alexametrics
27.9 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Jujukan Pembelajaran Berbagai Politeknik di Bawah Kementerian Pertanian

Keberhasilan Politeknik Negeri Jember (Polije) mengembangkan Teaching Factory (Tefa) kerap menjadi jujukan pembelajaran dari instansi luar hingga pemerintahan. Kini, giliran delapan politeknik di bawah naungan Kementerian Pertanian (Kementan) yang langsung sharing lapangan. Bagaimana Tefa Polije ini?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – UPT Pengembangan Pertanian yang terdapat Tefa Pakan Ternak menjadi lokasi kunjungan pertama dari delapan kampus politeknik di bawah naungan Kementan. Ruangan Tefa pakan ternak yang berada tepat di depan Gedung Teknologi Informasi (TI) Polije tersebut sama seperti pabrik pada umumnya. Alat-alat besar yang mengolah bahan baku pakan ternak menjadi granul pun beroperasi.

Cukup banyak peserta rapat koordinasi (rakor) pembahasan pengelolaan Tefa dari Pusat Pendidikan Pertanian, Kementan, tersebut. Mereka melihat lebih dekat, hingga merekam dengan kamera ponselnya. Setelah cukup lama memantau langsung bagaimana pengembangan industri pakan ternak yang berada di dalam kampus. Para peserta rakor dari berbagai politeknik di Indonesia, mulai dari Manokwari, Bogor, Malang, Gowa, hingga Medan tersebut, juga mulai menuju Tefa Smart Green House (SGH) Polije.

Melewati pepohonan sawit hingga kopi, para peserta disambut oleh pengelola SGH Polije. “Ini Tefa Smart Green House yang memadukan keilmuan pertanian dengan teknologi informasi,” terang Fendi Hermawan, Koordinator Lapang SGH Polije.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, SGH ini memakai dua sistem otomatisasi. Pertama, berkaitan otomatisasi irigasi dan pemupukan. Berikutnya, otomatisasi yang berkaitan dengan iklim mikro. “Iklim mikro SGH ini kami atur sesuai dengan kebutuhan tanaman,” paparnya.

Artinya, suhu yang berada di dalam SGH tersebut diatur sedemikian rupa, termasuk tingkat kelembapan udaranya. Para peserta juga melihat langsung bagaimana sistem irigasi dan pemupukan. SGH Polije yang menanam buah melon itu, untuk media tanam memakai cocopeat dan sedikit sekam bakar. “Media tanam di polybag dengan cocopeat dan sedikit sekam bakar,” paparnya. Setiap polybag tersebut juga terdapat selang yang mampu mendistribusikan air dan pupuk.

Koordinator Kelembagaan Pusat Pendidikan Pertanian Kementan RI Ismaya Parawansa menyampaikan terima kasih kepada Polije yang telah memberikan langsung gambaran pengembangan Tefa di politeknik. “Terima kasih yang tak terhingga bisa berkunjung ke Polije,” katanya.

Kedatangannya ke Polije tersebut juga bersama Politeknik Pembangunan Pertanian, dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) yang berada di Serpong. Tujuannya untuk melakukan perbaikan dan pedoman bagi pengembangan Tefa. Sehingga, perlu melihat langsung bagaimana Tefa yang telah dikembangkan oleh Polije. “Untuk lebih dekat dan mengenal lebih jauh lagi bagaimana Tefa di Polije ini,” ucapnya.

Dia mengakui, Tefa SGH di Polije ini sangat dekat dengan keilmuan pertanian. Sedangkan untuk Tefa pakan ternak juga dekat dengan keilmuan di Program Studi Pembangunan Pertanian. “Tefa di Polije ini bisa jadi pembanding dan penyusunan pengembangan Tefa,” terangnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – UPT Pengembangan Pertanian yang terdapat Tefa Pakan Ternak menjadi lokasi kunjungan pertama dari delapan kampus politeknik di bawah naungan Kementan. Ruangan Tefa pakan ternak yang berada tepat di depan Gedung Teknologi Informasi (TI) Polije tersebut sama seperti pabrik pada umumnya. Alat-alat besar yang mengolah bahan baku pakan ternak menjadi granul pun beroperasi.

Cukup banyak peserta rapat koordinasi (rakor) pembahasan pengelolaan Tefa dari Pusat Pendidikan Pertanian, Kementan, tersebut. Mereka melihat lebih dekat, hingga merekam dengan kamera ponselnya. Setelah cukup lama memantau langsung bagaimana pengembangan industri pakan ternak yang berada di dalam kampus. Para peserta rakor dari berbagai politeknik di Indonesia, mulai dari Manokwari, Bogor, Malang, Gowa, hingga Medan tersebut, juga mulai menuju Tefa Smart Green House (SGH) Polije.

Melewati pepohonan sawit hingga kopi, para peserta disambut oleh pengelola SGH Polije. “Ini Tefa Smart Green House yang memadukan keilmuan pertanian dengan teknologi informasi,” terang Fendi Hermawan, Koordinator Lapang SGH Polije.

