28.2 C
Jember
Wednesday, 22 March 2023

Kenali Gejala Omicron Sebelum Terlambat

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER KIDUL, Radar Jember – Sejak Maret 2020 hingga saat ini, Indonesia masih menghadapi pandemi Covid-19. Bahkan, pada November 2021 ditemukan Varian Omicron (B.1.1.529) yang merupakan salah satu mutasi jenis Variant of Concern (VOC), yang menyebabkan lonjakan kasus Covid-19 kembali meningkat. 

Dokter Spesialis Paru RS Bina Sehat Jember dr Retna Dwi Puspitarini SpP menjelaskan, Varian Omicron berisiko lima kali lebih cepat menular dibandingkan varian lainnya, seperti delta. Resiko terpapar pun lebih tinggi pada orang yang sebelumnya pernah terkena Covid-19. 

Oleh karena itu dirinya meminta kenali gejala awal Omicron agar dapat melakukan pengobatan dan langkah pencegahan secepat mungkin. “Gejala klinis secara umum bervariasi. Di antaranya demam, nyeri kepala, nyeri otot, nyeri tenggorokan, batuk, gangguan pernapasan, gangguan penciuman (anosmia), gangguan pengecapan (hipogeusia), dan gangguan gastrointestinal,” jabarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Retna menambahkan, sering kali gejala omicron mirip dengan penyakit flu biasa sehingga sulit untuk dibedakan. Namun perbedaan ini kemungkinan dapat dilihat dari gejala spesifik antara lain nyeri telan, rasa gatal aneh di tenggorokan, kelelahan yang ekstrem, nyeri otot, keringat malam hari, batuk kering terus menerus, dan ruam biang keringat seperti cacar. “Ada pula gejala baru dari varian omicron yaitu mual dan kehilangan nafsu makan,” tuturnya.

Meski begitu, lanjut Retna, gejala yang ditimbulkan dari varian omicron lebih ringan dari varian delta. Selain itu, masa inkubasi atau munculnya gejala sejak pertama kali terpapar virus cenderung lebih cepat dibanding varian lain. Sebab, adanya efektivitas vaksinasi yang terbukti melindungi tubuh. 

Namun, seseorang yang sudah vaksinasi lengkap (dosis 1 dan 2) bisa saja terpapar varian omicron karena berkurangnya antibodi yang disebabkan oleh penurunan efikasi vaksin yang sudah diberikan. Sehingga, diperlukan booster vaksin (dosis 3). “Perlu dipahami, walaupun gejala klinis varian omicron lebih ringan dari varian delta, tetap saja dapat menyebabkan kematian. Terutama pada pasien Covid-19 yang memiliki penyakit penyerta, seperti gagal jantung, gagal ginjal, hipertensi, stroke, diabetes melitus. Gejala juga bisa lebih berat pada pasien yang belum vaksin,” terangnya.

Terakhir, Retna mengingatkan, salah satu upaya pencegahan penularan varian omicron dapat dilakukan dengan akselerasi percepatan vaksinasi. Sebab, vaksin sangat membantu mencegah gejala menjadi berat sehingga hanya menimbulkan gejala klinis yang lebih ringan. “Serta jangan bosan untuk menerapkan protokol kesehatan yaitu mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas,” pungkasnya. (kr/lin)

- Advertisement -

JEMBER KIDUL, Radar Jember – Sejak Maret 2020 hingga saat ini, Indonesia masih menghadapi pandemi Covid-19. Bahkan, pada November 2021 ditemukan Varian Omicron (B.1.1.529) yang merupakan salah satu mutasi jenis Variant of Concern (VOC), yang menyebabkan lonjakan kasus Covid-19 kembali meningkat. 

Dokter Spesialis Paru RS Bina Sehat Jember dr Retna Dwi Puspitarini SpP menjelaskan, Varian Omicron berisiko lima kali lebih cepat menular dibandingkan varian lainnya, seperti delta. Resiko terpapar pun lebih tinggi pada orang yang sebelumnya pernah terkena Covid-19. 

Oleh karena itu dirinya meminta kenali gejala awal Omicron agar dapat melakukan pengobatan dan langkah pencegahan secepat mungkin. “Gejala klinis secara umum bervariasi. Di antaranya demam, nyeri kepala, nyeri otot, nyeri tenggorokan, batuk, gangguan pernapasan, gangguan penciuman (anosmia), gangguan pengecapan (hipogeusia), dan gangguan gastrointestinal,” jabarnya.

Retna menambahkan, sering kali gejala omicron mirip dengan penyakit flu biasa sehingga sulit untuk dibedakan. Namun perbedaan ini kemungkinan dapat dilihat dari gejala spesifik antara lain nyeri telan, rasa gatal aneh di tenggorokan, kelelahan yang ekstrem, nyeri otot, keringat malam hari, batuk kering terus menerus, dan ruam biang keringat seperti cacar. “Ada pula gejala baru dari varian omicron yaitu mual dan kehilangan nafsu makan,” tuturnya.

