alexametrics
29.1 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Target DP3AKB Tahun Ini dalam Pemenuhan Hak Anak

Penuhi Kriteria KLA, Punya Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – DALAM diskusi yang digelar DP3AKB tentang Rencana Aksi Daerah (RAD) KLA yang berakhir kemarin (22/10), salah satu yang menjadi evaluasi penilaian tahun ini adalah tidak adanya Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) di Jember. Di tahun ini, dinas berupaya mencetuskan APSAI, sehingga predikat Jember sebagai KLA bisa semakin meningkat.

ANAPRESENTASI RAD: Koordinator Daerah Stapa Center Ari Andriani memaparkan gagasan mengenai RAD klaster dua yang spesifik membahas hak sipil dan kebebasan anak di aula DP3AKB, kemarin (22/10)Ketua Forum Corporate Social Responsibility (CSR) Jember Agus Susanto mengungkapkan, selama ini belum ada urun rembuk antara kelompok pengusaha dan pemerintah tentang bagaimana menyukseskan KLA. Padahal, menurut dia, sekitar 70 persen animo perusahaan tertuju pada anak. “Karena tidak tahunya pemerintah dan pelaku usaha, maka tidak ada komunikasi ke arah sana,” ungkap Agus.

Dalam pembentukan APSAI, rencananya Agus akan melakukan klasifikasi dan bertemu dengan para pengusaha yang konsentrasinya pada anak. Misalnya, usaha susu anak, baju anak, dan lainnya. “Lalu dibentuk APSAI. Sebelum ketemu dengan pengusahanya, kami harus menyesuaikan dengan masing-masing klaster. Apa yang dibutuhkan oleh klaster ini sehingga kami bisa memenuhinya,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Komitmen untuk membentuk APSAI semakin menggunung setelah Jember menyandang predikat madya dalam upaya pemenuhan hak anak. Gayung pun bersambut. Optimisme itu mendapat respons baik dari berbagai pihak. Salah satunya adalah para pengusaha. Agus menambahkan, kehadiran APSAI nantinya dapat melengkapi langkah Jember dalam menata semua kesejahteraan bagi anak-anak. Pemenuhan hak anak dari berbagai sektor juga makin maksimal.

Kepala Bidang Perencanaan DP3AKB Jember Joko Sutriswanto menargetkan, pembentukan APSAI rampung sebelum berganti tahun. Dengan begitu, setelah pengukuhan, di awal tahun APSAI dapat fokus untuk merealisasikan program kegiatan. Selanjutnya, pada Juli saat ada penilaian KLA, Jember sudah siap dengan eksistensi APSAI yang mendukung predikat KLA Jember naik tingkat. Joko berharap, nantinya Forum CSR segera membuat APSAI yang akan dikolaborasikan dengan organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya.

“Kalau bisa pembentukan APSAI terlaksana pada 2021. Karena di tahun ini akan dinilai pada tahun 2022. Kalau sudah APSAI, satu poin sudah kita penuhi, yang pada tahun kemarin kita tidak punya,” bebernya.Top of Form

Minim Data

PEMBAHASAN RAD KLA rupanya masih mengalami kendala. Yaitu minimnya data tentang anggaran dan prospek program yang bersinggungan dengan anak. Ini perlu dukungan semua OPD yang terlibat. Sebab, dalam rapat RAD sesi pertama, mereka tak mengantongi data yang cukup. Bahkan pada rapat RAD hari kedua, kemarin, banyak OPD yang absen.

Koordinator Daerah Stapa Center Eri Andriani mengungkapkan, pemahaman OPD mengenai pengarusutamaan hak anak masih minim. Hal ini pula yang nantinya menjadi hambatan dalam percepatan KLA. Padahal RAD adalah platform dasar menuju KLA. RAD juga merupakan representasi bagaimana pemerintah benar-benar mau memperjuangkan hak anak. “Problemnya adalah bagaimana memberikan pemahaman pada dinas mengenai perwujudan hak anak. Karena dinas harus memahami perannya dalam memenuhi hak anak,” kata Eri.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – DALAM diskusi yang digelar DP3AKB tentang Rencana Aksi Daerah (RAD) KLA yang berakhir kemarin (22/10), salah satu yang menjadi evaluasi penilaian tahun ini adalah tidak adanya Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) di Jember. Di tahun ini, dinas berupaya mencetuskan APSAI, sehingga predikat Jember sebagai KLA bisa semakin meningkat.