Dia menjelaskan, SGH ini memakai dua sistem otomatisasi. Pertama, berkaitan otomatisasi irigasi dan pemupukan. Berikutnya, otomatisasi yang berkaitan dengan iklim mikro. “Iklim mikro SGH ini kami atur sesuai dengan kebutuhan tanaman,” paparnya.

Artinya, suhu yang berada di dalam SGH tersebut diatur sedemikian rupa, termasuk tingkat kelembapan udaranya. Para peserta juga melihat langsung bagaimana sistem irigasi dan pemupukan. SGH Polije yang menanam buah melon itu, untuk media tanam memakai cocopeat dan sedikit sekam bakar. “Media tanam di polybag dengan cocopeat dan sedikit sekam bakar,” paparnya. Setiap polybag tersebut juga terdapat selang yang mampu mendistribusikan air dan pupuk.

Koordinator Kelembagaan Pusat Pendidikan Pertanian Kementan RI Ismaya Parawansa menyampaikan terima kasih kepada Polije yang telah memberikan langsung gambaran pengembangan Tefa di politeknik. “Terima kasih yang tak terhingga bisa berkunjung ke Polije,” katanya.

Kedatangannya ke Polije tersebut juga bersama Politeknik Pembangunan Pertanian, dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) yang berada di Serpong. Tujuannya untuk melakukan perbaikan dan pedoman bagi pengembangan Tefa. Sehingga, perlu melihat langsung bagaimana Tefa yang telah dikembangkan oleh Polije. “Untuk lebih dekat dan mengenal lebih jauh lagi bagaimana Tefa di Polije ini,” ucapnya.

Dia mengakui, Tefa SGH di Polije ini sangat dekat dengan keilmuan pertanian. Sedangkan untuk Tefa pakan ternak juga dekat dengan keilmuan di Program Studi Pembangunan Pertanian. “Tefa di Polije ini bisa jadi pembanding dan penyusunan pengembangan Tefa,” terangnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – UPT Pengembangan Pertanian yang terdapat Tefa Pakan Ternak menjadi lokasi kunjungan pertama dari delapan kampus politeknik di bawah naungan Kementan. Ruangan Tefa pakan ternak yang berada tepat di depan Gedung Teknologi Informasi (TI) Polije tersebut sama seperti pabrik pada umumnya. Alat-alat besar yang mengolah bahan baku pakan ternak menjadi granul pun beroperasi.

Cukup banyak peserta rapat koordinasi (rakor) pembahasan pengelolaan Tefa dari Pusat Pendidikan Pertanian, Kementan, tersebut. Mereka melihat lebih dekat, hingga merekam dengan kamera ponselnya. Setelah cukup lama memantau langsung bagaimana pengembangan industri pakan ternak yang berada di dalam kampus. Para peserta rakor dari berbagai politeknik di Indonesia, mulai dari Manokwari, Bogor, Malang, Gowa, hingga Medan tersebut, juga mulai menuju Tefa Smart Green House (SGH) Polije.

Melewati pepohonan sawit hingga kopi, para peserta disambut oleh pengelola SGH Polije. “Ini Tefa Smart Green House yang memadukan keilmuan pertanian dengan teknologi informasi,” terang Fendi Hermawan, Koordinator Lapang SGH Polije.

Dia menjelaskan, SGH ini memakai dua sistem otomatisasi. Pertama, berkaitan otomatisasi irigasi dan pemupukan. Berikutnya, otomatisasi yang berkaitan dengan iklim mikro. “Iklim mikro SGH ini kami atur sesuai dengan kebutuhan tanaman,” paparnya.

Artinya, suhu yang berada di dalam SGH tersebut diatur sedemikian rupa, termasuk tingkat kelembapan udaranya. Para peserta juga melihat langsung bagaimana sistem irigasi dan pemupukan. SGH Polije yang menanam buah melon itu, untuk media tanam memakai cocopeat dan sedikit sekam bakar. “Media tanam di polybag dengan cocopeat dan sedikit sekam bakar,” paparnya. Setiap polybag tersebut juga terdapat selang yang mampu mendistribusikan air dan pupuk.

Koordinator Kelembagaan Pusat Pendidikan Pertanian Kementan RI Ismaya Parawansa menyampaikan terima kasih kepada Polije yang telah memberikan langsung gambaran pengembangan Tefa di politeknik. “Terima kasih yang tak terhingga bisa berkunjung ke Polije,” katanya.

Kedatangannya ke Polije tersebut juga bersama Politeknik Pembangunan Pertanian, dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) yang berada di Serpong. Tujuannya untuk melakukan perbaikan dan pedoman bagi pengembangan Tefa. Sehingga, perlu melihat langsung bagaimana Tefa yang telah dikembangkan oleh Polije. “Untuk lebih dekat dan mengenal lebih jauh lagi bagaimana Tefa di Polije ini,” ucapnya.

Dia mengakui, Tefa SGH di Polije ini sangat dekat dengan keilmuan pertanian. Sedangkan untuk Tefa pakan ternak juga dekat dengan keilmuan di Program Studi Pembangunan Pertanian. “Tefa di Polije ini bisa jadi pembanding dan penyusunan pengembangan Tefa,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/