alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Bikin Alat Tetas Otomatis untuk Peternak Itik

Itik, atau yang lebih familiar dengan sebutan bebek, menjadi unggas yang kerap dikonsumsi masyarakat selain ayam. Lewat teknologi, perkembangan itik bisa lebih ditingkatkan. Seperti hasil karya dosen peternakan Politeknik Negeri Jember (Polije) yang membuat alat tetas otomatis untuk peternak di Kecamatan Gumukmas.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Alat tetas telur itik itu berwarna perak, mirip dengan alat oven roti. Berukuran 240×260 sentimeter dan tinggi 240 sentimeter. Terdapat dua pintu di sana. Dari balik pintu pertama terlihat tumpukan telur, yang setiap dua jam sekali secara otomatis bisa dibalik. Di dalam juga terdapat dua kipas angin blower.

Sementara itu, di pintu kedua sepintas tampak sama, terdapat telur itik. Bedanya, telur itik di pintu kedua sudah siap menetas. “Kalau pintu yang pertama itu untuk yang baru. Kemudian dua sampai tiga hari sebelum menetas, telur tersebut dipindah ke pintu kedua,” kata Hariadi Subagja, dosen Jurusan Peternakan Polije.

Sederhananya, mesin tetas otomatis tersebut memiliki konsep yang sama dengan alat tetas manual yang selama ini dimiliki peternak tradisional pada umumnya. Perbedaannya, kata dia, alat manual memutar telur itik dilakukan oleh tenaga manusia yang pengalaman. Sedangkan jika pakai alat, memutar telur bisa secara otomatis.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain itu, kata dia, juga terdapat indikator suhu dan kelembaban udara yang tetap dibutuhkan untuk memaksimalkan penetasan telur itik. Dengan demikian, tingkat keberhasilannya jauh lebih tinggi hingga 80 persen dibanding mesin manual yang hanya 60 persen. “Penetasan itik atau telur bebek itu butuh 37 derajat dengan kelembapan 60 persen dan waktunya 28 hari,” jelasnya.

Kipas angin blower berperan mengalirkan suhu panas di dalam alat tetas otomatis, sehingga lebih rata. Selain itu, di bagian belakang mesin juga terdapat pompa pendorong untuk mendistribusikan air bila kelembapan udara itu kurang.

Tak hanya efisien dalam tenaga kerja dan meningkatkan keberhasilan penetasan telur. Alat mesin tetas otomatis karya tiga dosen Peternakan Polije yang melakukan pengabdian masyarakat tersebut juga lebih ekonomis.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Alat tetas telur itik itu berwarna perak, mirip dengan alat oven roti. Berukuran 240×260 sentimeter dan tinggi 240 sentimeter. Terdapat dua pintu di sana. Dari balik pintu pertama terlihat tumpukan telur, yang setiap dua jam sekali secara otomatis bisa dibalik. Di dalam juga terdapat dua kipas angin blower.

Sementara itu, di pintu kedua sepintas tampak sama, terdapat telur itik. Bedanya, telur itik di pintu kedua sudah siap menetas. “Kalau pintu yang pertama itu untuk yang baru. Kemudian dua sampai tiga hari sebelum menetas, telur tersebut dipindah ke pintu kedua,” kata Hariadi Subagja, dosen Jurusan Peternakan Polije.

Sederhananya, mesin tetas otomatis tersebut memiliki konsep yang sama dengan alat tetas manual yang selama ini dimiliki peternak tradisional pada umumnya. Perbedaannya, kata dia, alat manual memutar telur itik dilakukan oleh tenaga manusia yang pengalaman. Sedangkan jika pakai alat, memutar telur bisa secara otomatis.

Selain itu, kata dia, juga terdapat indikator suhu dan kelembaban udara yang tetap dibutuhkan untuk memaksimalkan penetasan telur itik. Dengan demikian, tingkat keberhasilannya jauh lebih tinggi hingga 80 persen dibanding mesin manual yang hanya 60 persen. “Penetasan itik atau telur bebek itu butuh 37 derajat dengan kelembapan 60 persen dan waktunya 28 hari,” jelasnya.

Kipas angin blower berperan mengalirkan suhu panas di dalam alat tetas otomatis, sehingga lebih rata. Selain itu, di bagian belakang mesin juga terdapat pompa pendorong untuk mendistribusikan air bila kelembapan udara itu kurang.

Tak hanya efisien dalam tenaga kerja dan meningkatkan keberhasilan penetasan telur. Alat mesin tetas otomatis karya tiga dosen Peternakan Polije yang melakukan pengabdian masyarakat tersebut juga lebih ekonomis.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Alat tetas telur itik itu berwarna perak, mirip dengan alat oven roti. Berukuran 240×260 sentimeter dan tinggi 240 sentimeter. Terdapat dua pintu di sana. Dari balik pintu pertama terlihat tumpukan telur, yang setiap dua jam sekali secara otomatis bisa dibalik. Di dalam juga terdapat dua kipas angin blower.

Sementara itu, di pintu kedua sepintas tampak sama, terdapat telur itik. Bedanya, telur itik di pintu kedua sudah siap menetas. “Kalau pintu yang pertama itu untuk yang baru. Kemudian dua sampai tiga hari sebelum menetas, telur tersebut dipindah ke pintu kedua,” kata Hariadi Subagja, dosen Jurusan Peternakan Polije.

Sederhananya, mesin tetas otomatis tersebut memiliki konsep yang sama dengan alat tetas manual yang selama ini dimiliki peternak tradisional pada umumnya. Perbedaannya, kata dia, alat manual memutar telur itik dilakukan oleh tenaga manusia yang pengalaman. Sedangkan jika pakai alat, memutar telur bisa secara otomatis.

Selain itu, kata dia, juga terdapat indikator suhu dan kelembaban udara yang tetap dibutuhkan untuk memaksimalkan penetasan telur itik. Dengan demikian, tingkat keberhasilannya jauh lebih tinggi hingga 80 persen dibanding mesin manual yang hanya 60 persen. “Penetasan itik atau telur bebek itu butuh 37 derajat dengan kelembapan 60 persen dan waktunya 28 hari,” jelasnya.

Kipas angin blower berperan mengalirkan suhu panas di dalam alat tetas otomatis, sehingga lebih rata. Selain itu, di bagian belakang mesin juga terdapat pompa pendorong untuk mendistribusikan air bila kelembapan udara itu kurang.

Tak hanya efisien dalam tenaga kerja dan meningkatkan keberhasilan penetasan telur. Alat mesin tetas otomatis karya tiga dosen Peternakan Polije yang melakukan pengabdian masyarakat tersebut juga lebih ekonomis.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/