alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Seni Budaya Using Banyuwangi sebagai Destinasi Wisata Berkelanjutan

Webinar HISKI Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

TEGALBOTO, Radar Jember – Budaya Using dari Banyuwangi selalu mengalami dinamika, terutama keseniannya. Banyuwangi Festival (B-Fest) dari tahun ke tahun juga selalu bertambah jumlah event-nya. Tahun 2022 ini ada 99 event. Namun, hal itu belum cukup. Seni budaya harus menjadi destinasi wisata yang berkelanjutan. Hal ini untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu wisatawan datang ke Banyuwangi, maka harus selalu ada pentas seni dan budaya yang bisa dinikmati.

BACA JUGA : Larang Sekolah Bebani Siswa Saat Ambil Ijazah

Hal itu disampaikan oleh Ir Wowok Meirianto MT, Ketua Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi (KOPAT) Banyuwangi, dalam webinar daring bertajuk NGONTRAS#10 dengan tema dinamika budaya Using. Webinar tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia Komisariat Jember (HISKI Jember) bekerja sama dengan Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB Unej),  Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jember (FKIP UM Jember), serta Kelompok Riset Tradisi Lisan dan Kearifan Lokal (KeRis Terkelok), pada Sabtu kemarin (21/5).

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain Wowok, pembicara lain yang diundang adalah Dosen FISIP Unej, Dr Puji Wahono SE MA dengan moderator Edy Hariyadi SS MSi. Dipandu pewara Zahratul Umniyyah SS MHum. Keduanya anggota HISKI Komisariat Jember sekaligus dosen Sastra Indonesia FIB Unej. Seminar dibuka oleh Dekan FKIP UM Jember Dr Kukuh Munandar MKes. Sementara, anggota KOPAT juga turut mengikuti acara secara langsung (hybrid) di Waroeng Kemarang, Banyuwangi, yaitu destinasi wisata kuliner dengan daya tarik seni budaya.

Wowok dalam presentasinya sebagai pembicara pertama menekankan bahwa event dalam B-Fest sebaiknya fokus pada kegiatan seni dan budaya yang memang layak untuk disebut festival. Banyak event yang sebenarnya tidak perlu masuk festival, misalnya festival toilet bersih, festival kali bersih, festival anak yatim, festival Alquran, dan masih banyak lagi. “Yang masuk festival ya yang benar-benar festival, seperti Gandrung, Seblang, Ider Bumi, Kebo-keboan, dan seni budaya lainnya. Jadi, yang diinginkan oleh para seniman dan budayawan adalah suatu destinasi wisata yang berkelanjutan,” tandas Wowok, Ketua KOPAT yang juga owner Waroeng Kemarang.

Wowok juga menekankan, festival harus berkelanjutan, pentas kesenian juga harus berkelanjutan. Dengan berkelanjutan, maka wisatawan tidak akan kepelis atau kecelek. Sewaktu-waktu wisatawan datang, selalu ada pentas kesenian yang bisa disaksikan. “Jadi, budaya bukan sekadar mengutamakan estetika, tetapi juga dapat dinikmati oleh para wisatawan, sehingga mampu menjadikan multiplier effect bagi ekonomi di Banyuwangi,” tandas Wowok.

- Advertisement -

TEGALBOTO, Radar Jember – Budaya Using dari Banyuwangi selalu mengalami dinamika, terutama keseniannya. Banyuwangi Festival (B-Fest) dari tahun ke tahun juga selalu bertambah jumlah event-nya. Tahun 2022 ini ada 99 event. Namun, hal itu belum cukup. Seni budaya harus menjadi destinasi wisata yang berkelanjutan. Hal ini untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu wisatawan datang ke Banyuwangi, maka harus selalu ada pentas seni dan budaya yang bisa dinikmati.

BACA JUGA : Larang Sekolah Bebani Siswa Saat Ambil Ijazah

Hal itu disampaikan oleh Ir Wowok Meirianto MT, Ketua Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi (KOPAT) Banyuwangi, dalam webinar daring bertajuk NGONTRAS#10 dengan tema dinamika budaya Using. Webinar tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia Komisariat Jember (HISKI Jember) bekerja sama dengan Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB Unej),  Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jember (FKIP UM Jember), serta Kelompok Riset Tradisi Lisan dan Kearifan Lokal (KeRis Terkelok), pada Sabtu kemarin (21/5).

Selain Wowok, pembicara lain yang diundang adalah Dosen FISIP Unej, Dr Puji Wahono SE MA dengan moderator Edy Hariyadi SS MSi. Dipandu pewara Zahratul Umniyyah SS MHum. Keduanya anggota HISKI Komisariat Jember sekaligus dosen Sastra Indonesia FIB Unej. Seminar dibuka oleh Dekan FKIP UM Jember Dr Kukuh Munandar MKes. Sementara, anggota KOPAT juga turut mengikuti acara secara langsung (hybrid) di Waroeng Kemarang, Banyuwangi, yaitu destinasi wisata kuliner dengan daya tarik seni budaya.