ANAPRESENTASI RAD: Koordinator Daerah Stapa Center Ari Andriani memaparkan gagasan mengenai RAD klaster dua yang spesifik membahas hak sipil dan kebebasan anak di aula DP3AKB, kemarin (22/10)Ketua Forum Corporate Social Responsibility (CSR) Jember Agus Susanto mengungkapkan, selama ini belum ada urun rembuk antara kelompok pengusaha dan pemerintah tentang bagaimana menyukseskan KLA. Padahal, menurut dia, sekitar 70 persen animo perusahaan tertuju pada anak. “Karena tidak tahunya pemerintah dan pelaku usaha, maka tidak ada komunikasi ke arah sana,” ungkap Agus.

Dalam pembentukan APSAI, rencananya Agus akan melakukan klasifikasi dan bertemu dengan para pengusaha yang konsentrasinya pada anak. Misalnya, usaha susu anak, baju anak, dan lainnya. “Lalu dibentuk APSAI. Sebelum ketemu dengan pengusahanya, kami harus menyesuaikan dengan masing-masing klaster. Apa yang dibutuhkan oleh klaster ini sehingga kami bisa memenuhinya,” ujarnya.

Komitmen untuk membentuk APSAI semakin menggunung setelah Jember menyandang predikat madya dalam upaya pemenuhan hak anak. Gayung pun bersambut. Optimisme itu mendapat respons baik dari berbagai pihak. Salah satunya adalah para pengusaha. Agus menambahkan, kehadiran APSAI nantinya dapat melengkapi langkah Jember dalam menata semua kesejahteraan bagi anak-anak. Pemenuhan hak anak dari berbagai sektor juga makin maksimal.

Kepala Bidang Perencanaan DP3AKB Jember Joko Sutriswanto menargetkan, pembentukan APSAI rampung sebelum berganti tahun. Dengan begitu, setelah pengukuhan, di awal tahun APSAI dapat fokus untuk merealisasikan program kegiatan. Selanjutnya, pada Juli saat ada penilaian KLA, Jember sudah siap dengan eksistensi APSAI yang mendukung predikat KLA Jember naik tingkat. Joko berharap, nantinya Forum CSR segera membuat APSAI yang akan dikolaborasikan dengan organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya.

“Kalau bisa pembentukan APSAI terlaksana pada 2021. Karena di tahun ini akan dinilai pada tahun 2022. Kalau sudah APSAI, satu poin sudah kita penuhi, yang pada tahun kemarin kita tidak punya,” bebernya.Top of Form

Minim Data

PEMBAHASAN RAD KLA rupanya masih mengalami kendala. Yaitu minimnya data tentang anggaran dan prospek program yang bersinggungan dengan anak. Ini perlu dukungan semua OPD yang terlibat. Sebab, dalam rapat RAD sesi pertama, mereka tak mengantongi data yang cukup. Bahkan pada rapat RAD hari kedua, kemarin, banyak OPD yang absen.

Koordinator Daerah Stapa Center Eri Andriani mengungkapkan, pemahaman OPD mengenai pengarusutamaan hak anak masih minim. Hal ini pula yang nantinya menjadi hambatan dalam percepatan KLA. Padahal RAD adalah platform dasar menuju KLA. RAD juga merupakan representasi bagaimana pemerintah benar-benar mau memperjuangkan hak anak. “Problemnya adalah bagaimana memberikan pemahaman pada dinas mengenai perwujudan hak anak. Karena dinas harus memahami perannya dalam memenuhi hak anak,” kata Eri.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – DALAM diskusi yang digelar DP3AKB tentang Rencana Aksi Daerah (RAD) KLA yang berakhir kemarin (22/10), salah satu yang menjadi evaluasi penilaian tahun ini adalah tidak adanya Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) di Jember. Di tahun ini, dinas berupaya mencetuskan APSAI, sehingga predikat Jember sebagai KLA bisa semakin meningkat.

