya, ia sudah paham bagaimana menempatkan rasa malu itu seharusnya.

Rutinitas membantu jual rujak itu bukan sekali dua kali dilakoni Dasuki. Kata ibunya, sejak dari SD sampai ia berlanjut ke SMP, tetap bantu jualan rujak. “Karena bapaknya itu memang suka tirakat. Bapaknya puasa Senin Kamis. Dasuki juga puasa. Puasa itu mulai akhir SD lanjut ke SMP,” bebernya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/