alexametrics
24.1 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Santri Nuris Borong Tujuh Piala Porseni Tingkat Kabupaten

Berjuang untuk Tembus Tingkat Provinsi

Mobile_AP_Rectangle 1

Zaky Fahmi Humaidi, peraih juara 1 pidato bahasa Inggris, mengakui dirinya memang sudah langganan mendapat juara. Namun, dia merasa tak boleh puas akan capaiannya. Apalagi, dia memang menyukai public speaking. Tentu harus terus dilatih dan ditekuni.

Zaky mengatakan, bakat yang dia miliki tersebut juga tak akan berkembang jika tidak dipupuk dengan banyak latihan. Beruntung baginya, sebab lembaga pendidikan tempat dia mencari ilmu itu memberikan kebebasan serta fasilitas belajar sesuai yang ia butuhkan dalam mengasah skill itu. “Saya punya ruang gerak yang luas jika belajar di sini, dan saya bangga bisa mengharumkan nama sekolah juga orang tua di rumah,” tutur Zaky.

Begitu juga dengan Royhan Afthon Syadida, pemenang lomba pidato bahasa Arab ini mengaku dirinya mulai menyukai bahasa Arab sejak menjadi santri di Ponpes Nuris Jember. Bahasa Arab sudah layaknya menjadi makanan sehari-hari baginya. Di pesantren, sekolah, juga dalam ekstrakurikuler. Itulah yang membuat Royhan terus bersemangat meraih juara dalam setiap lomba yang dia ikuti. “Tinggal menambahi dengan belajar sendiri, belajar untuk perform, karena di sini sudah menjadi kebiasaan, harus belajar bahasa Arab di pondok, dan di sekolah juga ada guru yang membimbing,” sebutnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sedangkan Dinan Farah Sairina menyebut, keberhasilannya itu tentu bukan hanya berkat dirinya. Ada peran guru dan dukungan orang tua yang selalu menyertai setiap usahnya. Apalagi, cipta-baca puisi ini tak sekadar seni mengolah kata, namun juga menyelaraskan kalimat demi kalimat, bait demi bait sesuai dengan makna ayat Alquran yang ia pilih.

“Saya perlu banyak membaca. Selain itu, juga harus bisa menjiwai puisi yang saya ciptakan. Oleh karena itu, saya sangat senang karena guru-guru di sekolah ini sangat sabar membimbing saya, mengoreksi dan menilai puisi saya sampai menjadi bagus dan sesuai dengan makna ayat-Nya,” tutupnya. (kl/del/c2/lin)

- Advertisement -

Zaky Fahmi Humaidi, peraih juara 1 pidato bahasa Inggris, mengakui dirinya memang sudah langganan mendapat juara. Namun, dia merasa tak boleh puas akan capaiannya. Apalagi, dia memang menyukai public speaking. Tentu harus terus dilatih dan ditekuni.

Zaky mengatakan, bakat yang dia miliki tersebut juga tak akan berkembang jika tidak dipupuk dengan banyak latihan. Beruntung baginya, sebab lembaga pendidikan tempat dia mencari ilmu itu memberikan kebebasan serta fasilitas belajar sesuai yang ia butuhkan dalam mengasah skill itu. “Saya punya ruang gerak yang luas jika belajar di sini, dan saya bangga bisa mengharumkan nama sekolah juga orang tua di rumah,” tutur Zaky.

Begitu juga dengan Royhan Afthon Syadida, pemenang lomba pidato bahasa Arab ini mengaku dirinya mulai menyukai bahasa Arab sejak menjadi santri di Ponpes Nuris Jember. Bahasa Arab sudah layaknya menjadi makanan sehari-hari baginya. Di pesantren, sekolah, juga dalam ekstrakurikuler. Itulah yang membuat Royhan terus bersemangat meraih juara dalam setiap lomba yang dia ikuti. “Tinggal menambahi dengan belajar sendiri, belajar untuk perform, karena di sini sudah menjadi kebiasaan, harus belajar bahasa Arab di pondok, dan di sekolah juga ada guru yang membimbing,” sebutnya.

Sedangkan Dinan Farah Sairina menyebut, keberhasilannya itu tentu bukan hanya berkat dirinya. Ada peran guru dan dukungan orang tua yang selalu menyertai setiap usahnya. Apalagi, cipta-baca puisi ini tak sekadar seni mengolah kata, namun juga menyelaraskan kalimat demi kalimat, bait demi bait sesuai dengan makna ayat Alquran yang ia pilih.

“Saya perlu banyak membaca. Selain itu, juga harus bisa menjiwai puisi yang saya ciptakan. Oleh karena itu, saya sangat senang karena guru-guru di sekolah ini sangat sabar membimbing saya, mengoreksi dan menilai puisi saya sampai menjadi bagus dan sesuai dengan makna ayat-Nya,” tutupnya. (kl/del/c2/lin)

Zaky Fahmi Humaidi, peraih juara 1 pidato bahasa Inggris, mengakui dirinya memang sudah langganan mendapat juara. Namun, dia merasa tak boleh puas akan capaiannya. Apalagi, dia memang menyukai public speaking. Tentu harus terus dilatih dan ditekuni.

Zaky mengatakan, bakat yang dia miliki tersebut juga tak akan berkembang jika tidak dipupuk dengan banyak latihan. Beruntung baginya, sebab lembaga pendidikan tempat dia mencari ilmu itu memberikan kebebasan serta fasilitas belajar sesuai yang ia butuhkan dalam mengasah skill itu. “Saya punya ruang gerak yang luas jika belajar di sini, dan saya bangga bisa mengharumkan nama sekolah juga orang tua di rumah,” tutur Zaky.

Begitu juga dengan Royhan Afthon Syadida, pemenang lomba pidato bahasa Arab ini mengaku dirinya mulai menyukai bahasa Arab sejak menjadi santri di Ponpes Nuris Jember. Bahasa Arab sudah layaknya menjadi makanan sehari-hari baginya. Di pesantren, sekolah, juga dalam ekstrakurikuler. Itulah yang membuat Royhan terus bersemangat meraih juara dalam setiap lomba yang dia ikuti. “Tinggal menambahi dengan belajar sendiri, belajar untuk perform, karena di sini sudah menjadi kebiasaan, harus belajar bahasa Arab di pondok, dan di sekolah juga ada guru yang membimbing,” sebutnya.

Sedangkan Dinan Farah Sairina menyebut, keberhasilannya itu tentu bukan hanya berkat dirinya. Ada peran guru dan dukungan orang tua yang selalu menyertai setiap usahnya. Apalagi, cipta-baca puisi ini tak sekadar seni mengolah kata, namun juga menyelaraskan kalimat demi kalimat, bait demi bait sesuai dengan makna ayat Alquran yang ia pilih.

“Saya perlu banyak membaca. Selain itu, juga harus bisa menjiwai puisi yang saya ciptakan. Oleh karena itu, saya sangat senang karena guru-guru di sekolah ini sangat sabar membimbing saya, mengoreksi dan menilai puisi saya sampai menjadi bagus dan sesuai dengan makna ayat-Nya,” tutupnya. (kl/del/c2/lin)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/