ANAPRESENTASI RAD: Koordinator Daerah Stapa Center Ari Andriani memaparkan gagasan mengenai RAD klaster dua yang spesifik membahas hak sipil dan kebebasan anak di aula DP3AKB, kemarin (22/10)Ketua Forum Corporate Social Responsibility (CSR) Jember Agus Susanto mengungkapkan, selama ini belum ada urun rembuk antara kelompok pengusaha dan pemerintah tentang bagaimana menyukseskan KLA. Padahal, menurut dia, sekitar 70 persen animo perusahaan tertuju pada anak. “Karena tidak tahunya pemerintah dan pelaku usaha, maka tidak ada komunikasi ke arah sana,” ungkap Agus.

Dalam pembentukan APSAI, rencananya Agus akan melakukan klasifikasi dan bertemu dengan para pengusaha yang konsentrasinya pada anak. Misalnya, usaha susu anak, baju anak, dan lainnya. “Lalu dibentuk APSAI. Sebelum ketemu dengan pengusahanya, kami harus menyesuaikan dengan masing-masing klaster. Apa yang dibutuhkan oleh klaster ini sehingga kami bisa memenuhinya,” ujarnya.

Komitmen untuk membentuk APSAI semakin menggunung setelah Jember menyandang predikat madya dalam upaya pemenuhan hak anak. Gayung pun bersambut. Optimisme itu mendapat respons baik dari berbagai pihak. Salah satunya adalah para pengusaha. Agus menambahkan, kehadiran APSAI nantinya dapat melengkapi langkah Jember dalam menata semua kesejahteraan bagi anak-anak. Pemenuhan hak anak dari berbagai sektor juga makin maksimal.

Kepala Bidang Perencanaan DP3AKB Jember Joko Sutriswanto menargetkan, pembentukan APSAI rampung sebelum berganti tahun. Dengan begitu, setelah pengukuhan, di awal tahun APSAI dapat fokus untuk merealisasikan program kegiatan. Selanjutnya, pada Juli saat ada penilaian KLA, Jember sudah siap dengan eksistensi APSAI yang mendukung predikat KLA Jember naik tingkat. Joko berharap, nantinya Forum CSR segera membuat APSAI yang akan dikolaborasikan dengan organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya.

“Kalau bisa pembentukan APSAI terlaksana pada 2021. Karena di tahun ini akan dinilai pada tahun 2022. Kalau sudah APSAI, satu poin sudah kita penuhi, yang pada tahun kemarin kita tidak punya,” bebernya.Top of Form

Minim Data

PEMBAHASAN RAD KLA rupanya masih mengalami kendala. Yaitu minimnya data tentang anggaran dan prospek program yang bersinggungan dengan anak. Ini perlu dukungan semua OPD yang terlibat. Sebab, dalam rapat RAD sesi pertama, mereka tak mengantongi data yang cukup. Bahkan pada rapat RAD hari kedua, kemarin, banyak OPD yang absen.

Koordinator Daerah Stapa Center Eri Andriani mengungkapkan, pemahaman OPD mengenai pengarusutamaan hak anak masih minim. Hal ini pula yang nantinya menjadi hambatan dalam percepatan KLA. Padahal RAD adalah platform dasar menuju KLA. RAD juga merupakan representasi bagaimana pemerintah benar-benar mau memperjuangkan hak anak. “Problemnya adalah bagaimana memberikan pemahaman pada dinas mengenai perwujudan hak anak. Karena dinas harus memahami perannya dalam memenuhi hak anak,” kata Eri.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/