Meski begitu, lanjut Retna, gejala yang ditimbulkan dari varian omicron lebih ringan dari varian delta. Selain itu, masa inkubasi atau munculnya gejala sejak pertama kali terpapar virus cenderung lebih cepat dibanding varian lain. Sebab, adanya efektivitas vaksinasi yang terbukti melindungi tubuh. 

Namun, seseorang yang sudah vaksinasi lengkap (dosis 1 dan 2) bisa saja terpapar varian omicron karena berkurangnya antibodi yang disebabkan oleh penurunan efikasi vaksin yang sudah diberikan. Sehingga, diperlukan booster vaksin (dosis 3). “Perlu dipahami, walaupun gejala klinis varian omicron lebih ringan dari varian delta, tetap saja dapat menyebabkan kematian. Terutama pada pasien Covid-19 yang memiliki penyakit penyerta, seperti gagal jantung, gagal ginjal, hipertensi, stroke, diabetes melitus. Gejala juga bisa lebih berat pada pasien yang belum vaksin,” terangnya.

Terakhir, Retna mengingatkan, salah satu upaya pencegahan penularan varian omicron dapat dilakukan dengan akselerasi percepatan vaksinasi. Sebab, vaksin sangat membantu mencegah gejala menjadi berat sehingga hanya menimbulkan gejala klinis yang lebih ringan. “Serta jangan bosan untuk menerapkan protokol kesehatan yaitu mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas,” pungkasnya. (kr/lin)

JEMBER KIDUL, Radar Jember – Sejak Maret 2020 hingga saat ini, Indonesia masih menghadapi pandemi Covid-19. Bahkan, pada November 2021 ditemukan Varian Omicron (B.1.1.529) yang merupakan salah satu mutasi jenis Variant of Concern (VOC), yang menyebabkan lonjakan kasus Covid-19 kembali meningkat. 

Dokter Spesialis Paru RS Bina Sehat Jember dr Retna Dwi Puspitarini SpP menjelaskan, Varian Omicron berisiko lima kali lebih cepat menular dibandingkan varian lainnya, seperti delta. Resiko terpapar pun lebih tinggi pada orang yang sebelumnya pernah terkena Covid-19. 

Oleh karena itu dirinya meminta kenali gejala awal Omicron agar dapat melakukan pengobatan dan langkah pencegahan secepat mungkin. “Gejala klinis secara umum bervariasi. Di antaranya demam, nyeri kepala, nyeri otot, nyeri tenggorokan, batuk, gangguan pernapasan, gangguan penciuman (anosmia), gangguan pengecapan (hipogeusia), dan gangguan gastrointestinal,” jabarnya.

Retna menambahkan, sering kali gejala omicron mirip dengan penyakit flu biasa sehingga sulit untuk dibedakan. Namun perbedaan ini kemungkinan dapat dilihat dari gejala spesifik antara lain nyeri telan, rasa gatal aneh di tenggorokan, kelelahan yang ekstrem, nyeri otot, keringat malam hari, batuk kering terus menerus, dan ruam biang keringat seperti cacar. “Ada pula gejala baru dari varian omicron yaitu mual dan kehilangan nafsu makan,” tuturnya.

Meski begitu, lanjut Retna, gejala yang ditimbulkan dari varian omicron lebih ringan dari varian delta. Selain itu, masa inkubasi atau munculnya gejala sejak pertama kali terpapar virus cenderung lebih cepat dibanding varian lain. Sebab, adanya efektivitas vaksinasi yang terbukti melindungi tubuh. 

Namun, seseorang yang sudah vaksinasi lengkap (dosis 1 dan 2) bisa saja terpapar varian omicron karena berkurangnya antibodi yang disebabkan oleh penurunan efikasi vaksin yang sudah diberikan. Sehingga, diperlukan booster vaksin (dosis 3). “Perlu dipahami, walaupun gejala klinis varian omicron lebih ringan dari varian delta, tetap saja dapat menyebabkan kematian. Terutama pada pasien Covid-19 yang memiliki penyakit penyerta, seperti gagal jantung, gagal ginjal, hipertensi, stroke, diabetes melitus. Gejala juga bisa lebih berat pada pasien yang belum vaksin,” terangnya.

Terakhir, Retna mengingatkan, salah satu upaya pencegahan penularan varian omicron dapat dilakukan dengan akselerasi percepatan vaksinasi. Sebab, vaksin sangat membantu mencegah gejala menjadi berat sehingga hanya menimbulkan gejala klinis yang lebih ringan. “Serta jangan bosan untuk menerapkan protokol kesehatan yaitu mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas,” pungkasnya. (kr/lin)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca