alexametrics
24.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Konsisten Berdayakan Anak Desa

Pendampingan Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Stapa Center terus konsisten melakukan pemberdayaan anak. Organisasi nirlaba yang berpusat di Bangil ini fokus terhadap pendampingan anak petani dan buruh tani tembakau di Jember. Ada lima desa di tiga kecamatan berbeda yang mendapat pendampingan. Desa Mrawan di Kecamatan Mayang, Desa Kalisat dan Gumuksari di Kecamatan Kalisat, serta Desa Pakusari dan Jatian di Kecamatan Pakusari. Lima desa ini dipilih karena menjadi salah satu kantong pertanian tembakau di Jember.

Program Manager Stapa Center Farida Hanum mengatakan, kali ini merupakan tahun kedua dari program pendampingan yang telah dijalankan. Jika sebelumnya dilakukan berbasis komunitas, kini melibatkan petani secara langsung. Menurut dia, peran petani sangat penting karena dapat mencegah anak terlibat dalam pekerjaan di sektor tembakau. “Contoh sederhananya, jika petani melarang buruh tani melibatkan anak saat bekerja, maka mereka juga tidak akan berani,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hanum menjelaskan alasan lain. Dia memaparkan, petani menjadi mitra kunci yang harus dilibatkan dalam perlindungan anak. Sebab, mereka yang saban hari berada dan tinggal di lingkungan anak. Sehingga petani ikut berkontribusi dengan merekomendasikan anak yang bakal dijangkau oleh program.

Selain itu, membantu mengomunikasikan ke buruh tani. Bahkan, ada beberapa petani yang mendukung langsung dengan meminjamkan rumahnya ditempati kegiatan belajar anak. “Petani sangat mendukung. Harapannya, ketaatan buruh tani tidak melibatkan anak saat bekerja menjadi lebih tinggi,” ucapnya.

Selain rumah, ada juga petani yang menyediakan musala untuk kegiatan. Lokasi itu dipilih karena ketika musim tembakau tidak berdekatan dengan aktivitas pertembakauan. Sehingga, ketika buruh tani sedang bekerja di sawah atau di gudang, anak-anak mereka diajak dan dilibatkan dalam kelompok belajar. “Tahun lalu, kami pakai rumah kreasi yang terpusat di satu tempat. Dan tahun ini lebih dekat dan bisa dijangkau anak. Harapannya ada keberlanjutan,” ujarnya.

Hanum optimistis program ini akan berkesinambungan. Sebab, anak belajar dan bermain di tempat biasanya mereka tinggal. Pihaknya juga melibatkan pendamping sebaya yang berasal dari anak di dusun yang sama. Usianya antara 14–17 tahun. Mereka inilah yang nantinya akan mendampingi anak-anak yang umurnya lebih muda antara 6-12 tahun atau usia SD.

“Jika berlanjut, kami sudah ada sumber daya. Sebelumnya, kami melatih para pendamping sebaya dengan metode belajar menyenangkan. Mereka juga didorong memanfaatkan teknologi guna mendukung metode belajar. Misalnya bikin konten dan materi belajar,” terangnya.

Metode belajar menyenangkan ini mendapat respons positif dari anak. Jika di awal-awal jadwal belajar bersama itu hanya sebulan sekali, kemudian mereka meminta dua pekan sekali. Dan belakangan malah seminggu sekali. Anak sangat antusias karena kegiatan itu dianggap memenuhi kebutuhan mereka. Apalagi di masa belajar daring akibat pandemi.