Wowok dalam presentasinya sebagai pembicara pertama menekankan bahwa event dalam B-Fest sebaiknya fokus pada kegiatan seni dan budaya yang memang layak untuk disebut festival. Banyak event yang sebenarnya tidak perlu masuk festival, misalnya festival toilet bersih, festival kali bersih, festival anak yatim, festival Alquran, dan masih banyak lagi. “Yang masuk festival ya yang benar-benar festival, seperti Gandrung, Seblang, Ider Bumi, Kebo-keboan, dan seni budaya lainnya. Jadi, yang diinginkan oleh para seniman dan budayawan adalah suatu destinasi wisata yang berkelanjutan,” tandas Wowok, Ketua KOPAT yang juga owner Waroeng Kemarang.

Wowok juga menekankan, festival harus berkelanjutan, pentas kesenian juga harus berkelanjutan. Dengan berkelanjutan, maka wisatawan tidak akan kepelis atau kecelek. Sewaktu-waktu wisatawan datang, selalu ada pentas kesenian yang bisa disaksikan. “Jadi, budaya bukan sekadar mengutamakan estetika, tetapi juga dapat dinikmati oleh para wisatawan, sehingga mampu menjadikan multiplier effect bagi ekonomi di Banyuwangi,” tandas Wowok.

TEGALBOTO, Radar Jember – Budaya Using dari Banyuwangi selalu mengalami dinamika, terutama keseniannya. Banyuwangi Festival (B-Fest) dari tahun ke tahun juga selalu bertambah jumlah event-nya. Tahun 2022 ini ada 99 event. Namun, hal itu belum cukup. Seni budaya harus menjadi destinasi wisata yang berkelanjutan. Hal ini untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu wisatawan datang ke Banyuwangi, maka harus selalu ada pentas seni dan budaya yang bisa dinikmati.

BACA JUGA : Larang Sekolah Bebani Siswa Saat Ambil Ijazah

Hal itu disampaikan oleh Ir Wowok Meirianto MT, Ketua Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi (KOPAT) Banyuwangi, dalam webinar daring bertajuk NGONTRAS#10 dengan tema dinamika budaya Using. Webinar tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia Komisariat Jember (HISKI Jember) bekerja sama dengan Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB Unej),  Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jember (FKIP UM Jember), serta Kelompok Riset Tradisi Lisan dan Kearifan Lokal (KeRis Terkelok), pada Sabtu kemarin (21/5).

Selain Wowok, pembicara lain yang diundang adalah Dosen FISIP Unej, Dr Puji Wahono SE MA dengan moderator Edy Hariyadi SS MSi. Dipandu pewara Zahratul Umniyyah SS MHum. Keduanya anggota HISKI Komisariat Jember sekaligus dosen Sastra Indonesia FIB Unej. Seminar dibuka oleh Dekan FKIP UM Jember Dr Kukuh Munandar MKes. Sementara, anggota KOPAT juga turut mengikuti acara secara langsung (hybrid) di Waroeng Kemarang, Banyuwangi, yaitu destinasi wisata kuliner dengan daya tarik seni budaya.

Wowok dalam presentasinya sebagai pembicara pertama menekankan bahwa event dalam B-Fest sebaiknya fokus pada kegiatan seni dan budaya yang memang layak untuk disebut festival. Banyak event yang sebenarnya tidak perlu masuk festival, misalnya festival toilet bersih, festival kali bersih, festival anak yatim, festival Alquran, dan masih banyak lagi. “Yang masuk festival ya yang benar-benar festival, seperti Gandrung, Seblang, Ider Bumi, Kebo-keboan, dan seni budaya lainnya. Jadi, yang diinginkan oleh para seniman dan budayawan adalah suatu destinasi wisata yang berkelanjutan,” tandas Wowok, Ketua KOPAT yang juga owner Waroeng Kemarang.

Wowok juga menekankan, festival harus berkelanjutan, pentas kesenian juga harus berkelanjutan. Dengan berkelanjutan, maka wisatawan tidak akan kepelis atau kecelek. Sewaktu-waktu wisatawan datang, selalu ada pentas kesenian yang bisa disaksikan. “Jadi, budaya bukan sekadar mengutamakan estetika, tetapi juga dapat dinikmati oleh para wisatawan, sehingga mampu menjadikan multiplier effect bagi ekonomi di Banyuwangi,” tandas Wowok.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/