alexametrics
24.1 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Donasi Digital, Cara Baru Bersedekah di Era 4.0

Mobile_AP_Rectangle 1

“Donasi dalam bentuk uang biasanya lebih frekuen daripada dalam bebtuk waktu. Uang dianggap sumber daya yang lebih terbatas. Sementara masyarakat tidak selalu mempersepsikan penerma bantuan berdasarkan aset yang dimiliki. Kedekatan dengan “elit”, upaya komunitas, konsepsi kemiskinan, dan informasi menjadi dasar penentuan siapa lebih berhak menerima bantuan,” lanjutnya.

Saat ini, moda pembayaran menentukan perilaku berdonasi. Pengguna non-tunai memberikan donasi lebih besar daripada pengguna tunai ketika berbelanja. Karena itu lembaga penghimpun donasi juga perlu memanfaatkan era teknologi digital untuk memudahkan pengguna. “Untuk membangun kepercayaan masyarakat, lembaga harus mendapatkan izin, menunjukkan transparansi atas target penerima, serta dukungan dari pemerintah dan pengusaha setempat,” imbuhnya.

Hal serupa juga disampaikan Ketua Bidang Pengembangan Zakat dan Wakaf DPP IAEI, Prof Dian Masyita PhD. Lembaga penghimpun donasi, kata dia, perlu mendesain atau merancang ulang produk dan jasa serta memahami perilaku masyarakat dalam berdonasi. “Selain itu juga harus mampu mengikuti dinamika ekonomi dan kondisi yang terus berubah serta menjunjung tinggi profesionalisme,” tegasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Apalagi di era Revolusi Industri 4.0, pengelolaan ekonomi syariah tentu juga harus mengikuti perkembangan teknologi. Salah satunya menyimpan big data mengenai hal-hal yang berkaitan dengan klien dari lembaga tersebut. “Ada yang namanya digitalisasi zakat, untuk mengikuti perubahan zaman,” ujarnya.

- Advertisement -

“Donasi dalam bentuk uang biasanya lebih frekuen daripada dalam bebtuk waktu. Uang dianggap sumber daya yang lebih terbatas. Sementara masyarakat tidak selalu mempersepsikan penerma bantuan berdasarkan aset yang dimiliki. Kedekatan dengan “elit”, upaya komunitas, konsepsi kemiskinan, dan informasi menjadi dasar penentuan siapa lebih berhak menerima bantuan,” lanjutnya.

Saat ini, moda pembayaran menentukan perilaku berdonasi. Pengguna non-tunai memberikan donasi lebih besar daripada pengguna tunai ketika berbelanja. Karena itu lembaga penghimpun donasi juga perlu memanfaatkan era teknologi digital untuk memudahkan pengguna. “Untuk membangun kepercayaan masyarakat, lembaga harus mendapatkan izin, menunjukkan transparansi atas target penerima, serta dukungan dari pemerintah dan pengusaha setempat,” imbuhnya.

Hal serupa juga disampaikan Ketua Bidang Pengembangan Zakat dan Wakaf DPP IAEI, Prof Dian Masyita PhD. Lembaga penghimpun donasi, kata dia, perlu mendesain atau merancang ulang produk dan jasa serta memahami perilaku masyarakat dalam berdonasi. “Selain itu juga harus mampu mengikuti dinamika ekonomi dan kondisi yang terus berubah serta menjunjung tinggi profesionalisme,” tegasnya.

Apalagi di era Revolusi Industri 4.0, pengelolaan ekonomi syariah tentu juga harus mengikuti perkembangan teknologi. Salah satunya menyimpan big data mengenai hal-hal yang berkaitan dengan klien dari lembaga tersebut. “Ada yang namanya digitalisasi zakat, untuk mengikuti perubahan zaman,” ujarnya.

“Donasi dalam bentuk uang biasanya lebih frekuen daripada dalam bebtuk waktu. Uang dianggap sumber daya yang lebih terbatas. Sementara masyarakat tidak selalu mempersepsikan penerma bantuan berdasarkan aset yang dimiliki. Kedekatan dengan “elit”, upaya komunitas, konsepsi kemiskinan, dan informasi menjadi dasar penentuan siapa lebih berhak menerima bantuan,” lanjutnya.

Saat ini, moda pembayaran menentukan perilaku berdonasi. Pengguna non-tunai memberikan donasi lebih besar daripada pengguna tunai ketika berbelanja. Karena itu lembaga penghimpun donasi juga perlu memanfaatkan era teknologi digital untuk memudahkan pengguna. “Untuk membangun kepercayaan masyarakat, lembaga harus mendapatkan izin, menunjukkan transparansi atas target penerima, serta dukungan dari pemerintah dan pengusaha setempat,” imbuhnya.

Hal serupa juga disampaikan Ketua Bidang Pengembangan Zakat dan Wakaf DPP IAEI, Prof Dian Masyita PhD. Lembaga penghimpun donasi, kata dia, perlu mendesain atau merancang ulang produk dan jasa serta memahami perilaku masyarakat dalam berdonasi. “Selain itu juga harus mampu mengikuti dinamika ekonomi dan kondisi yang terus berubah serta menjunjung tinggi profesionalisme,” tegasnya.

Apalagi di era Revolusi Industri 4.0, pengelolaan ekonomi syariah tentu juga harus mengikuti perkembangan teknologi. Salah satunya menyimpan big data mengenai hal-hal yang berkaitan dengan klien dari lembaga tersebut. “Ada yang namanya digitalisasi zakat, untuk mengikuti perubahan zaman,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/