Meski begitu, apa yang dilakukan bukan berarti tanpa tantangan. Karena kebanyakan pesertanya masih SD, mereka tidak bisa enjoy belajar dengan model klasikal. Alternatifnya, Stapa Center mendorong para pendamping sebaya kreatif melakukan pembaruan metode belajar. “Misalnya di luar ruangan atau diajari kreasi. Karena mereka lebih senang ketimbang belajar teori,” ungkap Hanum.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Stapa Center terus konsisten melakukan pemberdayaan anak. Organisasi nirlaba yang berpusat di Bangil ini fokus terhadap pendampingan anak petani dan buruh tani tembakau di Jember. Ada lima desa di tiga kecamatan berbeda yang mendapat pendampingan. Desa Mrawan di Kecamatan Mayang, Desa Kalisat dan Gumuksari di Kecamatan Kalisat, serta Desa Pakusari dan Jatian di Kecamatan Pakusari. Lima desa ini dipilih karena menjadi salah satu kantong pertanian tembakau di Jember.

Program Manager Stapa Center Farida Hanum mengatakan, kali ini merupakan tahun kedua dari program pendampingan yang telah dijalankan. Jika sebelumnya dilakukan berbasis komunitas, kini melibatkan petani secara langsung. Menurut dia, peran petani sangat penting karena dapat mencegah anak terlibat dalam pekerjaan di sektor tembakau. “Contoh sederhananya, jika petani melarang buruh tani melibatkan anak saat bekerja, maka mereka juga tidak akan berani,” katanya.

Hanum menjelaskan alasan lain. Dia memaparkan, petani menjadi mitra kunci yang harus dilibatkan dalam perlindungan anak. Sebab, mereka yang saban hari berada dan tinggal di lingkungan anak. Sehingga petani ikut berkontribusi dengan merekomendasikan anak yang bakal dijangkau oleh program.

Selain itu, membantu mengomunikasikan ke buruh tani. Bahkan, ada beberapa petani yang mendukung langsung dengan meminjamkan rumahnya ditempati kegiatan belajar anak. “Petani sangat mendukung. Harapannya, ketaatan buruh tani tidak melibatkan anak saat bekerja menjadi lebih tinggi,” ucapnya.

Selain rumah, ada juga petani yang menyediakan musala untuk kegiatan. Lokasi itu dipilih karena ketika musim tembakau tidak berdekatan dengan aktivitas pertembakauan. Sehingga, ketika buruh tani sedang bekerja di sawah atau di gudang, anak-anak mereka diajak dan dilibatkan dalam kelompok belajar. “Tahun lalu, kami pakai rumah kreasi yang terpusat di satu tempat. Dan tahun ini lebih dekat dan bisa dijangkau anak. Harapannya ada keberlanjutan,” ujarnya.

Hanum optimistis program ini akan berkesinambungan. Sebab, anak belajar dan bermain di tempat biasanya mereka tinggal. Pihaknya juga melibatkan pendamping sebaya yang berasal dari anak di dusun yang sama. Usianya antara 14–17 tahun. Mereka inilah yang nantinya akan mendampingi anak-anak yang umurnya lebih muda antara 6-12 tahun atau usia SD.

“Jika berlanjut, kami sudah ada sumber daya. Sebelumnya, kami melatih para pendamping sebaya dengan metode belajar menyenangkan. Mereka juga didorong memanfaatkan teknologi guna mendukung metode belajar. Misalnya bikin konten dan materi belajar,” terangnya.

Metode belajar menyenangkan ini mendapat respons positif dari anak. Jika di awal-awal jadwal belajar bersama itu hanya sebulan sekali, kemudian mereka meminta dua pekan sekali. Dan belakangan malah seminggu sekali. Anak sangat antusias karena kegiatan itu dianggap memenuhi kebutuhan mereka. Apalagi di masa belajar daring akibat pandemi.

