alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Fikes Unmuh Jember Serukan Nakes Tangani AKI/AKB

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tingginya angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Kabupaten Jember menjadi fokus tersendiri bagi dunia kesehatan. Menduduki urutan pertama di Jawa Timur dengan kasus tertinggi sebesar 44 kejadian selama satu tahun, disusul dengan Kabupaten Bojonegoro dengan 28 kasus per tahun.

Unmuh Jember Kembangkan Potensi Atlet Tapak Suci

Berangkat dari fakta itu, Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menggelar Webinar Keperawatan Nasional bertema Sinergisitas Petugas Kesehatan dengan Elemen Masyarakat untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), secara hybrid, Sabtu, 13 Agustus. Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jember Ns Eko Mustakim SKep MMKes menyerukan agar para tenaga kesehatan senantiasa membantu pemerintah menekan kasus AKI maupun AKB. “Inilah saatnya bersinergi dengan pemerintahan,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Eko, banyak faktor yang memengaruhi kesehatan ibu hamil. Di antaranya pengetahuan tentang kesehatan kehamilan dan faktor usia. Karena itu, peran tenaga kesehatan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dengan lebih mendekatkan dengan masyarakat dirasa penting. “Wes wayahe Jember sehat, wes wayahe perawat dekat dengan masyarakat,” kata Eko.

Sementara itu, Dekan Fikes Unmuh Jember Ns Sasmiyanto Skep MKes menilai, AKI dan AKB berpengaruh pada kondisi generasi pada masa depan. Sebab, mereka dibentuk dari ibu, sejak anak dalam kandungan. Karena itu pula, lanjut dia, persoalan AKI dan AKB itu menjadi permasalahan serius bagi pemerintah daerah. “Ini merupakan hal serius, harus ditangani dengan benar untuk membawa masyarakat sejahtera, dengan memulai menciptakan kesehatan yang optimal,” katanya.

Dari segi medis, pendarahan post partum (PPH) dan preeklamsia menjadi faktor tertinggi AKI. Sementara, faktor nonmedis, dijelaskan oleh Prof Dr Nyoman Anita drg MS bahwa ada sebagian masyarakat yang menolak pengobatan lebih lanjut, yang memicu keterlambatan penanganan. “Faktor biaya juga sangat berpengaruh terhadap AKI bagi masyarakat menengah bawah,” katanya.

Lebih lanjut, Wakil Dekan 1 Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga tersebut itu menilai, makes memiliki peran besar sebagai penolong dengan menjaga kualitas pelayanan. Ia juga memaparkan empat langkah untuk meningkatkan pelayanan. Yaitu peningkatan akses pelayanan kesehatan semesta, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan tata kelola.

Sebagaimana diketahui, arah kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang paling utama ialah peningkatan kesehatan ibu, anak, KB, dan kesehatan reproduksi. Kemudian disusul dengan percepatan perbaikan gizi masyarakat, peningkatan pengendalian penyakit, penguatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), serta peningkatan pelayanan kesehatan, dan pengawasan obat dan makanan.

Jurnalis: Maulana
Fotografer: HUMAS FOR RADAR JEMBER

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tingginya angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Kabupaten Jember menjadi fokus tersendiri bagi dunia kesehatan. Menduduki urutan pertama di Jawa Timur dengan kasus tertinggi sebesar 44 kejadian selama satu tahun, disusul dengan Kabupaten Bojonegoro dengan 28 kasus per tahun.

Unmuh Jember Kembangkan Potensi Atlet Tapak Suci

Berangkat dari fakta itu, Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menggelar Webinar Keperawatan Nasional bertema Sinergisitas Petugas Kesehatan dengan Elemen Masyarakat untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), secara hybrid, Sabtu, 13 Agustus. Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jember Ns Eko Mustakim SKep MMKes menyerukan agar para tenaga kesehatan senantiasa membantu pemerintah menekan kasus AKI maupun AKB. “Inilah saatnya bersinergi dengan pemerintahan,” katanya.

Menurut Eko, banyak faktor yang memengaruhi kesehatan ibu hamil. Di antaranya pengetahuan tentang kesehatan kehamilan dan faktor usia. Karena itu, peran tenaga kesehatan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dengan lebih mendekatkan dengan masyarakat dirasa penting. “Wes wayahe Jember sehat, wes wayahe perawat dekat dengan masyarakat,” kata Eko.

Sementara itu, Dekan Fikes Unmuh Jember Ns Sasmiyanto Skep MKes menilai, AKI dan AKB berpengaruh pada kondisi generasi pada masa depan. Sebab, mereka dibentuk dari ibu, sejak anak dalam kandungan. Karena itu pula, lanjut dia, persoalan AKI dan AKB itu menjadi permasalahan serius bagi pemerintah daerah. “Ini merupakan hal serius, harus ditangani dengan benar untuk membawa masyarakat sejahtera, dengan memulai menciptakan kesehatan yang optimal,” katanya.

Dari segi medis, pendarahan post partum (PPH) dan preeklamsia menjadi faktor tertinggi AKI. Sementara, faktor nonmedis, dijelaskan oleh Prof Dr Nyoman Anita drg MS bahwa ada sebagian masyarakat yang menolak pengobatan lebih lanjut, yang memicu keterlambatan penanganan. “Faktor biaya juga sangat berpengaruh terhadap AKI bagi masyarakat menengah bawah,” katanya.

Lebih lanjut, Wakil Dekan 1 Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga tersebut itu menilai, makes memiliki peran besar sebagai penolong dengan menjaga kualitas pelayanan. Ia juga memaparkan empat langkah untuk meningkatkan pelayanan. Yaitu peningkatan akses pelayanan kesehatan semesta, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan tata kelola.

Sebagaimana diketahui, arah kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang paling utama ialah peningkatan kesehatan ibu, anak, KB, dan kesehatan reproduksi. Kemudian disusul dengan percepatan perbaikan gizi masyarakat, peningkatan pengendalian penyakit, penguatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), serta peningkatan pelayanan kesehatan, dan pengawasan obat dan makanan.

Jurnalis: Maulana
Fotografer: HUMAS FOR RADAR JEMBER

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tingginya angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Kabupaten Jember menjadi fokus tersendiri bagi dunia kesehatan. Menduduki urutan pertama di Jawa Timur dengan kasus tertinggi sebesar 44 kejadian selama satu tahun, disusul dengan Kabupaten Bojonegoro dengan 28 kasus per tahun.

Unmuh Jember Kembangkan Potensi Atlet Tapak Suci

Berangkat dari fakta itu, Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menggelar Webinar Keperawatan Nasional bertema Sinergisitas Petugas Kesehatan dengan Elemen Masyarakat untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), secara hybrid, Sabtu, 13 Agustus. Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jember Ns Eko Mustakim SKep MMKes menyerukan agar para tenaga kesehatan senantiasa membantu pemerintah menekan kasus AKI maupun AKB. “Inilah saatnya bersinergi dengan pemerintahan,” katanya.

Menurut Eko, banyak faktor yang memengaruhi kesehatan ibu hamil. Di antaranya pengetahuan tentang kesehatan kehamilan dan faktor usia. Karena itu, peran tenaga kesehatan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dengan lebih mendekatkan dengan masyarakat dirasa penting. “Wes wayahe Jember sehat, wes wayahe perawat dekat dengan masyarakat,” kata Eko.

Sementara itu, Dekan Fikes Unmuh Jember Ns Sasmiyanto Skep MKes menilai, AKI dan AKB berpengaruh pada kondisi generasi pada masa depan. Sebab, mereka dibentuk dari ibu, sejak anak dalam kandungan. Karena itu pula, lanjut dia, persoalan AKI dan AKB itu menjadi permasalahan serius bagi pemerintah daerah. “Ini merupakan hal serius, harus ditangani dengan benar untuk membawa masyarakat sejahtera, dengan memulai menciptakan kesehatan yang optimal,” katanya.

Dari segi medis, pendarahan post partum (PPH) dan preeklamsia menjadi faktor tertinggi AKI. Sementara, faktor nonmedis, dijelaskan oleh Prof Dr Nyoman Anita drg MS bahwa ada sebagian masyarakat yang menolak pengobatan lebih lanjut, yang memicu keterlambatan penanganan. “Faktor biaya juga sangat berpengaruh terhadap AKI bagi masyarakat menengah bawah,” katanya.

Lebih lanjut, Wakil Dekan 1 Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga tersebut itu menilai, makes memiliki peran besar sebagai penolong dengan menjaga kualitas pelayanan. Ia juga memaparkan empat langkah untuk meningkatkan pelayanan. Yaitu peningkatan akses pelayanan kesehatan semesta, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan tata kelola.

Sebagaimana diketahui, arah kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang paling utama ialah peningkatan kesehatan ibu, anak, KB, dan kesehatan reproduksi. Kemudian disusul dengan percepatan perbaikan gizi masyarakat, peningkatan pengendalian penyakit, penguatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), serta peningkatan pelayanan kesehatan, dan pengawasan obat dan makanan.

Jurnalis: Maulana
Fotografer: HUMAS FOR RADAR JEMBER

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/