Meski begitu, apa yang dilakukan bukan berarti tanpa tantangan. Karena kebanyakan pesertanya masih SD, mereka tidak bisa enjoy belajar dengan model klasikal. Alternatifnya, Stapa Center mendorong para pendamping sebaya kreatif melakukan pembaruan metode belajar. “Misalnya di luar ruangan atau diajari kreasi. Karena mereka lebih senang ketimbang belajar teori,” ungkap Hanum.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Stapa Center terus konsisten melakukan pemberdayaan anak. Organisasi nirlaba yang berpusat di Bangil ini fokus terhadap pendampingan anak petani dan buruh tani tembakau di Jember. Ada lima desa di tiga kecamatan berbeda yang mendapat pendampingan. Desa Mrawan di Kecamatan Mayang, Desa Kalisat dan Gumuksari di Kecamatan Kalisat, serta Desa Pakusari dan Jatian di Kecamatan Pakusari. Lima desa ini dipilih karena menjadi salah satu kantong pertanian tembakau di Jember.

Program Manager Stapa Center Farida Hanum mengatakan, kali ini merupakan tahun kedua dari program pendampingan yang telah dijalankan. Jika sebelumnya dilakukan berbasis komunitas, kini melibatkan petani secara langsung. Menurut dia, peran petani sangat penting karena dapat mencegah anak terlibat dalam pekerjaan di sektor tembakau. “Contoh sederhananya, jika petani melarang buruh tani melibatkan anak saat bekerja, maka mereka juga tidak akan berani,” katanya.

Hanum menjelaskan alasan lain. Dia memaparkan, petani menjadi mitra kunci yang harus dilibatkan dalam perlindungan anak. Sebab, mereka yang saban hari berada dan tinggal di lingkungan anak. Sehingga petani ikut berkontribusi dengan merekomendasikan anak yang bakal dijangkau oleh program.

Selain itu, membantu mengomunikasikan ke buruh tani. Bahkan, ada beberapa petani yang mendukung langsung dengan meminjamkan rumahnya ditempati kegiatan belajar anak. “Petani sangat mendukung. Harapannya, ketaatan buruh tani tidak melibatkan anak saat bekerja menjadi lebih tinggi,” ucapnya.

Selain rumah, ada juga petani yang menyediakan musala untuk kegiatan. Lokasi itu dipilih karena ketika musim tembakau tidak berdekatan dengan aktivitas pertembakauan. Sehingga, ketika buruh tani sedang bekerja di sawah atau di gudang, anak-anak mereka diajak dan dilibatkan dalam kelompok belajar. “Tahun lalu, kami pakai rumah kreasi yang terpusat di satu tempat. Dan tahun ini lebih dekat dan bisa dijangkau anak. Harapannya ada keberlanjutan,” ujarnya.

Hanum optimistis program ini akan berkesinambungan. Sebab, anak belajar dan bermain di tempat biasanya mereka tinggal. Pihaknya juga melibatkan pendamping sebaya yang berasal dari anak di dusun yang sama. Usianya antara 14–17 tahun. Mereka inilah yang nantinya akan mendampingi anak-anak yang umurnya lebih muda antara 6-12 tahun atau usia SD.

“Jika berlanjut, kami sudah ada sumber daya. Sebelumnya, kami melatih para pendamping sebaya dengan metode belajar menyenangkan. Mereka juga didorong memanfaatkan teknologi guna mendukung metode belajar. Misalnya bikin konten dan materi belajar,” terangnya.

Metode belajar menyenangkan ini mendapat respons positif dari anak. Jika di awal-awal jadwal belajar bersama itu hanya sebulan sekali, kemudian mereka meminta dua pekan sekali. Dan belakangan malah seminggu sekali. Anak sangat antusias karena kegiatan itu dianggap memenuhi kebutuhan mereka. Apalagi di masa belajar daring akibat pandemi.

Meski begitu, apa yang dilakukan bukan berarti tanpa tantangan. Karena kebanyakan pesertanya masih SD, mereka tidak bisa enjoy belajar dengan model klasikal. Alternatifnya, Stapa Center mendorong para pendamping sebaya kreatif melakukan pembaruan metode belajar. “Misalnya di luar ruangan atau diajari kreasi. Karena mereka lebih senang ketimbang belajar teori,” ungkap Hanum.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/